Saat orang Madura mempunyai masalah dengan orang lain, dan pilihan terakhir harus duel. Biasanya tidak langsung abak grabak (langsung pukul), tapi melihat-lihat dulu siapa yang akan dipukul.
Kalau sekiranya satu lawan satu dihitung bisa menang, pertimbangan selanjutnya adalah kekuatan di baliknya, bisa orang tuanya, saudaranya, dan lebelenah (sanak familinya) orang yang menjadi target.
Setelah dihitung seimbang, yang bersangkutan melanjutkan pamit (minta idzin) pada tetua yang dihormati dan mempunyai pengaruh di lingkaran keluarganya atau tetua kampung/desa . Tapi biasanya, tetua akan memberikan satu saran, yaitu mekker lanjheng.
Saran agar mekker lanjheng dari tetua, bisa memberikan pengaruh signifikan, tapi seringkali kalau berhubungan dengan harga diri yang sangat prinsipil, saran ini tidak diikuti. Karena tujuan yang bersangkutan bukan mendapatkan ijin, melainkan hanya bersifat pemberitahuan semata.
Mekker lanjheng secara bahasa berarti berpikir panjang. Kalimat ini lebih dekat pada sebuah saran agar seseorang memikirkan dampak dari perbuatan. Tidak ada kekhususan. Baik atau buruk perbuatan selayaknya dipikirkan dengan betul efeknya. Jadi, pribahasa mekker lanjheng bukan hanya berhubungan perbuatan buruk, misalnya mau duel.
Anjuran mekker lanjheng merupakan kebiasaan baik, tapi menjadi kebiasaan jelek kalau keterlaluan. Seseorang yang terlalu mekker lanjheng bisa jadi terjebak dalam keraguan akut, akibatnya hanya berputar-putar sepersi gasing atau jalan ditempat. Dan lambat membuat keputusan.
Walaupun kehidupan saat ini sedemikian rumit dan butuh keputusan yang cepat. Sepertinya mekker lanjheng tetap harus dilakukan. Setidaknya dengan pemaknaan baru, yang dimaksud mekker lanjheng adalah proses panjang yang dilakukan dengan ekstra untuk mencapai target dan meminimalisir kecerobohan.
Menurunkan intensitas kecerobohan perlu dilakukan beberapa hal. Pertama, menghimpun informasi dan pahami masalahnya. Memahami informasi dan dihubungkan dengan situasi saat ini sangat diperlukan dalam meyusun daftar hambatan dari beberapa pilihan yang akan dipilih.
Kedua, batasi opsi kemungkinan. Mungkin banyak pilihan yang bisa dilakukan, tapi terlalu banyak pilihan akan membingungkan, maka perlu dibatasi. Pilih yang terbaik. Ketiga, tanyakan kepada yang berpengalaman. Pastinya, banyak yang lebih berpengalaman dari kita, jangan malu bertanya karena bisa tersesat di jalan, begitu kata pribahasa.
Keempat, ingat target kita. Target harus sesuai dengan kapasitas yang dipunyai. Tentukan target, dan tulis langkah-langkah yang perlu diambil untuk mewujudkan target tersebut. Kelima, bayangkan target kita sudah tercapai. Setelah kita menulis langkah-langkah untuk mencapai target, selanjutnya bayangkan target itu sudah tercapai. Ingat! Keberadaan diwujudkan dalam dua tahap. Tahap ide dan realitas.
Keenam, berani mengambil resiko. Dibalik keputusan ada resiko, dibalik resiko ada kesuksesan menanti. Keputusan-resiko-kesuksesan adalah proses, nikmatilah prosesnya. Ketujuh, jaga emosi. Ada banyak cara meredakan emosi, tergantung yang nyaman buat kita. Ingat! emosi yang stabil bisa mengurangi 99% kecerobohan dalam membuat keputusan
Kedelapan, jaga pikiran. Jika emosi kita stabil, pikiran cendrung jernih. Pikiran yang jernih akan bisa membedakan mana yang positif dan negatif dengan baik. Kesembilan, doa dan tawakkal. Setelah kita melakukan delapan tahap di atas, tiba saatnya kita berdo’a untuk memastikan bahwa kita benar-benar serius mencapai target tersebut. Lalu memasrahkan semuanya pada yang Maha Kuasa. Biarkan Tuhan yang sibuk mewujudkan keinginan kita.
Demikian sembilan tahapan yang mesti dilakukan untuk mencapai target. Hemat penulis, inilah yang dimaksud mekker lanjheng dalam pemaknaan baru. Wallahu a’lam bi Al-shawaab
*Penulis: Muniri Faqod, S.HI, M.HI (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun dan Sekretaris Lakpesdam NU Bangkalan)

