Obrolan dengan Abah Hasan, penulis mendapatkan wejangan yang konon pernah diucapkan oleh Almarhum Abah Kholil, saat menasehati kerabatnya yang terjun dalam dunia keblatéran. Sebagai tokoh Blatér sepuh yang dedikasinya tak diragukan oleh khalayak. Abah Kholil berkata; “Mon Ablatér, jhe’ tako’ ka matanah oréng. Pangepas ka oréng, tapéh pasopan ka oréng. Artinya; “Kalau terjun dalam dunia Blatér jangan takut ke tatapan mata orang. Sesuaikan eksistensimu dengan eksistensi orang lain, tapi tetap pegang sopan santun, baik dalam bentuk ucapan dan tindakan.
Peribahasa kebaltéran ini, menarik untuk dikaji. Kalimat jhe’ tako’ ka matanah oréng (jangan takut ke tatapan mata orang) ada kesesuaian dengan penilaian tentang perihal mata yang kerap kali diidentikkan degan jendela jiwa. Mata selalu menunjukkan kebenaran, selihai apapun seseorang merekayasa ekspresi wajah, matanya akan mengatakan lebih sekedar kata-kata.
Alhasil, melalui ‘mata’ akan banyak yang diketahui tentang keadaan emosional orang lain. Saat pertama kali bertemu dengan orang lain, cara terbaik untuk mengenalnya adalah dengan menatap matanya dan mengamati perasaan apa yang mereka sampaikan. Kamu bisa mengetahui apakah seseorang penakut atau pemberani, sedang sedih atau bahagia, senyuman itu asli atau palsu.
Wejangan jhe’ tako’ ka matanah oréng dari Abah Kholil tentu berasal refleksi dirinya atau bahkan berasal leluhur-leluhurnya, yang biasa diterapkan dalam dunia kebaltéran. Makna tersiratnya, saat kita berhadapan dengan orang lain jauhkan rasa takut. Karena, jika mata menunjukkan ketakutan saat dipertemuan pertama, itulah nilaimu selanjutnya. Bahkan saat seseorang terbatas bicaranya, matanya berbicara banyak. Novelis terkenal, Samuel Richardson (1850) berkata dalam novelnya Scarlet Letter; “Ketika kata-kata dibatasi, mata seringkali berbicara banyak”.
Pancaran mata tidak ada hubungannya dengan kondisi fisik seseorang. Walaupun ukuran fisiknya tergolong kecil, kalau seseorang mempunyai jiwa orang Blatér pasti menjiwai falsafah Madura; ajhâm katê ta’ kala kalettegghâ. Artinya; “Ayam Kati tidak kalah dengan gumaman ayam Jago”(Mien Rifa’I: 2007, 206). Falsafah ini, tidak hanya memperlihatkan tingkah laku ayam yang kecil, di balik itu ia mempunyai kemampuan yang setara dengan ayam jago. Ketika mulai berhadap-hadapan dengan ayam jago, walaupun dengan ukuran tubuh yang lebih kecil, tapi ia tak mempan digertak oleh gumaman. Justru gumamannya lebih riuh dan gerakannya lebih tangkas seperti ayam jago yang sedang dihadapi.
Anjuran jangan takut ke tatapan mata orang, bukan perintah agar go mejago (Sok Jago). Kita perlu memperhatikan kalimat selanjutnya; pangepas ka oréng, tapéh pasopan ka oréng. Kata pangepas bisa diartikan ‘sesuaikan’ dirimu di depan orang. Jika yang dihadapi orang yang lebih tua, panggil dia dengan sebutan penghormatan yang berlaku. Pandang umurnya, bukan siapa dia atau dari kalangan apa dia.
Perintah menghormati orang yang lebih tua sangat ditekankan oleh Rasulullah. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Anas bin Malik (hadis ke 1842). Nabi bersabda;
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا
Artinya; “Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda atau tidak menghormati yang lebih tua”.
Memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan kehormatan. Sebutan Kak (kakak), Mbuk (Mbak), Man/Téh (Paman), Bibbi’ (Bibik), Obhe’ (Saudara tua Bapak/Ibu), Emba (Kakek/Nenek), dst. Menyayangi orang yang lebih muda dengan sebutan Lék (adik) atau Cong (Nduk/Nak) yang berkesan dalam sanubarinya, merupakan wujud penerapan adab atau sopan santun dalam pergaulan dengan anak muda atau orang tua, yang masing-masing memiliki hak yang pantas diberikan baginya.
Menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda merupakan ajaran purba, yang berlangsung pada setiap generasi. Saat ada seseorang yang menyalahi ini, sungguh terasa tidak elok dilihatnya. Pribahasa dari Alm. Abah Kholil yang diterima melalui Abah Hasan seolah mewanti-wanti anak-anak muda termasuk penulis, agar selalu mawas diri dan tidak keluar jalur dari téngka madhureh (etika Madura).
***Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan dan Penulis Buku Blater; Falsafah, Perilaku, dan Interaksi Sosial)

