Mengungkap sketsa peyoratif orang Madura terdapat di banyak karya orang non Madura. Pembacaan peyoratif tersebut sangat wajar, jika yang melakukan pembacaan adalah non Madura. Namun, sangat tidak wajar jika yang memberikan sketsa peyoratif orang Madura datang dari orang Madura sendiri.
Sketsa peyoratif orang madura dari orang non Madura, misalnya terdapat dalam bagian bahasan buku berjudul Tafsir Sejarah Nagara Kretagama karya Slamet Muljana (2006), tercium aroma Jawa yang superior – Madura yang inferior. Misalnya ulasan di bab IV dengan sub judul Kerajaan Majapahit yang mengisahkan peran orang Madura membuka perkampungan Tarik.
Kalimatnya begini; “Raden Wijaya menyampaikan usul kepada sang prabu untu membuat daerah Tarik menjadi hutan perburuan Raja Jayakatwang, karena sang prabu suka berburu. Usul itu disetujui tanpa curiga. Segera Raden Wijaya mengirim utusan untuk meminta tenaga kerja. Wiraraja tidak mengingkari janji, segera mengerahkan orang-orang Madura untuk diangkut ke Tarik”.
Mana yang bermasalah di susunan kalimat di atas? Yaitu kalimat; “meminta tenaga kerja, mengerahkan orang-orang Madura, dan diangkut ke Tarik”. Jika dirangkai menjadi satu kalimat, kurang lebih menjadi; orang-orang Madura dikerahkan untuk diangkut ke Tarik dijadikan tenaga kerja.
Dari kalimat ini, tidak sulit untuk menemukan jejak-jejak kolonialisme di zaman itu. Kolonialisasi dilakukan oleh kerajaan Kediri atas orang Madura. Jadi hadirnya Wiraraja, satu sisi sebagai pejabat buangan, di sisi yang lain menjadi kepanjangan tangan Jayakatwang.
Kalimat “meminta tenaga kerja” disampaikan Raden Wijaya kepada Wiraraja atas dasar kesepakatan keduanya, dan iapun menyanggupi. Ibaratkan orang yang menggenggam permen di tangannya, Wiraraja cukup mengambilnya beberapa untuk diberikan kepada Raden Wijaya. Ibarat permen, orang Madura dianggap berada dalam genggaman Wiraraja saat itu.
Kalimat selanjutnya, “mengerahkan orang-orang Madura”. Tentu mengandung pengertian relasi “yang dikuasai” dengan “yang menguasai”. Kata “mengerahkan” berarti memerintah banyak orang agar bergerak mengikuti yang dimauinya. Yang memerintah tentu hanya segelintir orang, atau malah satu orang dengan otoritas hegemoniknya.
Kalimat yang terakhir, “diangkut ke Tarik”. Menurut penulis, pemakaian kalimat ini sangat tidak manusia. Umumnya kata mengangkut dipakai untuk membawa benda mati, jika dipakai untuk mengangkut orang Madura, itu sama halnya menganggap mereka tidak berbeda dengan benda mati.
Tiga kalimat yang dijelaskan di atas, kentara sekali aroma kolonialnya. Mungkin menyebut Empu Prapanca sebagai penulis kitab Nagarakretagama sebagai orang yang tidak manusiawi terlalu berlebihan. Tapi faktanya ada susunan kalimat sedemikian rupa dalam karya besarnya. Mungkin saja dia memiliki kosa-kata yang terbatas, atau mungkin dia tanpa sengaja menjadi representasi penulis bergaya kolonial?.
Seumpama Empu Prapanca dihadirkan kembali untuk mempertanggung jawabkan karyanya, dengan berkata memang realitas saat itu seperti itu. Dalam kontek zamannya, orang-orang zaman dulu biasa menyerahkan hidupnya untuk para penguasa, karena penguasa dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi.
Bukankah secara teoritik ada pembenarannya dalam pemikiran Al-Maududi (w. 1979) bahwa kekuasaan politik bersifat integralistik dengan agama (Din Syamsudin: 1999). Jika agama dimaksudkan satu kesatuan dengan kebertuhanan, bisa saja dalam kontek zaman dulu, orang yang berkuasa berasal dari orang yang mempunyai kemampuan adikodrati yang diklaim berasal dari Tuhan. Atau orang sekitarnya, menganggap kemampuannya berasal dari Tuhan.
Tapi asumsi penulis, zaman Wiraraja sudah bukan mempertimbangkan kemampuan adikodrati, melainkan lebih karena berapa harta yang dimiliki untuk membayar anak buah yang bertugas sebagai pengendali sosial? Lebih miris lagi, jika mengasuh orang-orang yang jago dalam tindak kekerasan dengan tujuan hegemoni sosial.
Orang-orang yang jago dalam peran hegemonik, dalam tilikan Antonio Gramsci meliputi aparatus koersif yang melakukan pengendalian sosial dari jalur institusi-institusi yang memiliki kekuasaan struktural. Sedangkan orang-orang jago yang berperan dari jalur swasta berbayar, disebut aparatus hegemonik. Pastinya, Wiraraja memiliki amunisi-amunisi itu. Jadi ketundukan orang Madura kepada Wiraraja tidak alamiah, bukan?
Orang Madura sebagai The Other
Tindakan Wiraraja kala itu menganggap orang Madura sebagai The Other (Yang lain). Menempatkan manusia lain sebagai the other dalam istilah Spivak (1994) disebut subaltern. Menurutnya, subaltern bukan hanya kata tentang kelas tertentu bagi kelas lain yang tertindas, melainkan juga tentang pembatasa akses. Mereka tidak memiliki kebebasan bersuara dan cendrung berada dalam lingkup wacana hegemonik yang manipulatif, sehingga membuatnya tidak sadar atas apa yang mau dilakukan (Rahmat Setiawan: 2018).
Tidak hanya Wiraraja dan Raden Wijaya. Disadari atau tidak, Empu Prapanca melalui kalimat; “meminta tenaga kerja, mengerahkan orang-orang Madura, dan diangkut ke Tarik” telah menganggap orang Madura sebagai the other. Orang Madura adalah orang lain, yang tidak dimasukkan dalam ketegori manusia semestinya, sehingga harus ditundukkan atau dicerahkan karena masih belum beradab.
Wilayah Madura sebagai bagian kerajaan Jawa berlangsung hingga kerajaan Jawa-Islam. Di periode kekuasaan kerajaan Jawa-Islam, orang Jawa tetap mengamini, bahwa wilayah Madura sebagai yang harus ditundukkan, bahkan harus diperas dengan upeti yang memberatkan kerajaan Madura. Untuk itulah, Trunojoyo hingga Cakraningrat IV melakukan perlawanan (Aminudin Kasdi: 2003).
Di zaman kolonial Belanda. Orang Belanda kurang lebih sama dengan kerajaan-kerajaan Jawa. mengganggap orang Madura sebagai the other. Mulai dari yang memakai bedil dan yang memakai tinta, merekaseragam menggambarkan orang Madura sebagai kumpulan orang yang ‘tidak’ beradab.
Orang Belanda tidak hanya membicaran prilaku orang Madura, mereka juga merasani bentuk fisik orang Madura yang dapat dibedakan dengan orang Jawa. Perawakan lelaki Madura kekar, garang, kejam, beringas, muka tidak halus, tidak tampan, tidak luwes. Untuk perempuan Madura, digambarkan terbelakang, kaku, gemuk, jelek, dan cepat tua (Mien Rifa’i: 2007).
Gambaran-gambaran tentang lelaki dan perempuan Madura ditemukan oleh Mien Rifa’i dalam karya-karya sarjana Belanda yang mengulas tentang orang Madura. Tentu, ada karya-karya sarjana Belanda yang cendrung netral, menyampaikan beberapa kebaikan dan kelebihan orang Madura. Hanya saja, menurut penulis pembacaan yang datangnya dari luar ke dalam, sedikit banyak ada nuansa peyoratifnya (direndahkan).
Karya-Karya Bernuansa Peyorasi Orang Madura
Misalnya, buku berjudul; Perlawanan Penguasa Madura atas Hegemoni Jawa, yang ditulis Aminudin Kasdi (2003), ada kecendrungan peyoratif ulasannya, ia menonjolkan jiwa pemberontak orang Madura. Dasar asumsinya, dari sepak terjang Trunojoyo dan Cakraningrat IV. Kasdi abai dengan fakta penindasan peguasa Mataram yang memeras melalui upeti yang tinggi. Mereka memberontak bukan hanya untuk merebut kekuasaan Mataram, melainkan bentuk pembelaan atas penindasan.
Buku berjudul; Garam-Kekerasan dan Aduan Sapi karya Huub De Jonge (2011). Dibagian sub judul Sapi jantan dan Lelaki Madura; Aduan Sapi Madura. Jonge menyebutkan, bahwa Sapi merupakan istri kedua bagi laki-laki Madura. Mungkin anggapan Jonge berdasar pada prilaku laki-laki Madura yang sering mandi’in sapéh (memandikan sapi) dan ngaré’ rebbhe (ngarit rumput) untuk pakan sapi.
Menurut penulis, Jonge salah memaknai, mestinya dia melihat dari relasi sapi sebagai aset ekonomi bagi keluarga Madura, yang dalam timbangan maqashid Al-Syari’ah (tujuan-tujuan hukum Islam) merupakan salah satu yang harus dijaga.
Buku selanjutnya, adalah novel karya Kuntowijoyo berjudul; Impian Amerika. Ada sub judul; Orang Madura. Kalau tidak jeli membaca novel ini, niscaya tidak akan menemukan sisi peyoratifnya. Disebutkan dalam novel, adalah Soleman berasal dari Madura. Ia bekerja di kapal sebagai koki, tapi dia menolak memasak daging babi. Karena tidak ada orang yang memaksanya, dia hanya tiduran dan melamun, tidak ikut bekerja. Bukankah itu, menggambarkan sosok Soleman tidak tahu diri. Dia dibayar, tapi tidak bisa berdamai dengan pekerjaan memasak daging babi.
Demikian tulisan ini, hanya sebuah ikhtiar writing back sebagaimana diamanatkan oleh Edward Said (1998). Dalam bukunya berjudul Orientalisme menjelaskan bahwa menggugat praktik kolonialisme yang telah melahirkan kehidupan yang penuh rasisme, budaya subaltern, hibriditas dan kreofikasi yang didialektikakan melalui kesadaran atau gagasan dengan orientasi penundukan atas ke-Kita-an.
Menulis tentang kemaduran versi kita sendiri (orang Madura) harus dilakukan. Dari dalam melihat ke dalam dipakai untuk melihat keluar. Artinya, kita perlu menyadari sebagai orang Madura dengan segala romantikanya dan menyambut yang datang dari luar atau mendatangi yang di luar dengan semangat keterbukaan, kedewasaan, dan percaya diri. Wallahu a’lam bi Al-shawaab
***Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan dan Penulis buku berjudul Blater; Falsafah, Perilaku, dan Interaksi Sosial)

