Dalam tradisi masyarakat Madura jika ditanya kerja apa, biasanya mereka menjawab dengan kerja-kerja independen, seperti jadi petani, penjual sayuran, tukang parkir, besi tua, jamaah haji dan umroh, dan berbagai jenis kerja lainnya. Bagi mereka, kerja itu ya begitu. Ada satu strata kerja yang ada dibawah pekerjaan-pekerjaan disebut di atas yaitu karyawan/pegawai.
Dalam istilah mereka, itu disebut dengan istilah norok oreng alias ikut orang. Memanfaatkan kerangka pengetahuan mereka ini, maka tatkala ada kenalan atau teman jauh dari Madura bertanya kepada saya, “alakoh apah setia?-kerja apa sekarang?-“ biasanya akan saya jawab, “napah, jek reng norok oreng-, ah cuma ikut orang”. Biasanya mimik wajah mereka menampakkan wajah belas kasihannya. Sebagian bilang, “Sabar ya yang penting halal”. Sebagian lagi kadang menawari dagang. Sebenarnya maksud saya, saya norok oreng yang punya kampus, ngajar di kampus mereka. Bahasa norok oreng ini bagi saya lebih enak dipakai dibanding bilang kerja jadi dosen, karena pertanyaan biasanya masih berlanjut tentang makhluk apa dosen itu.
Bangsa Madura memiliki mental usaha yang tinggi. Kalau dalam bahasa orang sekarang disebut mental enterpreneurship. Orang Madura kalau kerja ke orang lain biasanya niatnya bukan untuk kerja kepada yang bersangkutan secara terus menerus. Dalam tradisi mereka, hal itu disebut “asekolah” atau magang kalau dalam bahasa Mas Menteri Nadhim. Waktu magang ini bermacam-macam waktunya. Kalau sudah yakin mendirikan usaha mandiri maka mereka akan mendirikan usaha sendiri. Biasanya tak jauh-jauh dari pekerjaan di mana mereka bekerja sebelumya. Kalau lulusan besi tua biasanya ya usaha di besi tua, kalau lulusan ayam potong biasanya akan kerja di ayam potong, dan begitu juga yang lainnya. Orang Madura, akan dirasa aneh jika belum belajar tentang sebuah pekerjaan lalu tiba-tia usaha di bidang tersebut.
Orang Madura secara tradisional tidak mengacuhkan gengsi. Pekerjaan-pekerjaan kotor yang biasanya orang Jawa enggan mengerjakannya mereka biasanya ambil pekerjaan itu. Seperti pemulung sampah, rongsokan, dan lain-lain. tapi jangan tanya pendapatan mereka, bisa-bisa gaji sebulan bisa mereka peroleh dalam sehari. Saya masih ingat betul, saat saya pamit ke bibik yang punya usaha TKI/TKW di Arab Saudi, saya bilang ke beliau, “Bik Tuan, pemberangkatan jamaah bibik, biar saya yang urusi”, saat itu Bibik bilang, “alah, cong!. Itu pekerjaan recehan. Biar kasih ke Ji Helmi saja”. Orang yang dimaksud bibik adalah pemilik sebuah perusahaan travel Haji dan Umrah terkenal di Surabaya.
Konstruksi berpikir yang seperti ini relatif berbeda dengan cara berpikir sebagian orang Jawa yang lahir di akhir Orde Lama dan selama Orde Baru (saya perlu tegaskan sebagian karena banyak juga yang tidak seperti itu). Kadang pilihan pekerjaan dalam pikiran mereka itu cuma dua; pegawai negeri dan swasta. Urusan dirimu dagang, usaha besi tua, trading saham, jual sayuran, buka kafe, dan lain-lain, kalau dirimu bukan pegawai negeri ya disebut pegawai swasta. Ini pula yang sangat lama sekali disematkan ke KTP orang-orang di identitas pekerjaan, “Pekerjaan: Swasta”. Padahal, swasta itu banyak macamnya.
Pekerjaan pegawai baik swasta ataupun negeri bagi orang Madura tetaplah berada di strata kedua yaitu pekerjaan norok oreng. Jadi ada semacam titik bepikir yang terbalik, bagi orang Madura menjadi pegawai negeri itu masih dianggap norok oreng tapi bagi sebagian orang Jawa, pegawai negeri itu adalah “pekerjaan idaman” calon mertua.
Catatan: tulisan di atas tidak bermaksud untuk menjeneralisir. Sebagian orang Madura memiliki bahasa yang khas untuk menyebut pegawai negeri yaitu ponggebeh.

