Pesantren Studies (33): Santri-Santri Madura, Aktor-Aktor Jaringan Pengetahuan dan Peradaban Nusantara

Kalangan santri adalah sumber terpenting [pembentukan] opini dan kepemimpinan dalam masyarakat Nusantara, terutama di daerah-daerah yang kuat Islamnya di Pesisir [utara Jawa], Banten dan Madura di Jawa Timur. Para pedagang saleh dan guru-guru [pesantren] membentuk satu jaringan luas, yang memungkinkan mereka mengumpulkan fakta-fakta, rumor dan isu-isu, serta menformulasi berbagai pandangan mengenai Jawa, Nusantara, Timur Jauh hingga Timur Tengah. Para pedagang keliling, usahawan pengembara, para agen pemasaran, para peziarah dan pelajar, semuanya menghubungkan seorang santri lokal dengan dunia yang lebih luas, sehingga mereka bukan hanya punya akses kepada gosip dan rumor dan  berbagai informasi di pasar, tapi juga pada berita-berita tentang peristiwa-peristiwa politik, perdebatan dalam masalah-masalah agama, serta perkembangan dunia internasional. Para pedagang santri, guru-guru agama di pedesaan serta para santri bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya; demikian pula segenap informasi dan kerangka-kerangka penafsiran yang mereka olah untuk membentuk dan mempengaruhi sikap masyarakat.

—- Heather Sutherland, The Making of a Bureaucratic Elite, hal. 27-8.

Berbagai bentuk informasi, data, berita, maupun pengetahuan, semuanya merupakan  “sembako”-nya orang-orang pesantren, yakni  bahan pokok atau infrastruktur sosial dalam kehidupan pesantren. Pengetahuan membawa orang-orang pesantren menjadi aktor-aktor formasi sosial. Mereka berperan dalam membentuk, meracik dan mengarahkan proses-proses pembentukan tatanan kemasyarakatan yang ideal dan spesifik. Konstruksi bangsa kita tentang ke-Indonesia-an misalnya juga diolah dari bahan-bahan sembako ini.

Untuk kepentingan itu, pesantren membutuhkan media-media komunikasi di antara mereka. Sehingga semua bahan-bahan pokok itu bisa diolah untuk kemudian menjadi sebuah kekuatan pengetahuan baru yang bisa menjadi tenaga gerak untuk eksistensi dan daya tahan mereka bersama saudara sebangsanya di tengah-tengah kehidupan bangsa-bangsa lainnya di dunia ini.

Oleh karena itu mereka membutuhan alat komunikasi. Tapi bukan teknologi yang sifat inhuman, tidak personal. Alat komunikasi mereka adalah pergerakan manusia, yang punya pikiran, perasaan dan daya imajinasi. Mereka adalah santri kelana atau komunitas pesantren lainnya yang senantiasa bergerak dan mengembara. Teknologi apapun, gadget IT apapun yang diciptakan manusia, semua dimanfaatkan untuk kepentingan pergerakan kaum santri dan komunitasnya ini. Bukan sebaliknya, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tersebut yang mendikte mereka.[1]

Gambaran tentang ini kita bisa belajar dari para santri dan komunitas pesantren Madura. Mereka dikenal ahli dalam memanfaatkan kemajuan pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan pergerakan orang-orang pesantren. Meski banyak buku dan tulisan yang menyebut Madura bukanlah daerah peradaban karena tidak didukung kondisi alam dan iklim yang tidak bersahabat.[2] Benar, sejarah menunjukkan, orang-orang Madura dikenal paling suka mengembara. Mengembara bukan cuma pindah mencari tanah yang lebih subur di Jawa atau luar Jawa. Mereka juga mengembara karena mencari ilmu, untuk menemukan peradaban. Kekurangan yang mereka miliki pada alam Pulau Madura misalnya bukanlah sebuah keterbatasan. Tapi, sebuah peluang untuk menciptakan terobosan-terobosan dalam membangun peradaban. Dan, yang namanya terobosan, senantiasa merangsang munculnya cita-cita, motivasi-motivasi baru, daya imajinasi yang konstruktif, dan tingkat inovasi dan kreatifitas yang tinggi dalam bekerja dan beramal. Semua itu dihimpun melalui karakter mereka yang senantiasa bergerak, always mengembara (bukan sekedar bertransmigrasi!). Lagi-lagi kunci terobosan ini – seperti dikemukakan dalam bab-bab sebelumnya – terletak pada tradisi berguru dan pada formasi pengetahuan amali.

Dulu orang-orang Madura disebut echte zwervers, “pengelana sejati”.[3] “Masyarakat Madura adalah masyarakat yang mobil (mobile society)”, demikian yang diakui sejumlah sarjana.[4] Bukan hanya di darat tapi juga di laut hingga mengarungi Nusantara. “Abantal ombak” (berlayar mengarungi laut) adalah sebutan khas yang ditujukan kepada karakter mobilitas mereka di laut, yang diabadikan dalam lagu, puisi dan dalam pertunjukan rakyat.[5]

Oleh karena itu mereka harus merebut masa depan, dengan menguasai pilar-pilar peradaban, sumber-sumber pengetahuan dan kunci-kunci informasi. “Ajar lara lapar” (belajar bersakit-sakit dan berlapar-lapar), demikian tekad mereka mengejar idealisme itu. Bahasa kini, berakit-rakit ke hulu, berenang kemudian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Kunci-kunci informasi harus mereka kuasai. Pintu-pintu menuju pengetahuan harus mereka masuki. Hanya dengan itu mereka bisa leading, berjaya. Mereka pun bekerja keras mencari dan menuntut ilmu hingga kemanapun di ujung dunia. Dan, apa jadinya kemudian? Semua elemen bangsa kita pun mengakui kekuatan pengetahuan orang-orang Madura ini.

Selama abad 18 dan 19 Madura menjadi salah satu kiblat pendidikan dan peradaban bangsa. Madura yang katanya pulau gersang kerontang justru menumbuh-suburkan kegiatan kultural dan kehidupan intelektual.[6] Bukan hanya anak-anak bangsa ini gemar berburu ilmu ke sana; orang-orang Eropa sekelas Raffles sendiri justru belajar dan banyak menimba ilmu dari orang-orang Madura. Mereka membantu banyak hal orang Inggris pendiri kota Singapura ini dalam menulis bukunya yang terkenal, History of Java (terbit pertama kali tahun 1817). Kalau benar orang-orang Madura miskin peradaban karena iklim yang tidak kondusif itu, tidak akan mungkin dibayangkan Raffles akan mendapat data dan informasi untuk kepentingan bukunya itu. Tidak akan ada pula orang-orang Jawa dari ujung barat ke ujung timur yang akan bersusah-payah mau nyantri ke sana.

Penjelasan lebih detail dapat dibaca dalam Buku II Juz 2 Pesantren Studies. 

[1] Kini perkembangan teknologi informasi semakin canggih. Ada facebook, twitter, youtube, google, dll. Alat komunikasi pun juga semakin maju. Tapi kalangan santri sekarang mesti belajar kepada santri-santri dulu, dimana mereka memanfaatkan teknologi yang ditawarkan oleh kolonialisme Belanda untuk kepentingan pergerakan dan efektifitas komunikasi sosial orang-orang pesantren.

[2] Seperti buku Kuntowijoyo tentang Madura yang dimulai dari analisis tentang kondisi alam, tanah dan iklim yang dianggap tidak bersahabat. Iklim seperti ini mengakibatkan pertanian tidak berkembang dan kemiskinan yang meluas sehingga membuat orang-orang Madura merantau ke luar Pulau Madura. Lihat Kuntowijoyo, Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura, 1850-1940 (terj. Machmoed Effendhie & Punang Amaripuja) (Yogyakarta: Mata Bangsa, 2002). Tulisan serupa kita temukan pada penulis-penulis orientalis tentang Madura. mereka seakan menegaskan bahwa orang-orang Madura tidak punya sejarah dalam soal menciptakan peradaban. Lihat misalnya Huub de Jonge, Madura dalam Empat Zaman: Pedagang, Perkembangan Ekonomi dan Islam (Suatu Studi Antropologi Ekonomi) (Jakarta: Gramedia, 1989); dan J. van Goor, “Salt and Soldiers: Madura and the Dutch in the Beginning of the Nineteenth Century”, dalam Papers of the Dutch-Indonesian Historical Conference (held at Noordwijkerhout, the Netherlands,19 to 22 May 1976) (Leiden&Jakarta: The Bureau of Indonesian Studies under the auspices of the Dutch and Indonesian Steering Committees of the Indonesian Studies Program, 1978). Bahkan banyak kalangan yang mengaitkan kondisi alam Madura ini dengan mentalitas orang-orang Madura yang serba negatif. Dan itu jelas sebuah degradasi terhadap keagungan karakter mobilitas orang-orang Madura. Tentang stereotip-stereotip tentang Madura itu, lihat Mien Ahmad Rifai, Manusia Madura: Pembawaan, Perilaku, Etos Kerja, Penampilan dan Pandangan Hidupnya seperti Dicitrakan Peribahasanya (Yogyakarta: Pilar Media, 2007), terutama Bagian 3.

[3] Rudolf Mrázek, Engineers of Happy Land: Technology and Nationalism in a Colony (Princeton: Princeton University Press, 2002), hal. 10.

[4] Lihat Kuntowijoyo, Perubahan Sosial, hal. 313.

[5] Iik Arifin Mansurnoor, “Ulama, Villagers and Change: Islam in Central Madura”. Tesis PhD tidak diterbitkan. Montreal: McGiII University, 1987, hal. 21. Namun yang amat disayangkan dari tesis doktor Iik ini, yang kini sudah diterbitkan jadi buku oleh UGM, Yogyakarta, tahun 1990, ia tidak satu pun membicarakan pesantren-pesantren dan ulama-ulama Madura sebagai jaringan pengetahuan dan gerakan sosial yang ekspansif se-Nusantara. Madura yang dibaca adalah “Madura” yang tertutup dalam lokalitasnya ala antropolog Geertz dan Koentjaraningrat!

[6] Lihat Mu’jizah, Iluminasi; dan Weatherbee, “Raffles Sources”…

NB: Tulisan ini diunduh dari status FB Ahmad Baso tertanggal 12 Maret 2021. Cek di https://www.facebook.com/notes/10221798058314016/

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini