Gaya Bicara Singkat Orang Madura

Muniri Faqod

Seringkali orang Madura tidak begitu mementingkan sisi Parole dalam berkomunikasi sehari-hari, yang penting jawaban atas pertanyaan dapat dimengerti oleh penanya.

Misalnya begini, suatu ketika saya bermain ke rumah teman, ketemulah saya dengan Ibunya. “Bik, Adnan de’ kimmah?” (Bibik, Adnan kemana?), tanya saya. Dijawab dengan singkat; “Entar nabbu”.

Adnan teman saya ini, punya sond sistem yang disewakan setiap ada acara penting, seperti imtihan, manten, maulid, dll. Selain istilah “entar nabbu”. Ibunya menyebut pekerjaan Adnan; “alakoh salon” (bekerja menyewakan sond sistem, sekaligus teknisinya).

Nah, kalau kalian bukan orang Madura atau pembendaharaan kosakata bahasa Maduranya sangat minim, jelas tidak akan mengerti istilah “entar nabbu” dan “alakoh salon”.

Banyak sekali istilah-istilah Madura yang singkat dan hanya bisa dipahami jika komunikator memahami sistem bahasa (langue) yang melingkupi istilah-istilah tersebut.

Sistem bahasa merupakan kesepakatan tak sadar, yang terdapat dalam benak para komunikator. Pada saat mendengar istilah “entar nabbu” dan “alakoh salon”, sebagai penanya tidak akan meminta penjelasan karena sudah memahami sistem bahasa yang melingkupinya.

Dalam interaksi sehari-hari orang Madura memang seringkali tidak menganggap penting berbahasa dengan standart Parole. Apalagi di Madura masyarakatnya cendrung “humble”, terbentur mata saja seperti ada keharusan menyapa, walaupun itu dilakukan hanya iseng saja. Akhirnya yang terjadi orang Madura seringkali memakai susunan kalimat yang singkat, baik yang bertanya dan yang menjawab; “Teng dim?” (datang dari mana?), dijawab; “budih” (belakang).

Tapi walaupun dengan pertanyaan dan jawaban singkat, Si Penanya dan yang menjawab sama-sama mengerti, itu karena ada kesepakatan sistem bahasa yang memicu kesepahaman. Ibarat papan catur, yang menentukan fungsionalitas bidak catur, maka benda apapun yang dijadikan ganti bidak catur “peluncur” yang hilang, walaupun hanya puntung rokok jika diletakkan di tempat Peluncur, maka tidak lagi sebagai puntung rokok tetapi sebagai Peluncur.

Maka dari itu, akan dipahami bahwa yang subtansial dalam bahasa adalah sistem bahasanya, bukan kosakata yang dipakai. Bagitu ditanya “entarrah kam?” (mau kemana?), kalau dijawab; “ka ade'”, artinya Anda saat mengamati dua orang yang sedang bertegur sapa tersebut, harus menganalisa maksud kata “ka ade'” hubungannya dengan arah yang dimaksud dan lingkungan sekitar dua orang yang sedang bertegur sapa tersebut.[]

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini