Hubungan Gambar Anak dan Kejiwaannya

Oleh: Muniri Faqod, S.HI, M.HI

Dulu sekali, Saya pernah mendengarkan penjelasan tentang hubungan kondisi kejiwaan anak dan pengaruhnya saat dewasa. Penjelasan ini, didapatkan dari Sudjiwo Tejo (Budayawan) dan Prof. Bagong Suyanto Drs., M.Si, (Dosen UNAIR Surabaya), berikut penjelasannya;

Amatan Anak Sejak Kecil dibawa Hingga Dewasa

Sujiwo Tejo (Mbah Tejo) bercerita saat mengisi pelatihan untuk anak-anak. Ada sekitar puluhan anak usia 12-an ke bawah. Dalam kesempatan itu, Mbah Tejo bertanya kepada anak-anak tersebut;

“Siapa yang pernah menyaksikan Ayah-Ibunya ciuman (bersikap mesra)?”

Ternyata hanya 20% yang mengacung

Kemudian Mbah Tejo melanjutkan pertanyaan kedua;

“Siapa yang pernah melihat Ayah-Ibunya bertengkar?”

Tak disangka, ternyata 80% mengacungkan tangan.

Kesimpulan Mbah Tejo, anak-anak yang hadir dipelatihan lebih terbiasa melihat kekerasan, daripada melihat keharmonisan.

Yang digambar Anak, Mewakili Suasana Batinnya

Dikesempatan yang lain, Pak Bagong salah satu dosen UNAIR Surabaya, pernah mengumpulkan anak-anak korban Sampit, beberapa tahun setelah konflik Sampit usai.

Pak Bagong meminta anak-anak untuk menggambar bebas (pilihan gambarnya dipasrahkan ke anak-anak). Dari semua yang hadir, ternyata kurang lebih 80% menggambar senjata tajam dan senjata api, sisanya 20% menggambar bunga dan pemandangan, semisal gunung, pepohonan dan sawah.

Gambar-gambar siswi-siwi dampingan Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan

Ujicoba yang dilakukan Mbah Tejo dan Pak Bagong sudah lewat, kurang lebih 10 tahunan. Saat itu, Pak Bagong memprediksi sekurang-kurangnya sekitar 20 tahun, rakyat Indonesia masih akan mengalami kesulitan menemukan anak-anak Indonesia, yang menjadi pemuda-pemudi yang mayoritas berprestasi dengan moralitas tinggi.

Ungkapan Pak Bagong memang sebatas asumsi, namun faktanya hingga saat ini, Indonesia masih keteteran perihal moralitas anak bangsa. Tawuran, narkoba, bulliying kepada teman sekolahnya, melawan orang tua, dan gampang terpantik nalar ekstrim.

Pak Bagong melanjutkan, jika orang tua masih terbiasa dengan kekerasan kepada anak, anak berpotensi mempunyai emosi yang labil saat dewasa. Akibatnya, anak-anak tersebut lamban menerima penyadaran.

Ketika lamban menerima penyadaran maka lamban juga menciptakan karya dalam hidupnya.

Ketika lamban dalam berkarya maka tentunya ada banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Ketika banyak waktu yang terbuang sia-sia, maka kompetisi hidup akan kacau, angkatan tua masih suka main-main di wilayahnya angkatan muda, sementara angkatan muda tak tau malu melangkahi wilayahnya angkatan tua.

Ketika kompetisi hidup kacau, maka kekacauan merambah segala aspek kehidupan.

Gambar dan Perkembangan Anak

Tahap-tahap perkembangan manusia menurut ahli psikologi perkembangan, menjadi empat kelompok; usia anak-anak (1-16 tahun), usia remaja (17-21 tahun), usia dewasa (22-60 tahun), dan usia lanjut/tua (60 tahun dan dst).

Penulis membatasi usia anak-anak rentang 4-6 tahun. Di usia ini, anak-anak sudah memiliki perkembangan yang cukup baik, dari segi psikis dan fisiknya. Selain itu, anak-anak di umur tersebut, sudah dapat berjalan, memegang, berlari, bicara, bercerita, bernyanyi, melompat, dan sudah dapat berkomunikasi dengan bahasa lisan yang baik.

Kemampuan-kemampuan anak di usia 4-6 tahun, orientasinya hanya satu, yaitu bermain. Bermain bagi anak merupakan proses perkembangan menuju kedewasaan. Kegiatan yang paling digrandungi biasanya ‘seni’. Melalui proses ‘seni’ inilah tahapan perjalanan menuju kedewasaan dilalui oleh anak-anak.

Salah satu seni yang digandrungi anak, adalah menggambar. Menggambar secara tidak langsung melibatkan rasa, karsa, dan cipta anak-anak. Pelibatan rasa, karsa, dan cipta saat anak-anak mengambar, dapat dijadikan media untuk membaca kondisi perkembangan jiwa mereka. Artinya, dengan melalui pengamatan hasil gambar, dapat diketahui perkembangan psikis mereka.

Dua Faktor Perkembangan Fisik dan Psikis Anak

Ada dua faktor yang mempengaruhi perkembangan fisik dan psikis anak, yaitu faktor pembawaan dan faktor lingkungan. Anak-anak yang perkembangannya baik, biasanya memiliki modal awal dari dua faktor ini. Jika salah satunya kurang baik, akan dapat menghambat perkembangannya. Terkadang hambatan datang dari faktor bawaan, untuk meminimalisirnya, maka perlu menghadirkan faktor lingkungan yang baik.

Ibu Rusmiyati saat menjadi fasilitator dari Konsensus Bhiruh Dheun mendampingi siswi-siswi SMPN Sunan Ampel Burneh

Melalui gambar-gambar yang dibuat anak, perkembangan fisik dan psikisnya dapat diprediksi. Semisal, ada anak yang menggambar orang sedang menggali sumur, biasanya anak tersebut sedang mengalami kesepian. Ada juga anak yang menggambar monster, biasanya anak ini sedang menghayalkan dirinya menjadi orang kuat dan hebat.

Untuk mengetahui tentang pemicu gambar-gambar anak, apakah karena dipicu faktor bawaan atau lingkungan, bisa dilihat dari normal tidaknya gambar yang dibuat, wajar tidakkah untuk seumurannya, jika gambarnya maju (seolah-olah hasil gambar usia anak di atasnya), berarti ada pengaruh positif dari lingkungannya. Jika sebaliknya, maka mungkin ada pengaruh negatif dari lingkungannya. Selanjutnya, tinggal digali lebih dalam kemungkinan-kemungkinan tersebut, dengan pendekatan persuasif kepada anak. Wallahu a’lam bi al-Shawaab

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini