Blessing in Disguise, Belajar Produktif dari Bung Karno

Oleh: Badruzz Darmawan (Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia)

Barangkali tak banyak diketahui oleh kalangan pemuda dan mahasiswa jaman now (jaman sekarang), bahwa Bung Karno sebagai Bapak Proklamator dan hingga kini buah pikirannya tetap dianut, khsusnya tentang konsep nasionalismenya. Maka sangat wajar, hingga saat ini, beliau tetap dijadikan tokoh panutan.

Bung Karno, selain dikenal sebagai arsitek Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Semasa mudanya memiliki sikap disiplin, pemberani, percaya diri, dan pantang menyerah. Kepribadiannya itulah, yang membuat Bung Karno sebagai penggerak perjuangan kemerdekaan yang dihormati kawan dan disegani lawan.

Di usia mudanya itu, Ia sudah menunjukkan sebagai pribadi yang mampu mempropagandakan cita-cita politik kebangsaan. Tak ayal, pemerintah Hindia-Belanda menghukumnya, dan mengisolasikan ke daerah terpencil dengan pengawasan ketat dan selalu dibatasi ruang geraknya.

Perlakuan itu, sedikitpun tidak memudarkan semangat dan menggoyahkan komitmen untuk terus melawan kolonialisme. Bung Karno ditempat isolosi politiknya tentu merasakan keterpurukan dan penderitaan, namun Ia tetap meyakini satu hal dan membuatnya bertahan, yaitu blessing in disguise dalam memperkokoh produktivitas dalam dirinya.

Gambaran keadaan Bung Karno saat di tempat isolasi, dijelaskan oleh H.P. Jones dalam buku berjudul The Possible Dream. Justru yang dilakukan selama bertahun-tahun di tempat isolasi politik mendidik dirinya semakin keras, Ia membaca dan terus membaca semua yang dapat dibaca, untuk menambah keilmuan.

Setelah bertahun-tahun kemudian, Ia melukiskan pengalaman selama membaca saat di tempat isolasi. Ia kemudian berkata; “Aku dapat bertemu di alam pikiran dan berbicara dengan para pemimpin-pemimpin besar revolusi Prancis, aku bertemu dengan pemimpin revolusi wanita di Paris. Dan aku bertemu dengan pemimpin Jerman.”

Bung Karno melanjutkan perkataannya; “Aku berjumpa dengan Karl Marx, Friedrich Engels, aku bertemu dengan Mazzini, dengan Garibaldi, dengan Plekanov, dengan Lenin, dengan Gandhi, Aku bertemu dengan Sun Yat-Sen, dengan Muhammad Ali Jinah, dengan Jose Rizal Mercado, yang ditembak mati oleh Spanyol tahun 1903”.

“Setelah bertahun tahun alam pikiran mengelilingi dunia, aku sering berdiskusi dengan seluruh pemimpin-pemimpin besar itu-aku semakin yakin bahwa manusia itu hakikatnya sama”.

Dari perkataan Bung Karno ini, berharap kepada diri sendiri dan seluruh pemuda, terkhusus kaum terpelajar Madura, bahkan se Indonesia. Dari apa yang katakana Bung Karno, mari bersama-sama merefleksikan kembali hal-hal positif yang telah dilakukannya. Bahwa kita perlu mempunyai nyali pemberani dan pantang menyerah. Lebih-lebih dalam meningkatkan kualitas dan mengasah expertise (keahlian).

Bagi Penulis sendiri, mengisi kemerdekaan yang relevan saat ini, yaitu salah satunya meneladani jejak langkah pejuang-pejuang kemerdekaan sebagai bentuk apresiasi perjuangan dan penghormatan kepada mereka dan perlu terus senantiasa digelorakan. Minimal dengan menjadi pecandu buku atau maniak buku sebagaimana Bung Karno.

Membaca buku sama dengan memperluas cakrawala berpikir, dan hal itu penting dilakukan oleh generasi muda yang bertanggung jawab atas navigator peradaban negara republik Indonesia. Mari bersama melakukan terobosan-terobosan baru, dengan berpikir visioner, energik, dan produktif.

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini