Cerita Mukidi Menghadapi Wabah dengan Sikap Lolelo

Oleh: Muniri Faqod, S.HI, M.HI

Asal Mula Kata Lolelo

Di sebuah desa yang banyak ditumbuhi pohon rindang, desa Laok Songai disitulah Mbah Faqih tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Mbah Faqih seorang Sufi, selama ini interaksinya lebih banyak bersama dengan orang-orang kampung. Sebagai orang yang dianggap paham ajaran Agama, ia sering dimintai wejangan, beliaupun memberi jawaban dengan cara lolelo (santai). Untuk menjelaskan ajaran-ajaran rumit sekitar ilmu hidup, beliau menyederhanakan dengan memunculkan satu istilah yang gampang dicerna, gampang diingat, dan tentu gampang viral.

Menyikapi semua persoalan dengan sikap lolelo, sering dianjurkan kepada orang lain. Tidak semua orang tau maksudnya, bagi yang paham akan tersenyum, bagi yang belum paham cendrung merenung. Mukidi awalnya juga tidak tau maksudnya, lalu iapun merenung. Kemudian, ia mencoba untuk menafsirkan maksud kata “lolelo”. Mukidi mempunyai anggapan, bahwa setiap kata atau kalimat yang gampang dicerna, diingat, dan viral pasti ada pesan tersembunyi.

Mukidi walaupun orangnya lugu, tapi ia menguasai ilmu titen (ilmu mengamati). Dulu Mukidi, suka sekali dengan nyanyian “Udin Sedunia”, dan lagu tersebut sempat viral. Firasat Mukidi waktu itu, bahwa akan ada kejadian nasional yang akan menjadi berita internasional, ternyata tak lama dari viralnya lagu tersebut, Nazaruddin menjadi buron, dan lari ke luar negeri, dari luar negeri ia menembaki orang-orang yang terindikasi menjebaknya. 

Mukidi menduga walaupun level viralnya kata lolelo jauh di bawah lagu “Udin Sedunia”, kini sikap lolelo menemukan momentumnya. Merebaknya wabah yang mendunia dan menular ke Indonesia, seolah menggelitik kata lolelo agar muncul kepermukaan dan segera menjadi gaya hidup agar imun tubuh tetap maksimal, dan dapat menangkal wabah yang saat ini sedang viral.

Sikap lolelo mengindikasikan agar tenang, dan tidak panik menghadapi wabah. Tapi bukan berarti meremehkan. Memilih tenang, menjauhkan diri dari kepanikan. Kata dokter, kepanikan dapat menurunkan system imun tubuh. Kemampuan sel darah putih untuk melawan infeksi (limfosit) berkurang. Makin rendah limfosit, makin rentan tubuh seseorang terinfeksi virus, termasuk influenza dan peradangan.

Kata Lolelo dan Padanannya

Konon, Sunan Kalijogo pernah membuat karya seni berjudul Sluku-Sluku Bathok, dan ternyata rangkaian kalimatnya memakai bahasa Arab; Usluk-Usluk Badnaka, Badnaka Lailaha Illallah (Masuk-masuklah bathinmu, bathinmu kepada Allah). Mungkin saja, Mbah Faqih memunculkan kata lolelo terinspirasi dari model karya Sunan Kali Jogo ini.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa orang yang ketergantungan hatinya hanya kepada Allah, dapat menempatkan selain Allah pada tempatnya, ia bisa bijaksana menempatkan segala hal, kurang lebih seperti dalam pepatah Madura: “Kennengah kennengih, lakonah lakonih” (Tempatnya tempati, pekerjaannya kerjakan).

Selain itu kata lolelo juga berkesesuaian dengan syair ciptaan R. Sastro Kantono, ada bait yang bunyinya begini: “Langgeng…Tanpo susah, tanpo seneng, anteng manteng, sugeng jeneng”. Artinya, apabila orang tauhidnya sudah jumeneng, berkecendrungan tak larut dalam duka dan tak larut dalam suka.

Jika memakai ilmu gatu’ matuk (ilmu cocok-mencocokkan). Mukidi menafsirkan, bahwa kata lolelo, merupakan penyederhanaan dari kalimat tauhid lailaha illallah. Penyederhanaan ini, menurut Mukidi bisa menjadi media dakwah, karena kata lolelo bisa menjadi simbol imajener kalimat tauhid, sedangkan kalimat tauhid sendiri merupakan media hantar mendekat kepada Allah.

Sebagaimana artinya, kalimat lailaha illalah mempunyai arti “tiada Tuhan selain Allah”. Lebih dalam lagi bisa ditafsirkan “Tiada ketergantungan hati, selain kepada Allah”. Artinya, kalimat tauhid ini, merupakan sebuah anjuran, agar semua orang sedapat mungkin bisa memalingkan ketergantungan hatinya kepada selain Allah, dan tentu memasrahkan hidup dan matinya kepada Allah.

Pasrah bukan berarti meniadakan ikhtiar, malah dalam salah satu ayat Alqur’an disebutkan: “faidza azamta fatawakkal ‘ala Allahi” (Jika kau sudah berusaha sekuat tenaga, maka pasrahkan semuanya kepada Allah). Orang-orang yang berpendapat, bahwa hidup dan mati Allah yang mengaturnya, pendapat ini salah jika tidak melakukan ikhtiar sebelumnya.

Anjuran lolelo adalah tuntunan agar mengembalikan semuanya kepada Allah, dengan kembali kepada Allah maka manusia pasti selamat dari kepanikan yang saat ini dicobakan melalui sebuah wabah yang sedang mendunia.

Aaamiiin

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini