Judul Buku : Song Osong Lombhung; Jalan Hidup Orang Madura
Penulis : Muniri
Penerbit : Konsensus Bhiruh Dheun
Jumlah hlm : 77 Halaman
Ukuran : 14
Harga : 35.000,-
ISBN : Masih dalam proses
Buku dapat dipesan melalu shopee, toko Pondok Pesantren RUA Pramian, dan melalui penulis di Nomor WA: 085235187557
Sinopsis singkat: Buku ini hadir di tengah kegelisahan sosial yang kian menguat akibat mengerasnya sekat-sekat identitas, baik agama, budaya, maupun etnis. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, keragaman sejatinya merupakan modal sosial yang besar, namun tanpa fondasi etika yang kokoh, ia dapat berbalik menjadi sumber konflik dan intoleransi. Melalui karya ini, penulis mengajak pembaca menengok kembali khazanah kearifan lokal Madura sebagai sumber nilai cinta, solidaritas, dan toleransi yang telah lama hidup dan dipraktikkan dalam masyarakat, namun kerap terpinggirkan oleh narasi modernitas yang serba instan.
Secara khusus, buku ini mengulas tiga falsafah hidup masyarakat Madura, yaitu Song Osong Lombhung, Mon soghi pasoghâ’, dan Rampa’ Naong Bâringèn Korong. Ketiganya tidak diposisikan sekadar sebagai pepatah budaya, melainkan sebagai sistem nilai yang membentuk etos sosial, ekonomi, dan spiritual masyarakat. Song Osong Lombhung menegaskan pentingnya solidaritas dan kerja kolektif sebagai fondasi kehidupan bersama; Mon Soghi Pasoghâ’ mengajarkan tanggung jawab moral dalam kepemilikan harta dan keadilan sosial; sementara Rampa’ Naong Bâringèn Korong merepresentasikan cita-cita harmoni universal yang menaungi relasi manusia, Tuhan, dan alam. Dengan demikian, buku ini menunjukkan bahwa kearifan lokal Madura memiliki struktur nilai yang berjenjang dan sistemik.
Keunggulan utama buku ini terletak pada pendekatan Hermeneutika Lokal yang digunakan penulis. Pendekatan ini memungkinkan terjadinya dialog antara teks budaya lokal dengan nilai-nilai Islam universal, tanpa terjebak pada romantisme budaya maupun reduksi teologis. Melalui dialog hermeneutik tersebut, kearifan lokal Madura dibaca sebagai living text—teks hidup yang terus ditafsirkan dan dinegosiasikan dalam praktik sosial masyarakat. Dengan kerangka ini, Islam tidak hadir sebagai doktrin yang kaku, melainkan sebagai etika praksis yang membumi dan relevan dengan konteks lokal, sejalan dengan paradigma Islam Nusantara.
Kendati ringkas, buku ini berhasil menunjukkan bahwa nilai-nilai cinta (mahabbah) dan toleransi (tasamuh) bukanlah konsep abstrak yang berhenti pada tataran normatif, tetapi energi sosial yang nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Madura. Melalui praktik gotong royong, sedekah sosial, ritual budaya, hingga mekanisme rekonsiliasi komunitas, nilai rahmah diwujudkan secara konkret. Bahkan, buku ini tidak menutup mata terhadap paradoks dan ketegangan sosial yang ada, seperti antara ideal harmoni dan realitas konflik, sehingga pembaca diajak memahami budaya secara kritis dan reflektif, bukan secara apologetik. Walhasil, buku ini patut dibaca oleh akademisi, mahasiswa, pegiat budaya, tokoh agama, serta siapa pun yang peduli pada penguatan moderasi beragama dan harmoni sosial di Indonesia. Dengan mengangkat kearifan lokal Madura ke dalam diskursus ilmiah yang integratif, buku ini tidak hanya memperkaya kajian Islam Nusantara, tetapi juga menawarkan model etika sosial yang relevan bagi masyarakat plural. Dari Song Osong Lombhung hingga Rampa’ Naong Bâringèn Korong, pembaca diajak memahami bahwa jalan menuju harmoni global justru berangkat dari kebijaksanaan lokal yang dirawat dengan cinta, refleksi, dan tanggung jawab intelektual.
*** Zuhud (Direktur Song Osong Lombhung)

