Salah satu prinsip yang kuat tertanam dalam diri Blater, yaitu Blater mengeramatkan sosok Ibu. Saking pentingnya sosok Ibu dalam hati Blater, menempatkan keridhoan Ibunya paling utama daripada sosok Ayahnya. Nah, ternyata prinsip Blater mengeramatkan sosok Ibu ini, merupakan kepanjangan peradaban semua bangsa di dunia.
Penghormatan kepada sosok Ibu berlangsung hampir lama di semua peradaban bangsa. Perbuatan Blater mengeramatkan sosok Ibu melanjutkan nilai peradaban itu. Sosok Ibu dalam semua peradaban dicitrakan sebagai sosok Agung dengan keceriaan, kesabaran, kelembutan, ketulusan, keluhuran, keserba-bisaan, kemarahan, dan pengorbanan.
Representasi keagungan sosok Ibu sangat bergantung dengan kesepakatan nilai baik-buruk pada ruang-waktu yang berbeda dari masa ke masa. Sebagaimana pendapat Shari L. Truner yang dikutip oleh Riama maslan dkk, bahwa pemodelan sosok Ibu pada zaman dan ditempat yang berbeda, satu sama lain memiliki mitos dan strereotip yang berbeda pula (Riama Maslan dkk, 2015). Maka dari itu, di berbagai tempat di dunia dijumpai perbedaan wujud representasi sosok Ibu.
Sejak masa pra sejarah, kurang lebih 2000 SM yaitu di masa Paleotikum, Ibu atau dewi-dewi merupakan representasi semesta yang terbangun dari entitas yang organik, hidup dan suci. Jejak dalam bentuk artefak-artefak berupa patung dan gambar yang menyimbolkan sebagai sosok perempuan yang melahirkan alam semesta dengan penuh keharmonisan.
Tapi terjadi peralihan sesudah memasuki tahun Masehi, sejak bangsa Arya dan Semit muncul. Gambaran simbol Ibu atau dewi digantikan simbol Ayah atau dewa langit yang penuh kekerasan, membangun kepercayaan berdasarkan kurban, dan struktur sosial yang patriarki (Riama Maslan dkk, 2015).
Dalam mitologi Mesir kuno, ada Dewi Isis yang digambarkan sebagai Ibu yang penyayang dan memiliki kesuburan yang disebarkan ke seluruh alam semesta. Di Mesopotamia dikenal dewi Ninmah simbol kehamilan dan kelahiran.
Sedangkan mitologi Yunani ada Aphrodite, Artemis, Demeter, Gaia, dan Rhen. Semuanya merupakan mitos Ibu Bumi yang menyimbolkan cinta, kasih sayang dan keharmonisan. Mitologi Romawi terdapat mitos dewi Bona Dea, Ceres Cybele, Fauna, dan Tellus/Terra yang menyimbolkan sebagai Ibu Bumi yang berpengaruh pada kesehatan, kelahiran, keagungan, kesucian, dan kesuburan tanah.
Sedangkan gambaran sosok Ibu dalam mitologi dunia Timur, di India ada Batari Durga representasi elemen alam seperti pohon, batu dan lain-lain. Di suku Aborigin sosok mitologi Ibu dikenal Dewi Kunapipi Sang Pelindung. Di Afrika dikenal sebagai dewi bumi dan pelindung kesuburan (Mami Wara) dengan sebutan Ala.
Di Jepang ada sosok Yamauba sebagai mitos makhluk spirit, penguasa sungai dan gunung yang memiliki kekuatan supranatural sangat dahsat. Di Cina ada Dewi Kwan Im sebagai dewi langit dan laut. Di Korea ada Dewi Tanggumaegi sebagai dewi pelindung lembah dan desa (Riama Maslan dkk, 2015).
Indonesia, tepatnya di Jawa mengenal sosok Dewi Sri sebagai Dewi Kemakmuran. Dan terdapat ungkapan-ungkapan tentang Ibu dalam kebudayaan etnik. Dalam kebudayaan orang Jawa Sunda, ada istilah Swargaloka yang atinya Surga/Rahim Ibu. Orang Sunda mempunyai istilah Cikapundung yang berarti Ibu/cahaya terhormat. Orang Kalimantan ada ungkapan Tanah Kitai Indai (Tanah Kita/Ibu). Orang NTT-Flores mempunyai ungkapan Duli Uhe, pali Ara (Ibu=Tanah, Emas= Tanah dan Pendukung Bumi). Orang Papua ada istilah Tanah adalah Mama (Ibu=tanah pemberi kehidupan, tidak boleh disakiti). Orang Madura, mempunyai ungkapan “Bhuppa’, Bhabbu’, Ghuru, Rato” (Muniri Faqod, 2021).
Begitu dalamnya sebutan Ibu dalam kesadaran kolektif manusia di semua peradaban dunia, termasuk peradaban nusantara, seringkali menghubungkan sosok Ibu dengan keilahian, perlindungan bagi anak yang menghormati dan kehancuran bagi anak yang durhaka.
Dalam tradisi jawa ada ungkapan ‘Gusti kang katon’ (Tuhan yang terlihat). Analogi Ibu sedemikian rupa, karena dengan segala welas asih dan kodrat keibuannya, ia pantas menyandang sebutan Ibu. Bahkan ada hadits yang menyatakan bahwa “Surga berada di bawah telapak kaki Ibu” (Aḥmad ibn Ḥanbal, 1999).
Dua ungkapan tersebut, tentu hanya sebatas kiasan betapa seolah Tuhan menampakkan Rahman-Rahim-Nya melalui sosok Ibu, bukan berarti Tuhan menampakkan diri menjadi Ibu. Makanya, do’a dan restu Ibu sangat diharapkan oleh seorang Blatér, karena dianggap menentukan sepak terjangnya.
Do’a Ibu bagi seorang Blatér, merupakan satu kesatuan dengan restunya. Adapun restu Ibu bisa berwujud izin saja, ada juga berwujud simbolik berupa ritual meminum air basuhan tumit kaki Ibu, berjalan merangkak di bawah selangkangan Ibu, dan kalau dalam keadaan mendesak/gawat meminum air kencing Ibu. Ditambah meminta jimat yang isinya 7 unsur yang di ada di Ibunya.
Cukup banyak kisah-kisah tentang keramat sosok Ibu, seperti cerita Uwais Al-Qarny. Ia hidup di zaman Nabi Muhammad SAW, dan mendapat derajat kewalian karena memulyakan Ibunya. Uwais menggendong Ibunya dari tempat asalnya ke Mekah dan Madinah untuk melaksanakan Haji. Saat berada di depan Ka’bah Ibunya menawarkan Uways mau dido’akan apa kepada Allah, ia menjawab; “Ibu saja yang berdo’a, cukuplah Saya mendapat ridha Ibu saja”.
Cerita lainnya, sosok Syarif Tambak Yoso. Diceritakan, ia seorang pejuang yang badannya kebal, semua bentuk senjata tidak mempan. Ternyata kekuatannya bukan karena mempunyai jimat kebal, melainkan karena keramat Ibu yang sangat dihormatinya. Bahkan saking keramatnya, ia cukup memanggil Ibu saat dirundung kesusahan dan saat terluka dan sekarat dalam peperangan.
Dua cerita ini mewakili keramat sosok Ibu. Sedangkan cerita yang mewakili murka Ibu, seperti dalam cerita Malin Kundang. Setelah menjadi saudagar kaya dan dihormati karena menikah dengan anak saudagar kaya. Tapi kemudian, ia malu mengakui Ibunya di depan Istri dan anak buahnya karena Ibunya terlihat seperti gembel. Iapun mendapat murka Allah dan dijadikan batu.
Karena sedemikian kuat legitimasi keramat seorang Ibu, sangat wajar jika seorang Blatér yang salah satunya memiliki prinsip menjaga serasian perilaku dan nilai falsafah lokal, yaitu Bhupa’-Bhabbu-Ghuru-Rato, menjadikan Blatér menempatkan sosok Ibu pada posisi terhormat.
*** Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan)
NB: Tulisan ini diambil dari ulasan buku Blater; Falsafah, Perilaku, dan Interaksi Sosial

