Sebut saja Chotim. Saat ini, sudah menjadi Mahmud (Mama Muda). Ia pernah bercerita masa kecilnya. Sewaktu duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), kelas I sampai IV hampir semua mata pelajaran belum mampu dikuasai, lebih-lebih Matematika.
Dengan kemampuan yang seperti itu, Chotim sama sekali tak diunggulkan baik di keluarga maupun sekolahnya. Ia merasa frustasi. Otaknya terasa tumpul untuk memahami pelajaran. Jika ada Pekerjaan Rumah (PR), mesti Ibunya yang diminta untuk mengerjakan.
Suatu ketika, waktu kelas IV. Chotim mendapat tugas PR Mata pelajaran Matematika. Sesampainya di rumahnya, ia langsung memberikan buku PR kepada Ibunya, dan minta bantu dikerjakan, tanpa toleransi, pokoknya harus dikerjakan. Dengan sabar Ibunya mengerjakan PR-nya.
Seminggu kemudian, ketika Chotim hendak mengumpulkan PR. Ia dan teman-temannya saling membandingkan jawabannya, ternyata jawaban-jawaban PR-nya berbeda sama sekali dengan jawaban-jawaban teman-temannya. Ia merasakan kekhawatiran dan takut yang luar biasa.
Setelah PR dikumpulkan, dan mulai dikoreksi oleh gurunya, rasa khawatir dan takutnya semakin menjadi-jadi. Bak disambar petir di siang bolong. Kaget campur terharu. Ternyata, hanya PR-nya yang benar, sementara PR teman-temannya salah. Iapun mendapatkan apresiasi dari gurunya. Gurunya berkata; “Ternyata Chotim pintar juga ya, luar biasa!!!”.
Betapa saat itu, perasaan takut yang luar biasa berubah seketika, menjadi perasaan bangga yang luar biasa. Walaupun sebenarnya sudah tidak jujur tentang PR-nya. Tapi setelah kejadian itu, dia berubah drastis, dari yang awalnya sebagai anak dan murid yang tidak diunggulkan menjadi diunggulkan.
Chotim berubah menjadi anak yang bersemangat dan menjadi murid yang dikenal pintar, bahkan catur wulan berikutnya berhasil meraih rangking I.
Dari cerita ini, Penulis semakin sepakat pada pentingnya sebuah motivasi, tak hanya untuk anak usia dini. Motivasi penting untuk segala umur. Saling semangat menyemangati antara satu dengan yang lainnya. Lebih-lebih dari orang yang dianggap sebagai orang penting dalam kehidupan seseorang.
Bagi anak-anak usia dini, orang-orang yang diidolakan, biasanya tak jauh dari kedua orang tua, guru, dan teman-teman akrabnya. Bagi kita yang sudah terlanjut menjadi idola, lakukanlah hal mulia ini. Hanya dengan mengatakan sesuatu yang membuat orang lain terperanjat dan bersemangat.
Kenapa Chotim bisa mengalami perubahan mendadak itu? Saat Chotim mengalami rasa takut yang luar biasa, ternyata fakta mengatakan sebaliknya. Ia justru mengalami bahagia seketika. Konon, seseorang saat berada dalam rasa takut berubah seketika menjadi gembira, biasanya sugesti cepat masuk dan kuat mengjangkar di pikiran bawah sadar seseorang.
Pujian gurunya kepada Chotim telah menjadi bagian belief sytem-nya, yang sangat berpengaruh pada tindakan-tindakan selanjutnya, hingga kebiasaan, karakter dan nasibnya.
Kemungkinan rasa takut Chotim yang berlebihan itu, telah menempatkan rasanya pada titik ”pasrah” tingkat tinggi, kemungkinan sama dengan titik pasrah yang dialami orang yang sedang berdo’a. Dan akhirnya; “Kun Fayakun!” (Terjadilah Kehendak-Nya!).
Melalui cerita ini, Penulis menggaris bawahi pentingnya saling semangat menyemangati. Efeknya nyata pada energi kolektif untuk kemajuan bersama. Selain itu, tulisan ini menjadi dokumen tentang cerita masa kecil istriku sendiri. Chotim (Nur Chotimah Aziz) adalah istriku…hehe
*** Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan)

