Nasionalisme dalam Tradisi “Kal Bhakal” Orang Madura

Bulan Juni, sering kita identikkan sebagai bulan Soekarno. Tepatnya, tanggal 6 Juni 1901 Bung Karno dilahirkan di Surabaya. Di bulan yang sama, tanggal 21 Juni 1970, Bung Karno wafat. Atas dasar itu, pecintanya memperingati bulan ini sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya pada Republik ini.
Dari Soekarno kita belajar tentang nasionalisme. Ia dan pendiri bangsa yang lain mengajarkan nasionalisme kepada rakyat di semua tingkatan, pada masyarakat kota maupun desa di zaman dahulu, kemudian diwariskan hingga kini.

Sebagai orang desa, Penulis menemukan ajaran nasionalisme yang cukup sederhana, namun efeknya tidaklah sederhana. Misalnya, Penulis menemukan ajaran nasionaisme yang diselipkan dalam momentum ‘kal bhakal’ (pertunangan) di Madura.

Orang Madura, khususnya di desa Kombangan Geger Bangkalan, tempat Penulis dilahirkan masih ditemukan selipan-selipan ajaran nasionalisme di berbagai momentum, salah satunya pertunangan. Misalnya, ada kebiasaan saat orang bertunangan, dalam proses pewartaan ke saudara dan tetangga, biasanya membawa jajanan, berupa Bajit dan Tettel.

Bajit dan Tettel bisa dianggap simbolisasi nasionalisme, kenapa demikian? Bajit berwarna merah, dan Tettel berwarna putih. Kita tahu, bahwa warna berdera kebanggaan kita, berwarna Merah-Putih. Permainan simbolik ini, tentu ada hubungannya dengan upaya orang-orang dahulu yang berusaha mengajarkan nasionalisme anak cucunya.

Tidak hanya ajaran nasionalisme, dalam proses ‘abekalan’ (bertunangan), terkandung ajaran menghargai calon bekal, alias tidak semerta-merta membuat pengumuman. Untuk membuktikan keseriusan, terlebih dahulu pihak laki-laki nyabha’ ocha’ (bertamu dengan minta persetujuan pihak perempuan).
Bertugas untuk nyabha’ ocha’ biasanya dipercayakan kepada sesepuh kampung, atau tetua yang disegani oleh pihak perempuan. Dengan kalimat ajakan bertujuan agar wakil pihak perempuan menerima pihak laki-laki.

Memberikan jajanan Bajit dan Tettel juga mengandung sebuah harapan, agar pertunangan berlanjut hingga pernikahan, dan kekal sampai kematian menjemput. Harapan ini, bisa dihubungkan dengan proses pembuatan Bajit dan Tettel, yang ditumbuk menjadi sangat halus, sehingga biji ketan tidak terlihat terpisah. Bajit dan Tettel juga sangat lengket dan awet, tidak gampang basi.

Demikian, menurut penulis bahwa ajaran nasionalisme sudah berlangsung sejak dulu dari orang-orang tua kita. Kendati dikemas sangat sederhana, akan tetapi begitu dahsyat menjangkar di pikiran bawah sadar anak-anak cucunya sehingga akrab dengan warna merah-putih, yakni warna bendera Indonesia. Selain itu, niatan penulis atas tulisan ini, dalam rangka dipersembahkan untuk bulan Soekarno.

***Penulis: M. Zaini (Tim Literasi PC. PMII Bangkalan)

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini