Virus Covid-19 dalam Timbangan Iman atau Hanya Subjektifitas Kita?

Oleh: Muniri Faqod, S.HI, M.HI

Sudah banyak yang menjadi korban dari virus Covid-19. Ini wabah dunia. Orang Indonesiapun tak luput dari giliran terjangkit virus ini. China, Iran, dan Italia merupakan Negara yang warganya banyak menjadi korban. Tiga Negara tersebut, merupakan Negara yang maju ilmu pengetahuan dan teknologinya, sedangkan Indonesia levelnya masih di bawah Negara-negara ini. Namun, melihat dari media. Orang Indonesia cukup percaya diri menghadapinya.

Sebagian orang Indonesia percaya, untuk menghentikan gerak Covid-19 bisa dengan do’a-do’a (do’a tolak balak). bukan dengan cara social distancing (menjaga jarak sosial) sebagaimana anjuran ilmuan kedokteran, kalaupun terpaksa keluar dan berkumpul dengan banyak orang harus memakai masker dan berjarak 1 (satu) meter antara orang satu dan lainnya.

Anehnya juga, walaupun anjuran dokter ini berbasis data persebaran virus di Negara-negara terdampak, bagi orang Indonesia yang percaya dengan do’a-do’a bisa menghentikan gerak virus beranggapan memilih cara social distancing dianggap imannya lemah (tidak kuat). Padahal cara social distancing bagian dari sikap tawakal, dan masih sesuai dengan hadits Nabi.

Kata Nabi; “ikatlah untamu lalu bertawakkallah kepada Allah”. Hadits ini, merupakan anjuran agar berikhtiar dulu selanjutnya tawakkal. Urusan kecurigaan dan ketakutan Masjid sepi, sepertinya itu berlebihan dan minim pengetahuan sejarah saja. Zaman Sahabat (menurut Quraisy Shihab) pernah terjadi hujan lebat, dan ketika itu adzan dirubah redaksinya; “shalatlah di rumah masing-masing”. Itu artinya, nalar agama selalu mempertimbangkan kesehatan dan kemudahan. Jadi tidak ada hubungannya, orang memilih cara social distancing dengan kualitas iman seseorang.

Iman atau Subjektifitas Kita?

Manusia dengan pikirannya, menampilkan beberapa hal penting yang membedakan manusia satu dengan lainnya. Ini yang disebut dunia internal pikiran. Di dalamnya ada bagian-bagian yang saling berkonstribusi dan menghasilkan sebuah pikiran. Dari pikiran inilah konsepsi tentang iman seseoarang ditakar. Hasil takarannya selalu melibatkan kepentingan personal. Berikut yang berada dalam internal pikiran seseorang, antara lain;

Pengalaman Subjektif

Setiap orang pasti mempunyai pengalaman, baik positif maupun negatif. Semuanya tidak pernah hilang dari ingatan. Seseorang yang mengalami kelupaan atas satu pengalaman subjektifnya, itu hanya disebabkan tertumpuk dengan pengalaman-pengalaman yang lain.

Ingatan yang terlupakan tersebut, sewaktu-waktu akan terpantik keluar, jika ada pengalaman yang serupa atau sama sekali beda. Setiap pengalaman baru yang diterima oleh seseorang, akan senantiasa didialogkan oleh pikiran dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Hasil dialog antara pengalaman lama dengan baru akan ditentukan seberapa dominankah antara yang positif dan yang negatif. 

Yang positif  dianggap yang berharga, penting dan signifikan bagi seseorang. Sejauh perjalanan hidupnya, seseorang akan menerima nilai-nilai ini dalam lingkungannya, baik keluarga, sekolah dan masyarakat. Seperangkat nilai-nilai ini, masuk ke pikiran bawah sadarnya, dan secara otomatis bekerja memfilter informasi baru yang datang. Jika ternyata dianggap tidak signifikan seseorang akan menangguhkan, atau bahkan menolaknya. Demikian juga saat orang memilih cara social distancing atau memilih berdo’a tolak balak menghadapi covid-19.

Pola Pikir

Pola pikir adalah cara otak dan akal menerima, memproses, menganalisa, mempersepsi, dan membuat kesimpulan terhadap informasi yang masuk melalui panca indera. Pola pikir terbentuk dari beberapa bahan, antara lain;

(1) Informasi-informasi yang dimasukkan ke dalam pikiran seseorang, baik disadari maupun tidak disadari;

(2) Secara alamiah seseorang pasti mempunyai figur otoritas. Figur otoritas adalah seseorang yang dikagumi dan dipilih oleh seseorang untuk dijadikan referensi dalam menjalani hidupnya, bisa dari kalangan keluarganya atau seseorang yang mempunyai kelebihan tertentu yang dianggap pantas menjadi panutan;

(3) Pilihan tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi pola pikir seseorang. Semua tindakan berasal dari pikiran. Pola pikir jika terus diulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Sedangkan kebiasaan seseorang akan menjadi pola pikir, selanjutnya nasib seseorang tidak jauh dari tampakan pola pikirnya;

Nah, informasi yang dimasukkan ke dalam pikiran, pendapat figur otoritas, dan kebiasaan yang telah menjadi pola pikir, sangat menentukan seseorang dalam memilih cara social distancing atau memilih berdo’a tolak balak menghadapi covid-19.  

Untuk berbicara Iman lebih lanjut, di bawah ini ada cerita sedikit tentang Nabi Ibrahim saat mencari Tuhan, dan juga cerita tentang konsekuensi logis orang ber-Tuhan di muka bumi.

Nabi Ibrahim Mencari Tuhan

Saat Nabi Ibrahim merenung dan berpikir, siapakah Tuhan yang sebenarnya? Iapun berasumsi bahwa Tuhan adalah sesuatu yang indah di atas sana. Seindah gemerlap langit malam yang dipenuhi bintang-bintang dan rembulan memancarkan sinarnya.

Saat menjelang pagi, ternyata keindahan langit yang dilihatnya pada malam hari sirna, tergantikan terang Matahari. Iapun kecewa. Lalu, asumsinya beralih pada matahari, Ia beranggapan sesuatu yang terang dan besar ini adalah Tuhannya. Iapun merasa kecewa saat matahari tenggelam, dan yang terang tergantikan gelap malam.

Cerita Nabi Ibrahim saat proses pencarian Tuhan dijelaskan dalam Alquran. Dan pada saat pencarian ini, Ia dipertemukan dengan rasa kecewa, karena dugaannya berkali-kali keliru. Tidak jelas diceritakan bagaimana peralihan kegalauan batinnya, hingga akhirnya Ia mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya dzat yang patut disembah.

Namun, dari rasa kecewa yang dialaminya, menjadi sebuah gambaran bahwa Tuhan mestinya yang mewakili keabadian, yang tak akan pernah timbul‐tenggelam layaknya benda‐benda langit yang diduganya sebagai Tuhan. Selanjutnya Nabi Ibrahim menyebut Tuhan, dengan sebutan Allah.  

M. Quraisy Shihab dalam bukunya yang berjudul Wawasan Alquran, mengajukan tiga argumentasi yang bisa ajukan untuk menjelaskan adanya Allah, yaitu kosmologis, ontologis, dan teleologis.

Bukti Kosmologis

Bukti kosmologis, merupakan pembuktian keberadaan Allah berdasar pada hukum sebab-akibat, bahwa semua keberadaan pasti ada yang meng-adakan. Demikian seterusnya hingga terakhir tertuju pada kausa prima (penyebab tunggal), yakni Allah SWT.

Bukti Ontologis

Bukti selanjutnya adalah ontologis, yang didasari pada suatu anggapan bahwa setiap manusia mempunyai ide tentang dzat yang mempunyai kekuasaan di atas segala-galanya.

Bukti Teleologis

Yang terakhir, argumen teleologis, yang berdasar pada bukti keseragaman dan keserasian alam semesta. Tanpa ada dzat yang Maha Kreatif, tak mungkin ada satu kekuatan yang mengatur keseragaman dan keserasian di dalamnya.

Idealnya, tiga argumentasi keberadaan Allah (kosmologis, ontologis, dan teleologis) bisa dianggap cukup untuk sekedar pencarian bukti wujud-Nya, selebihnya berhubungan dengan hidayah Allah itu sendiri.

Awalnnya Tentang Konsep yang Ghaib

Lebih lanjut, untuk memahami konsep ke-Tuhanan, perlu memahami secara filosofis proses pemaknaan tentang konsep Tuhan. Awalnya dari Sang Ghaib, kemudian manusia menangkap kesan dari Sang Ghaib, dan manusia menganggap Sang Ghaib sebagai Tuhan universal.

Tuhan Universal

Sebagai Tuhan universal, maka tentunya tak terbatasi oleh ruang dan waktu, tak terdefinisikan, dan bukan milik manusia (suku, etnis, bangsa) tertentu, melainkan milik semua manusia yang ada di dunia. Namun, seiring perjalanan manusia sadar adanya Sang Ghaib. Mereka mencoba memaknai keberadaan Sang Ghaib, kemudian menghubungkannya dengan ruang dan waktu dimana manusia ini hidup di dunia.

Tuhan Komunal

Efek dari ruang dan waktu yang terus berubah, design tentang Sang Ghaib berkecendrungan berbeda antar manusia dibelahan bumi manapun. Sementara di sisi yang lain, semua manusia cendrung bersepakat bahwa Sang Ghaib adalah Sang Penolong sejati dan menjadi tempat pelarian semua ciptaan untuk meminta pertolongan. Maka, tidak aneh di zaman peperangan dulu, kedua belah pihak sama-sama berdo’a kepada Tuhannya masing-masing, dan do’anya sama yakni meminta kemenangan dan perlindungan. Saat Sang Ghaib dimaknai sebagai milik manusia (suku, etnis, bangsa) tertentu, saat itulah manusia menurunkan derajat Tuhan universal menjadi Tuhan komunal.

Tuhan personal

Selanjutnya, setelah Sang Ghaib dimaknai sebagai Tuhan komunal, tak menutup kemungkinan Sang Ghaib dimaknai dalam lingkup personal, dan tentu akhirnya menjadi Tuhan personal. Sebagai makhluk ruhani. Semua manusia di belahan dunia manapun pasti mempunyai pengalaman ruhani. Pengalaman ruhani ini yang nantinya menjadi pemantik untuk memaknai kediriannya, dirinya dengan alam semesta, dan dirinya dengan Sang Ghaib. Hasil dari pemaknaan ini, sebagian besar antara manusia satu dan lainnya berkecendrungan berbeda. Demikian juga adanya perbedaan pandangan tentang memilih cara social distancing atau memilih berdo’a tolak balak menghadapi covid-19. Wallahu a’lam bi al-shawaab

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini