LEMBU PETENG: Cikal Bakal Raja-Raja Madura

Oleh: Dr. Wasid Mansyur, M.Fil.I

Disebutkan, konon Lembu Peteng adalah anak hilang dari pasangan Raja Brawijaya dan Nyai Wandan Kuning. Brawijaya merupakan raja terakhir dari kekuasaan Mojopahit. Ia pernah mengalami sakit yang cukup berat, tidak sembuh-sembuh dalam waktu yang cukup lama. Berbagai upaya dilakukan, hingga akhirnya mendatangkan para thabib (orang pinter) dari berbagai daerah kekuasannya.  Hasilnya, para Tabib merekomendasikan untuk bisa sembuh dari penyakitnya, sang Raja harus kawin dengan Wandan Kuning.

Rekomendasi para Tabib, bagi Brawijaya cukup berat dilakukan, mengingat nama Wandan Kuning adalah perempuan yang dikenal bukan turunan bangsawan, sekaligus wajahnya tidak berparas cantik. Tapi, keinginan sembuhnya, tetap mendorong Brawijaya untuk menikahi Wandan Kuning. Saatnya dalam waktu yang ditentukan, akhirnya Brawijaya betul-betul menikahi Wandan Kuning, meskipun dengan sangat berat.

Setelah dapat tiga hari, sungguh terjadi keajaiban luar biasa, ternyata penyakit Brawijaya berangsur angsur pulih. Dalam beberapa bulan, badan Brawijaya sembuh total dari penyakit yang disandangnya, badannya kembali seperti sedia kala. Berita lainnya, ia akan mendapatkan jabang bayi dari istrinya, karena Wandan Kuning sedang hamil tua.

Perjuangan Anak Hilang

Seiring perjalanan waktu, Wandan Kuning akhirnya melahirkan anak laki-laki yang berparas ganteng, dan diberinama Raden Bondan Kejawen.

Kehadiran anak, mestinya menjadi kebahagiaan keluarga. Tapi, bagi Brawijaya kehadiran putranya menjadi bencana sebab ia merasa malu, apalagi di lingkungan kerajaannya sebab Raden Bondan, lahir dari istri yang terpaksa dinikahinya, perempuan yang dikenal hina dan jelek.

Dari pada harus merasa malu diharapan rakyat dan tentaranya. Tanpa berpikir panjang lebar, Brawijaya membawa Wandan Kuning dan Raden Bondan keluar dari area lingkungan istana menuju sebuah desa di wilayah Madura, yang dikenal dengan nama Karang Jembu. Di desa ini, keduanya dititipkan kepada salah seorang petani yang miskin. Bersama petani ini, raden Bondan dan ibunya hidup. Keseharian Raden Bondan muda bertani sebagaimana layaknya masyarakat setempat. Hidupnya memprihatinkan; miskin dan terjebak dalam polah tingkah hidup yang buruk. Dari sini, kelak Raden Bondan dikenal di lingkungannya dengan sebutan “Lembu Peteng” (kerbau hitam), sebuah nama yang menjadi simbol prilakunya yang buruk.

Prilakunya yang buruk, muncul dari pemberontakan jiwanya, rasa malu dari Lembu Peteng atas kondisi yang dialaminya. Bagaimana tidak malu, ia putra raja yang dikenal memiliki kekuasaan yang luas, tapi hidupnya dalam kesengsaraan. Sungguh malu, itu yang tertanam dalam lubuk hati terdalam Lembu Peteng hingga akhirnya ia memilih keluar berkelana dari desa Karang Jembu dan menuju area pegunungan, yang dikenal dengan sebutan gunung Kadiyeng.

Lembu Peteng Menemukan Guru

Di gunung Kadiyeng, Lembu Peteng meratapi nasibnya, sekaligus melakukan olah batin (riyadhah), sambil menyiksa dirinya dengan sedikit makan dan mengurangi tidur, dengan harapan ia memperoleh kekuasaan yang mampu mengendalikan pulau Jawa, sebagaimana kekuasaan ayahnya, Brawijaya.

Rupanya riyadhah Lembu Peteng berhasil, hingga dalam waktu yang tidak lama, ia mendengar “suara asing/suara tanpa fisik”, yang mengatakan agar Lembu Peteng keluar dari pertapaannya menuju sebuah desa tertentu, untuk mencari seorang guru. Jika bertemu, kata suara tadi, berilah pelayan kepada sang Guru dengan total, ikhlas dan ikutilah segala perintahnya.

Singkat cerita, Lembu Peteng keluar dari pertapaannya. Ia melewati pegunungan, naik dan turun perbukitan. Menelusuri sawah dengan keluar masuk kampung-kampung lain. Pastinya, semua dilakukan dalam kondisi Lembu Peteng mengurangi makan, minum dan tidur. Ia berharap kelak memiliki kedudukan yang mulia  dan dimuliakan oleh masyarakatnya.

Setelah berjalan menelusuri pedesaan cukup lama, Lembu Peteng akhirnya bertemu dengan Ki Tarub. Ia pun mengenalkan dirinya. Tapi, nampaknya Ki Tarub memiliki mata batin yang luar biasa, ia mengetahui sebenarnya Lembu Peteng itu siapa?, setelah melihat paras wajahnya. Tanpa berpikir panjang, Lembu Peteng akhirnya berkata; “Aku menyerahkan jiwaku untuk menjadi santri dan berkhitmah total kepada panjenengan Ki Tarub, dengan harapan kelak aku memperoleh keberkahan hidup”.

Keinginan Lembu Peteng disambut gembira oleh Ki Tarub, apalagi Ki Tarub tahu betul bahwa Lembu Peteng adalah putra Brawijaya yang dibuang, dari istri Wandang kuning. Lantas terjadilah dialog antara keduanya;

Ki TARUB: “Wahai anakku, jika Anda berkhidmah padaku, maka kerjakanlah dengan benar dan sungguh sungguh. Dan jangan lupa, niat riyadhah batin dan tirakat untuk memperoleh impianmu menjadi raja dan penguasa.

LEMBU PETENG: “Aku akan mendengarkan dan taat terhadap perintah panjenengan Ki Tarub sebab inilah yang menjadi keinginanku. Dan, sungguh penerimaan panjenengan sebagai murid/santri adalah puncak dari kebahagiaanku agar kelak aku mendapat kehidupan yang berkah atas doa penjenengan setiap saat”.

Pelajaran Hikmah dari Lembu Peteng

Setelah itu, Lembu Peteng berkhitmah betul kepada Ki Tarub dengan penuh ketulusan, tanpa merasa dirinya adalah anak orang besar. Totalitas berkhitmah ini dalam perjalanannya, Lembu Peteng selaku murid mendapat bimbingan spiritual langsung dari Ki Tarub selaku gurunya. Kematangan batin Lembu Peteng dari hari ke hari semakin tumbuh dan matang, bahkan menariknya selalu mendapat pantauan langsung dari Ki Tarub.

Kerja keras, totalitas belajar dan ketulusan khitmah Lembu Peteng kepada Ki Tarub tidak sia sia, hingga akhirnya impiannya terkabulkan. Singkat cerita, dalam perjanan waktu Lembu Peteng dikenal sebagai Panglima yang memegang teritorial Wilayah Madura. Bukan itu saja, dengan ketulusannya berkhitmah pada Gurunya, Lembu Peteng menikah dengan Nawang Sih, yang merupakan putri Ki Tarub.

Cerita Lembu Peteng menjadi pelajaran bagi kita semua. Untuk menjadi hebat, tidak boleh menggunakan jalan pintas agar menuai keberkahan. Lembu Peteng menjadi panglima, tidak mengandalkan trah orang tuanya. Ia berproses secara tuntas, sambil totalitas mendekat sang Pemilik kekuasaan sejati, yaitu Allah SWT.

Menata batin dan  belajar soal hakekat memberikan pelayanan kepada yang lain adalah salah satu potret pelajaran hidup dari Lembu Peteng. Bahwa itu semua, bila dilakukan dengan tulus, tidak sembrono apalagi merebut kekuasaan dunia dengan mengorbankan rakyat, akan mengantarkan seseorang menjadi pemimpin yang betul-betul maslahat.

Sekali lagi, Lembu Peteng menjadi panglima dilalui dengan kerja keras dan tirakat batin, bukan jalan pintas. Karenanya, jangan berpikir jalan pintas, yang banyak mengorbankan pihak lain, dipandang sebagai jalan terbaik sebab keberkahan Lembu Peteng muncul dari totalitas proses, bukan berpikir total pada hasil. Semoga banyak model Lembu Peteng di Negeri ini, khususnya dalam kepemimpinan bangsa. Dan akhirnya, Lembu Peteng (kerbau hitam) menjadi Lembu Pote (kerbau putih).

Tulisan ini, disarikan dari Kitab Ahlal Musamarah fi Hikayah al-Auliya’ al-Asyrah (Manisnya Bekadang: Hikayat Wali Sepuluh), karya Mbah Fadhol Bangilan Tuban, beliau merupakan santri Hadlratusysyaikh Hasyim Asy’ari Jombang.

NB: Desa Karang Jembu dan Gunung Kadiyeng. Kalau memang ada di wilayah Madura, sebenarnya berada di Madura mana? Dan kecamatan mana?

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini