Anekdot PMII Bangkalan

“Saat buih kata-kata dipaksa menjadi fakta, seringkali menjadi sebuah anekdot yang dipanggungkan dalam realita.”

Tahun 2020 telah berlalu, telah banyak kesan dan cerita yang dilalui. Tapi menjadi sekedar pesan yang tak ubahnya cita yang tidak tertata. Semua orang, bahkan elemen melalui itu, PMII Bangkalan salah satunya tak ubahnya tubuh tanpa muka.

Tindakan-tindakan yang mengesankan marak dilakukan tanpa pijakan nalar gerakan. Tentu tidak mengesankan dan tentu tidak terlihat mengagumkan. Tapi cendrung menggelikan. Kegiatan yang mestinya mengedepankan trilogi (dzikir, fikir, dan amal shaleh) pengkaderan justru tak tergarap semestinya.

Tidakkah itu absurd? Sebagai kawah candra dimuka hanya terjebak pada seremonial kegiatan tanpa arah dan cendrung minim efek gerakan jangka panjang. Idealnya, PMII tingkat Cabang tetap menjadi lokus pengkaderan, agar nalar gerakan tetap terfokus.

Penulis tidak anti pada kepentingan politik. Hanya saja, kader PMII perlu merefleksikan nalar gerakan, yang pijakannya pada mandat moral dan sosial. Tidak hanya pertimbangan politik, bukan?

Membangun relasi politik penting, tapi sekelas tingkat cabang, sebaiknya jangan. Ingatlah analogi politik. Jika politik ibaratkan seekor Macan, maka PMII Cabang Bangkalan ibarat anak domba yang dagingnya lunak, lezat, dan bebas formalin.   

Ibarat daging yang lunak, lezat dan bebas formalin, PMII Cabang Bangkalan harus ekstra hati-hati, di belakang ada banyak kader yang masih ingin meningkatkan kualitasnya. Jangan sampai kader-kader itu tertinggal jauh dari kerumunan tanpa perlindungan Sang Gembala. Selagi dalam kerumunan yang potensial, nasib kader aman dari keadaan sial.

Cerita kader PMII Bangkalan di tingkat komisariat layaknya domba, sedangkan Pengurus Cabang sebagai Sang Gembala, ini hanya anekdot. Penulis memakainya, sebagai upaya kritik-otokritik. Penulis, dalam rangka menyajikan cerita dari kejadian di PMII Bangkalan yang mestinya mementingkan pengkaderan ternyata nyaris “terabaikan”.

Kritik-otokritik ini, terpaksa penulis lakukan. Demi perubahan yang berarti dalam tubuh PMII Bangkalan. Dan semoga tidak ada yang alergi dengan usaha yang penulis lakukan. Semacam orang yang sedang alergi atau terkena gatal-gatal. Dilarang untuk makan beberapa makanan yang menyebabkan penyakitnya semakin parah. Awal-awal, orang itu begitu semangat untuk sembuh dan mengikuti beberapa aturan dokter yang mengikat pada dirinya. Ternyata gatal-gatalnya tidak sembuh. Kenapa? Itu karena tidak konsisten mengikuti petunjuk dokter.  

Petunjuk dokter penting ditaati agar sakit gatal-gatal, sembuh. Petunjuk dokter ibarat aturan dan etika dalam berorganisasi. Jika hal itu tidak diindahkan, maka organisasi rentan tidak sehat, apalagi yang sudah mengalami alergi, bisa menjadi penyakit menahun.

Suatu waktu Sang gembala itu berkata; “Baik, aku akan membuat menjadi maju sebagaimana peraturan perundang-undangan dan aku akan bersihkan penyakit-penyakit yang meresahkan.” Kata-katanya begitu klise, mengesankan sekali tapi ternyata menggelikan. Alih-alih mau ikut resep, tapi bagi mereka resepnya menjenuhkan. Tidak mau makan udang, tetapi aromanya menggiurkan. Bukankah ini anekdot?

Mungkin Sang gembala, menganggap itu bukanlah persoalan, itu sudah menjadi suatu yang biasa terjadi. Pasti begitu kok. Namanya juga hidup. Yang penting terlihat mengesankan. Walaupun tak menjadi Mabadi’ Khaira Ummah dalam takaran organisasi pengkaderan.

Padahal, sekitarnya mengingatkan, bahwa memakan makanan yang membuat penyakitnya tambah parah lebih baik dicegah. Sebab itu tidak baik. Bahkan merugikan.

Mungkin, baginya itu enak. Ia membagi udangnya ke yang mengingatkan untuk membuktikan kalau itu benar-benar enak. Ternyata sama-sama menikmati. “Enak kan? Sudahlah, nikmati saja, kamu urusi tuh Perserikatan Para Buaya. Gak usah ngurusi saya.” Ini semacam skema Kerajaan Protestan Anglikan Ingris dan Kerajaan Protestan Belanda dahulu kala. Berbagi hasil jarahan.

Pamflet memang penting. Sebagai upaya “Gest Will Daad” Sebagaimana kata Soekarno. Tetapi, Mentaati konstitusi juga penting, agar goals-goals tercapai secara esensial, sehingga dapat mencipatakan suatu manfaat. Juga yang jauh lebih penting adalah Anekdot PMII Bangkalan, mengesankan, menarik dan singkat sesuai kenyataan. Tapi, ini tidak lucu Sahabatku!.

Sebagai kata penutup. “tidak usah berpikir terlalu keras hanya untuk mencari point dan apa maksud dari narasi ini. Karena ada yang sedang menunggu pendapat kita. Jadi, cukup apa yang kita tangkap dan kita pahami, itulah point-nya.

Penulis: Abdullah Sahuri; Mantan Ketua 1 PMII Komisariat STITAL, Founder Komunitas Pendekar Literasi.

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini