Sering terjadi dalam satu kampung ada orang yang meninggal dunia bergilir. Biasanya jarakanya tidak sampai seminggu, bahkan hari yang sama, hanya beda jam. Kadang sampai 5 (lima) orang yang meninggal bahkan lebih.
Dulu, kampung Saya sering mengalami seperti ini. Apa sebabnya? Perlukah ini dicarikan jawabannya?
Setelah Saya membaca tulisan Gobind Vasdhev dalam bukukanya Happiness Inside, Saya memahami hal yang ilmiah. Tulisan Gobind berjudul “Bunuh Diri Ternyata Menular”, Saya jadikan rujukan mengkaji fenomena kematian yang ternyata menular. Dalam tulisan ini, merupakan kajian tentang fenomena tersebut;
Daftar Isi
Teori Resonansi Morfik
Ada sebuah terori yang dikembangkan oleh Rupert Sheldrake (ahli Biologi), yakni teori resonansi morfik. Dijelaskan dalam teori ini, kejadian di suatu tempat, memicu peristiwa yang sama terjadi ditempat lain.
Melalui teori ini, Rupert Sheldrake hendak menjelaskan bahwa berlaku rumus dasar dari alam, fenomena dan pola, fenomena yang dapat dipindahtangankan. Artinya, capaian tertentu di satu tempat yang dihasilkan oleh seseorang atau kelompok, berpeluang dicapai juga oleh orang atau kelompok lain, di tempat yang lain.
Berangkat dari teori resonansi morfik, tulisan Gobind Vasdev menjadi relevan untuk dibaca. Dan memicu Saya untuk mengurai sebab, kenapa ada fenomena kematian bergilir?
Law of attraction (Hukum Tarik Menarik)
Teori tarik-menarik, jika dihubungkan dengan fenomena kematian yang menular, dapat disedernakan bahwa sebab orang meninggal dunia, dikarenakan faktor diri seseorang yang berkeinginan meninggalkan dunia.
Salah satu contoh, kematian Uje (Ustad Jefri Al-Bukhori), dalam beberapa tahun terakhir Uje kerap sekali dalam ceramahnya sering membicarakan “kematian”. Menurutnya, sebuah kematian menjadi syarat untuk bertemu Allah Sang Kekasih yang paling dicintainya, isi dari ceramahnya mengisyaratkan keinginan untuk “mati” walaupun yang yang bersangkutan tidak menyadarinya.
Bisa jadi, tanpa disadari pula, Uje telah mengidzinkan dirinya untuk meninggalkan dunia, dan kematianpun datang seolah tanpa bisa diketahui. Namun, jika dibaca berdasar hukum tarik-menarik, maka usia Uje bisa diprediksikan.
Secara teoritis, karena begitu seringnya berpikir tentang kematian, dan berulang-ulang dan tanpa proses penetralan pikiran, maka bisa saja seseorang tanpa sengaja mengirimkan pesan pada jejaring sel-sel tubuhnya, bahwa dirinya menginginkan kematian. Saat keseluruhan diri menyepakati, terjadilah kematian tersebut, tanpa diketahui caranya, karena hanya Allah yang tau.
Dari fenomena kematian Uje, bisa dipahami satu poin penting, yakni faktor pikiran. Tidak peduli apakah bahasanya menginginkan kematian terjadi, atau menolak kematian, karena dua-duanya sama saja. Konsep pikiran tentang kematian, yang menjangkar di benak itulah yang menjadi daya magnet untuk menciptakan keadaan itu terjadi.
Dengan demikian, antara menginginkan dan menolak kematian mengandung daya magnetik yang sama, yaitu sama-sama ingin mati. Saat mengalami hal ini, seseorang tanpa disadari mengundang kematian.
Hukum Penyamaan Frekuensi Langsung
Kematian menular seperti yang terjadi di kampung Saya, mempunyai kesamaan dengan yang dimaksud Gobind tentang bunuh diri yang ternyata menular. Hal ini, tidak lepas dari bekerjanya hukum penyamaan frekuensi, yang pada prinsipnya tanpa disadari seseorang telah mengidzinkan dirinya meninggal dunia.
Hukum penyamaan frekuensi sangat sederhana penjelasannya, misalnya seseorang mendengar ada pengumuman bahwa telah meninggal Si Fulan, secara otomatis telah terjadi penyamaan frekuensi tanpa disadari oleh orang yang mendengarkan pengumuman tersebut
Penyamaan frekuensi yang dimaksud, adalah pengakuan bahwa “saya juga manusia yang juga pasti mati”. Hal lainnya, semisal mempunyai penyakit yang sama dengan orang yang diumumkan meninggal, atau permasalahan hidup yang sama, bisa menjadi bentuk-bentuk penyamaan frekuensi lanjutan, yang tak disadari. Yang akhirnya, menjadikannya meninggal dunia, karena dirinya tanpa disadari telah mengidzinkan dirinya sendiri, meninggal dunia.
Belajar dari Cara Hidup Suku Hunza
Kita bisa mempelajari fakta, tentang keberadaan Suku Hunza, yang konon mempunyai kisaran umur rata-rata mencapai 200 Tahun. Suku Hunza adalah suku yang tinggal dan hidup di kaki pegunungan Himalaya – Qashmir India. Usia mereka rata-rata mencapai 200 Tahun, sebanding dengan orang Indonesia yang berusia 45 Tahun. Dalam usia 200 tahun tersebut, orang-orang suku Hunza masih melakukan segala aktivitas, baik berladang, bertani, bahkan sering berolah raga seperti umumnya masyarakat Indonesia yang kisaran umurnya 45 tahun.
Berdasarkan data yang saya dapatkan melalui internet, umumnya Suku Hunza sangat toleran hidupnya, saling berbagi pada sesama masih sangat kental sekali. Mereka menghindari hidup berlebihan, dan memilih kesederhanaan hidup, bahkan mereka senang saling membantu dan bergotong royong dalam segala hal. Sikap ini mereka aplikasikan dimana saja, kapan saja, tanpa mengenal waktu serta keadaan. Berikut kebiasaan Suku Hunza berdasarkan hasil telusuran google, antara lain;
Menjaga Ketenangan Batin
Apa yang diterapkan oleh Suku Hunza, merupakan salah satu wujud nyata dalam kehidupan sebagai bentuk ketenangan jiwa dan kepuasan batin. Pada titik ini, dapat dipastikan bahwa mereka mendapat ketenangan berfikir dalam menyelesaikan permasalahan hidup. Sebagaimana yang dipahami, bahwa pada jiwa yang tenang terdapat fikiran yang jernih. Dari kejernihan berpikir ini, menjadi sebab sehatnya orang-orang suku Hunza secara fisik, dan berumur panjang.
Suka Gotong Royong dan Menjaga Alam
Di samping budaya gotong-royongnya masih kental, Suku Hunza pada umumnya senang dan gemar menjaga alam, dan jauh dari tindakan-tindakan yang merusak alam. Mereka sangat menjaga alamnya dari polusi udara dan lain lain, sehingga udara yang mereka hirup, air yang mereka minum, benar-benar bersih dan alami. Begitu juga dengan makanan-makanan yang mereka konsumsi hampir 100% adalah alami (Herbal), dan semua tanaman semisal Padi, Jagung, Tanaman, palawija dan lain-lainnya tidak pernah mereka berikan pupuk, atau insektisida yang mengandung racun.
Telaah Untuk Diri Sendiri
Fenomena Suku Hunza, bagi kita yang mengalami ketercemaran lahir-batin. Kalau dijadikan acuan perbandingan dengan tata kehidupan kita, sepertinya lebih banyak madzarat ketimbang manfaatnya. Bisa dilihat, dari cara hidup yang serba instan, dan tidak begitu peduli efeknya terhadap tubuh kita sendiri.
Dalam keadaan seperti ini, berpuasa menjadi sangat penting untuk dilakukan, dengan niatan agar kita dapat mengatur diri kita secara baik. Maka, sangat betul sekali ada ungkapan “Shumuu Tasihhu” (berpuasalah, maka kau akan sehat). Puasa menjadi sarana detox tubuh agar melakukan rehat dalam satu bulan, bahkan di luar bulan puasa, tidak ada salahnya jika kita menjadikan puasa sebagai gaya hidup.
Kesimpulannya, jika berkeinginan untuk panjang umur, tetapkan saja keinginan itu dari sekarang, selanjutnya netralkan pikiran dari keinginan mati maupun takut mati. Sehingga yang ada, hanya keinginan menjalani hidup dengan baik dan bahagia.
Menjalani hidup dengan baik dan bahagia, perlu menjaga beberapa hal, sebagaimana yang dilakukan oleh Suku Hunza, sebab penyakit datang karena kelengahan kita dalam mengatur pola makan dan gaya hidup sehari-hari. Serta menciptakan pikiran dan perasaan yang berkecendrungan positif, menciptakan alam sekitar dan gaya hidup yang positif, dan makan-makanan yang bersifat alami.
Alhasil, tulisan ini hanyalah sebatas renungan, maka kebenaran hasil renungan ini, saya kembalikan kepada yang Maha Mengetahui. Allahu’allam bi al-Shawab.
**Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan)

