Tulisan ini, mengulas tentang sosok Kyai Chozin Siwalan Panji Sidoarjo. Beliau merupakan anak mantu dari Kyai Ya’qub. Ada cerita kekramatan beliau, salah satunya dapat diketahui dengan membaca tulisan di bawah ini.
Setelah Kyai Ya’qub sudah sepuh. Kegiatan Pesantren lebih dipasrahkan kepada anak mantunya, yaitu Kyai Chozin dan ponakannya, Kyai Hasyim bin Abdurrahim. Kyai Chozin adalah Kyai nyentrik, yang dikirimi salam oleh Imam Syafi’i (salah satu madzhab empat dalam tradisi Ahli Al-sunnah wa Al-jama’ah), melalui mimpi Kyai Kholil bin Abdullathif saat menunaikan ibadah haji.
Setelah Kyai Kholil bin Abdullathif pulang dari tanah Suci Mekkah, beliau bertanya kepada santri-santrinya di mana alamat Siwalan Panji itu. Kebetulan ada salah satu santrinya yang mengenal alamat tersebut, dan santri itulah yang kemudian menunjukkan alamat Kyai Chozin. Singkat cerita, Kyai Chozin menerima amanat tersebut, maka beliau mengamalkannya setiap bulan Ramadhan.
Bersamaan dengan itu, tersebarlah berita bahwa pelaksanaan khataman tafsir di Siwalan Panji adalah amanat dari Imam Syafi’i. Karena yang menyampaikan salam dan menceritakan hal tersebut adalah Kyai Kholil bin Abdullathif seorang ulama besar di Madura, maka Kyai Chozin menjadi masyhur. Banyak ulama besar di Jawa dan Madura pernah mengikuti hataman kitab Tafsir di Siwalan Panji, termasuk Kyai Ali Mas’ud.
Kyai Chozin semula hanya sebagai santri di Pesantren Siwalan Panji, namun beliau diambil mantu oleh Kyai Abdurrahim, dinikahkan dengan putrinya bernama Siti Maimunah. Pernikahan dengan Siti Maimunah dikarunia enam keturunan, yaitu Afiffah, Sholhah, Siti Zubaidah, Kyai Basuni, Muhsinah, dan Ruqayyah. Kemudian menikah lagi dengan putri Kyai Ya’qub bernama Siti Fatimah, dan dikarunia anak, bernama Moch. Abbas.
Pada Tahun 1926, Kyai Chozin mendirikan sebuah bangunan yang tidak jauh dari Siwalan panji yaitu di Buduran. Bangunan ini diperuntukan untuk Moch. Abbas (putranya) yang sejak 10 tahun menetap dan berguru di tanah suci Makkah. Awalnya, niat mendirikan bangunan hanya sebagai tempat kediaman putranya tersebut, sebab di Siwalan Panji sudah banyak generasi dan keturunan dari pengasuh yang lainnya.
Akan tetapi, rupanya kedatangan Kyai Abbas dari tanah suci ini mendapat sambutan sangat baik dari masyarakat sekitar Buduran sehingga mengharuskan untuk diubah menjadi pesantren. Menurut keterangan yang ada, semula pesantren di Buduran ini akan diasuh oleh Kyai Chozin sendiri, hanya saja kurang direstui oleh keluarga agar tetap fokus di Siwalan Panji. Kemudian diserahkanlah kepada Kyai Moch. Abbas untuk mengurus dan menjadi pengasuh di sana. Sebagai santri pertamanya adalah beberapa santri Kyai Chozin sendiri yang ada di Siwalan Panji.
Setelah Kyai Chozin wafat pada tahun 1955 M, amanat untuk mengadakan khataman tafsir Jalalain di setiap bulan Ramadhan dilanjutkan oleh Kyai Moch. Abbas, yang juga mewarisi sifat ayahandanya dengan kehidupam beliau yang sangat sederhana. Dikisahkan bahwa para Kyai pengasuh pesantren Buduran tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana dengan alas tidur yang sederhana pula. Karena sederhananya, semua uang yang dapat dari pemberian orang disimpan di bawah tikar tempat tidur sampai beliau meninggal baru diketahui jumlah uang dan banyak uang yang sudah tidak berlaku. Karena kesederhanaan inilah sehingga beliau disebut shufi ataupun waliyullah.[1]
Adapun nama lain Pesantren Siwalan Panji adalah Al-Hamdaniyah, yang dinisbatkan kepada pendirinya, Kyai Hamdani asal Pasuruan. Beliau mendirikan Pesantren tersebut, pada tahun 1787. Para alumninya, antara lain; KH. Hasyim Asy’ari, KH. Nachrowi Thohir Bungkuk, Mbah Hamid Abdullah Pasuruan, KH.R. As’ad Syamsul Arifin Situbondo, Mbah Ud Pagerwojo, Mbah Jaelani Tulangan, KH. Moch. Chozin, KH. Ali Mas’ud Pramian Sreseh Sampang dan banyak lagi lainnya.
[1] Data tentang Kyai Chozin dan PesantrenSiwalan Panji diambil dari salah satu karya ilmiah yang bisa diunduh pada laman perpustakaan digital UIN Sunan Ampel Surabaya; http://digilib.uinsby.ac.id/1959/4/Bab%203.pdf, dan http://digilib.uinsby.ac.id/6969/34/Bab%203.pdf.

