Decak kagum saya setelah membaca buku karya Hoirul Hafifi yang berjudul Minum Kopi Sembari Tengok Ke Belakang (Dramaturgi ke Dramaturg). Keberanian Arung (nama panggung Hoirul Hafifi) memaparkan masa lalunya di buku ini, membuat saya berdesah ‘waw’ berulang kali. Sejenak saya teringat ucapan Gobind Vasdev seorang Motivator asal Surabaya. Ia mengatakan begini; “merendahlah sampai tak ada seorangpun yang dapat merendahkanmu”. Barangkali keterbukaan Arung, bisa mengambil analogi begini; “bukalah sejelas-jelasnya lembaran masa lalumu sampai tidak ada seorangpun yang peduli dengan masalalumu”.
Memang tidak sama konteknya, tapi tujuannya bisa disamakan yaitu membuat orang lain ‘pasif’ memperkarakan masalalu Arung. Kalau dipahami sebagai strategi, maka upaya “merendahlah” dan “bukalah sejelas-jelasnya” ibarat memaksa orang melucuti senjatanya sendiri tanpa dipaksa, ia seolah tidak punya energi untuk mengangkat senjatanya. Ia tertekan mentalnya dan memudarkan daya kogniifnya. Istilah gaulnya; mati gaya. Disinilah salutnya saya pada sosok Arung dalam bukunya ini. Otomatis sayapun yang membacanya juga mati gaya, tak mampu memperkarakan masalalunya.
Baiklah! Saya tidak akan masuk melalui masalalu Arung. Saya akan masuk melalui pemahaman Arung tentang “Blater”. Saya penulis buku yang berjudul Blater; Falsafah, Perilaku, dan Interaksi Sosial. Terus terang, saya menulis tentang Blater karena gelisah setelah membaca buku Abdul Rozaki yang menyamakan Blater dengan Bajingan. Sangat berbeda dengan konsep Blater yang saya pahami semasa kecil. Saya memahami bahwa sosok Blater adalah orang yang bijaksana jauh dari tipu-tipu. Karena segala tindak tanduknya selalu diukur dengan “ajagha tengka” (menjaga etika). Tentu kebijaksanaan Blater yang saya maksud adalah bijaksana dalam ukuran dunia Blater.
Memang banyak orang yang terindikasi sebagai sosok Blater yang masalalunya pernah menjadi Bajingan. Namun seiring waktu, ada periode hidup yang membuatnya “insyaf”. Penyebabnya banyak hal. Ada yang karena anaknya meninggal. Ada karena istrinya meninggal. Dan ada karena bertemu dengan Kyai yang membuat hatinya bergetar sehingga ingin tobat. Makanya, kenapa orang Blater seringkali disebut sebagai Bajingan Insyaf. Karena memang untuk menjadi sosok Blater, harus siap meninggalkan perilaku-perilaku bejat sebelumnya.
Dari titik inilah, saya hendak mengkoreksi pengertian Arung dan penulis-penulis lainnya yang satu frame pemahaman tentang Blater. Arung menguatkan dengan pemahaman Qosim, dan tentu juga Rozaki. Menurut saya, mereka mengambil pengertian tentang Blater apa yang tampak saat itu. Misalnya tulisan Rozaki, ia mengambil kasus sepak terjang Ra Fuad saat menjadi Bupati Bangkalan. Rozaki menyusun variabel bahwa Ra Fuad adalah Blater, dan para pendukungnya adalah kalangan Blater. Di bukunya, Rozaki menganalisis langkah-langkah politik Ra Fuad yang seringkali memakai tindakan otoriter. Intinya jauh dari demokrasi. Nah! Sepertinya Rozaki melihat dan memahaminya pada panggung Blater saat itu.
Membaca tulisan Rozaki membuat saya gelisah. Sambil bertanya-tanya kalau memang Blater itu buruk, tapi kenapa sebutan itu menjadi sebuah kebanggaan bagi orang Madura. Adakah orang bodoh yang bangga disebut orang jahat? Sangat tidak logis. Kerancuan logika ini memantik saya untuk melakukan penelitian dengan pertanyaan dasar “samakah Blater dan Bajingan?”. Dari sekian orang-orang yang saya temui menjawab tidak sama. Sambil lalu, memberikan gambaran tentang perbedaan keduanya.
Jawaban narasumber dapat menyembuhkan kegelisahan saya. Lebih-lebih saat ketemu dengan Abdul Jalil, saat itu sebagai Sekretaris PCNU Kabupaten Bangkalan. Ia menceritakan bahwa pamannya yaitu KH. Adnan (Alm) dari desa Alas Kokon, Modung Bangkalan menjadikan nilai-nilai keblatéran sebagai rujukan mateppa’ téngka santrinya. Diceritakan dalam suatu acara, saat panitia sowan. Ia sempat memberikan wejangan panjang lebar tentang pasal ajhegeh téngka dalam kehidupan. Ia berkata; “Iye bender kakéh sé abedhă’agin acara, tapé kakéh koduh pablatér” (Iya benar, acara ini kamu yang mengadakan, tapi kamu harus memegang prinsip Blatér). Selanjutnya, salah satu santri menanyakan yang dimaksud pablatér. Ia menjawab; “misallah deyyeh Cong, acara réya bender ding kakéh, tapéh bede oréng sé lebbi seppo dhări kakéh, bhăn tamu undangan. Maggih penteran kakéh, tetep koduh petaberragin, mon endhă’ begi mon lo’ endhă’ yella” (misalnya begini Cung, acara ini benar punyamu, tapi ada orang yang lebih tua dan tamu undangan. Walaupun kamu lebih pintar dari mereka, kamu tetap harus menawarkan kepada mereka, kalau mau berikan, kalau tidak mau ya sudah).
Cerita tentang KH. Adnan (Alm) membuat saya berani memastikan bahwa istilah Blater mempunyai konsepsi ideal. Tentu jauh dari praktek Ra Fuad dan pendukungnya sebagaimana Rozaki, Qosim, dan Arung jelaskan dalam karya ilmiahnya. Konsepsi ideal Blater semakin kabur setelah seringkali terlibat dalam dunia politik. Sebutan Blater seringkali disalahgunakan untuk kepentingan politik sesaat tanpa memperdulikan distorsi sebutan Blater untuk generasi mendatang.
Nah, jangan-jangan Arung juga mengambil pengertian Blater dari distorsi ini. Saya kira, cerita Arung dalam bukunya cukup jelas bahwa orang-orang di lingkungan masa kecilnya yang dianggap Blater senyatanya bukanlah Blater, melainkan Bajingan. Karena mereka jauh dari inisiatif mateppa’ téngka yang mestinya satu kesatuan dengan sebutan Blater.
Alhasil, saya merasa perlu meluruskan anggapan keliru tentang Blater. Bagi saya istilah Blater merupakan bagian dari perjalanan sejarah Madura. Untuk itu, saya perlu mengajak generasi muda dengan menyajikan konsepsi ideal Blater agar terbebas dari anasir negatif yang tak sengaja maupun disengaja dilekatkan pada sebutan Blater. Sehingga terkesan Blater sama dengan Bajingan. Blater dan Bajingan sampai kapanpun berbeda dari segi konsepsi maupun proyeksi hidupnya.
Penulis: Muniri Faqod (Dosen STAI AL-Hamidiyah Bangkalan dan STAI Raudhatul Ulum Arrahmaniyah Sampang), penulis buku Blater: Falsafah, Perilaku, dan Interaksi Sosial.

