Falsafah Madura Tentang Perjuangan Hidup Keluarga

Latar belakang etnis apapun, idealnya pasti mempunyai falsafah hidup yang dijadikan pegangan interaksinya dalam kehidupan personal maupun komunal. Ini menunjukkan bahwa setiap etnis mempunyai nilai-nilai hidup yang berguna bagi sesama.

Tak terkecuali etnis Madura, yang mempunyai falsafah hidup yang sangat melimpah. Hanya saja, kecendrungan pemuda-pemudi Madura menjauh dari local wisdom yang diwariskan bengetowah (leluhur)-nya. Semoga ‘mereka’ menemukan jalan pulang…hehe

Tanggal 13 November 2021, Penulis diundang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Sampang untuk menjadi pembicara di acara Ngaji Sosial dan Budaya dengan tema; “Ngarabad Perbhasan, Aghangséh Téngka”.

Pemunculan istilah dalam falsafah Madura, rupanya membuat penasaran peserta yang hadir. Diskusipun dinamis, seandainya tidak ada inisiatif dari panitia untuk ditutup, mungkin acara berakhir lewat tengah malam.

Senada dengan pemunculan istilah dalam falsafah Madura di atas. Akhir-akhir ini, Penulis disuguhkan video Komedi Madura yang mengambil nama Klebun Morleke & Crew. Video-videonya menunjukkan, semacam ada geliat pemuda-pemudi Madura, mulai akrab dengan falsafahnya. Sungguh membuat Penulis terharu. Terima kasih ya Bun.

Biar tidak kala tanca’an (kalah start) dengan Bun Morleke & Crew. Kali ini penulis juga akan menyajikan falsafah perjuangan hidup keluarga Madura, antara lain; song osong lombhung, mon soghi-pasoghe’, dan rampa’ naong bringin korong.  

Ketiga falsafah ini, sebenarnya tidak satu kesatuan. Penulis mencoba menyajikan keterhubungan ketiganya berdasar pada hasil pengamatan kebiasaan keluarga Madura dalam pergulatannya dengan kehidupan. Baca juga: https://blog.bhiruhdheun.com/aneka-pribahasa-madura-etos-kerja-dan-hubungan-sosial/

Song Osong Lombhung.

Arti sebenarnya, song osong berarti bersama mengusung. Sedangkan lombhung berarti tempat menyimpan padi/gabah. Berdasarkan arti, maka untuk melakukan song osong tidak mungkin dilakukan oleh satu orang/sendirian. Lombhung tempat penyimpanan bahan baku makanan, tentunya sangat penting untuk kelangsungan hidup sebuah keluarga.

Jika simbol lombhung dianalogikan sebagai “yang berharga” untuk kelangsungan hidup satu keluarga. Maka menjadikan lombhung sebagai kiasan untuk salah satu anak dari keluarga yang hendak ditandingkan dalam kehidupan di luar rumah, sepertinya sangat sesuai.

Anak yang dimaksud, tidak harus anak tertua, bisa saja anak tengah atau anak bungsu. Yang jelas, anak tersebut mempunyai kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan di luar rumah. Dalam Bahasa lain, layak dijadikan Mentri Luar Negerinya keluarga, dengan tugas pokok mengokohkan eksistensi keluarga di luar rumah. Untuk dapat menjalankan tugas pokok tersebut, ia pasti membutuhkan dukungan keluarga, kerabat, dan teman-teman sejawat.

Mon Soghi-Pasoghe’.

Artinya: “Kalau kaya harus siap menjadi penyangga penderitaan orang miskin”. Falsafah ini, merupakan ajaran prinsip hidup agar selalu bersikap luman pada masyarakat miskin, dan pada semua orang yang membutuhkan uluran tangan.

Proyeksi anak sebagai Mentri Luar Negerinya keluarga memperoleh kesuksesan, banyak harta dan pengaruh. Anak tersebut, secara etis tidak boleh lupa dengan ikhtiar membantu mengurangi penderitaan orang miskin dari keluarga, kerabat dan teman sejawatnya.

Orang yang berpegang pada falsafah ini, biasanya mengamalkan falsafah yang menjadi turunan, yaitu lambhe’ ta’ cerre’ (luman/tidak pelit). Tapi tentu tidak semua mampu mengamalkannya, kecuali dia mempunya sifat Blatér.

Rampa’ Naong Bringin Korong

Artinya: “Suasana teduh penuh kedamaian layaknya berada di bawah pohon beringin yang rindang”. Falsafah ini, mengajarkan nilai-nilai kehidupan orang Madura yang berkaitan dengan kehidupan penuh harmoni, yang selalu mencita-citakan menjadi insan yang rahmatal lil ‘alamin (rahmat bagi alam semesta).

Falsafah ini juga, merupakan puncak dari pengabdian seseorang dalam hidup, setelah seseorang sukses menapaki kesuksesan hidup. Secara kualitas, di tingkat implementasinya, falsafah rampa’ naong bringin korong berbeda dengan mon soghi-pasoghe’.

Kalau falsafah mon soghi-pasoghe’ hanya membantu kesejahteraan dalam lingkup keluarga, kerabat, dan teman sejawat. Sedangkan falsafah rampa’ naong bringin korong justru melampaui itu. Ruang lingkupnya sudah merambah kepada orang lain yang mebutuhkan uluran tangannya. Baik yang mengenal, maupun yang tidak mengenalnya.

Berdasarkan penjelasan tiga falsafah ini, minimal ada tolak ukur dalam menilai orang yang banyak harta dan punya pengaruh. Apakah ia masih tahapan tingkat pertama, kedua, atau ketiga. Namun terlepas dari itu, tulisan ini dimaksudkan untuk merawat local wisdom berupa falsafah tentang perjuangan hidup keluarga Madura. Wallahu a’lam bi Al-shawaab

***Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan dan Penulis buku Blater; Falsafah, Perilaku dan Interaksi Sosial)

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini