Ekofeminisme; Sebuah Otokritik atas Gerakan Feminisme

Oleh: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan)

Ekofeminisme menjadi sebuah wacana otokritik atas gerakan feminisme yang selama ini cendrung liberal. Alih-alih menyamakan laki-laki dan perempuan dalam segala hal, gerakan feminisme justru menambah kekacauan baru, misalnya ketidak jelasan peran antara laki-laki dan perempuan dalam ranah publik, lebih-lebih dalam ranah keluarga. Untuk itu ekofeminisme hadir sebagai wacana yang berorientasi otokritik atas gerakan feminisme selama ini. Tulisan di bawah ini, akan mengulas Ekofeminisme. Selamat Membaca!

Tahun 2020, tepatnya di Book Store UINSA Surabaya, Penulis berkenalan dengan istilah “Ekofeminisme”. Buku yang ditulis oleh Wiyatmi, Maman Suryaman, dan Esti Swastikasari dengan judul; Ekofeminisme; Kritik Sastra Berwawasan Ekologi dan Feminisme.

Buku tersebut, menarik langkah Penulis setelah dulu tatapan mata membentur sampul dominasi bhiruh dheun (warna hijau). Tentu tidak dapat dipungkiri warna bhiruh dheun, gambar tumpukan buku dalam sketsa wajah perempuan, dan judul ekofeminisme menjadi  alasan pikiran bawah sadar Penulis mendekat, mengambil, dan membaca bagian bulrb (tulisan di belakang buku).

Pada bulrb buku, Penulisnya mengambil kalimat awalan “Krisis Lingkungan akan menimbulkan kesengsaraan pada umat manusia, terlebih kaum perempuan”. Kalimat yang menggugah pembaca untuk membeli dan membacanya lebih dalam.

Walaupun kategori buku ini, kategori buku kecil karena jumlah halaman 152 halaman. Namun ulasannya cukup memadai untuk sekedar memahami keterkaitan isu perempuan dan alam semesta dalam tinjauan pemahaman kritik sastra.

Dalam buku tersebut, dijelaskan bahwa ekofeminisme merupakan paham tentang keterkaitan antara perempuan dan alam semesta. Kesamaan keduanya, yang seringkali mengalami ketidakberdayaan dan ketidakadilan.

Berpijak pada dua kesamaan pengalaman tersebut, adalah Francoise d’Eaubonne pada tahun 1974 memperkenalkan etika kepedulian demi mewujudkan keadilan sosial secara ekologis berbasis pada nilai-nilai feminitas dan menentang budaya patriarki.

Inisiatif Francoise d’Eaubonne tentu tidak berangkat dari ruang kosong. Sebelumnya, pada tahun 1968 sudah ada geliat dari Paul Ehrlich. Dalam bukunya yang berjudul; The Population Bomb, ia membicarakan tentang kerusakan bumi akibat populasi manusia terlalu banyak, ia menawarkan solusi agar menghentikan reproduksi seksual.

Francoise d’Eaubonne tampil menanggapi buku Paul Ehrlich, yang ulasannya berbau sinisme patriarki atas perempuan dalam perihal reproduksi seksual. Buku yang berjudul; “Feminism or Death” yang ditulisnya, merupakan manifesto yang luas, terkait gagasan klaim sistem patriarki atas tubuh perempuan dan alam semesta justru menjadi penghancur keduanya.

Selama ini, perempuan tidak diberi hak untuk mengatur reproduksinya. Justru sistem patriarki yang menginginkan agar reproduksi terus berlanjut. Mestinya, laki-laki harus menyadari bahwa kegiatan reproduksi seksual dilakukan bersama dan merasakan kenikmatan bersama. Hanya saja, laki-laki sering pura-pura lupa bahwa proses mengandung, melahirkan, dan merawat bayi tidak dihitung sebagai pengalaman perempuan yang sangat berat.

Selain pengalaman perempuan di atas, ada kerja domestik yang seringkali laki-laki anggap sebagai ritualitas perempuan. Istilah kegiatan ritual tentu sebuah pengalihan agar kerja domestik yang dilakukan “istri” dijauhkan dari nilai komersil. Kegiatan ibadah harus disucikan dari nilai-nilai komersil, bukan? Sungguh sangat naif sekali.

Fakta-fakta ini, Francoise d’Eaubonne mendorong perempuan agar diberi hak mengatur reproduksinya. Selain itu, perempuan harus tetap berusaha meraih emansipasi dengan cara menentang sistem patriarki melalui tindakan aborsi dan kontrasepsi. Dan lebih luas lagi, perempuan harus melibatkan diri dalam pencegahan kerusakan bumi, dan bersedia menjadi pelestari bumi dengan mengembalikan pada keadaan yang lebih baik.

Kesediaan perempuan menjadi bagian pelestari bumi, adalah gerakan ekofeminisme. Tujuan gerakan tersebut, dengan menetapkan bahwa kerjasama, kepedulian, cinta dan toleransi merupakan cara untuk melestarikan alam yang ditempati bersama. Hubungan ini, akan melahirkan etika manusia terhadap pengelolaan lingkungan dan menciptakan kesetaraan gender kaitanya dengan alam semesta.

Sebagai penguat ilmiah dari gerakan ekofeminisme secara ontologis. Menganggap perempuan dan laki-laki adalah manusia yang sama dengan tanggung jawab masing-masing. Sedangkan manusia dan alam semesta bersifat integrated (saling berhubungan) dan saling membutuhkan satu sama lainnya. Rusaknya alam semesta berakibat pada manusia dan makhluk lainnya. Maka, jagalah alam semesta seperti Kita menjaga diri Kita.

Secara epistemologis. Ekofeminisme berpijak pada pengalaman perempuan dan kekaguman pada aktivitas utama untuk memperoleh pengetahuan dengan cara feminis. Melalui kekaguman itu, diarahkan untuk pembangunan lingkungan hidup secara positif. Sedangkan landasan aksiologisnya, adalah merajut kebersamaan sesama manusia dengan alam semesta. Feminitas menjadi pijakan utama dalam setiap gerakan dan tujuan ekofeminisme dengan menjadikan budaya matriarki perekat hubungan emosional.

Sebagai cacatan akhir. Bahwa gerakan ekofeminisme adalah kritis terhadap gerakan feminisme liberal dan sosialis, yang mendukung agar laki-laki dan perempuan harus sama. Berusaha untuk sama yang demikian, justru gerakan feminisme telah menjadi perusak dunia.Susan Gordon menolak model gerakan seperti itu. Ia menjelaskan dalam bukunya; “The Prisoner of Men’s Dream”, bahwa perempuan dan laki-laki tidak harus disamakan, tetapi kualitas hidup keduanya harus sama. Dengan kualitas sama tersebut, bersama  melakukan gerakan untuk mengubah dunia agar terhindar dari kerusakan. Gerakan ekofeminisme berarti kritik atas budaya patriarki dan kapitalisme. Serta mengkritik tentang budaya produksi dan reproduksi dalam perkembangan teknologi industri dan keamanan perempuan.

***Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan)

NB: Bahan tulisan ini diambil dari buku berjudul Ekofeminisme; Kritik Sastra Berwawasan Ekologi dan Feminis dan Wikipedia Indonesia.

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini