
Semenjak wabah Corona melanda dunia, termasuk Indonesia, kita dihadirkan oleh pemandangan beragam dari prilaku manusia; dari yang bersikap santai-cuek, waspada hingga panic mengingat wabah Corona terus menyebar keberbagai daerah dan korbanpun terus berjatuhan dari status orang dalam pemantauan (ODP), pasien dengan pengawasan (PDP) hinga suspect Corona.
Perbedaan prilaku ini juga terjadi dalam memaknai spirit agama kaitannya dengan Corona. Ada kelompok yang rasionalis (mu’tazily) berpikir bahwa pendekatan ilmiah rasional adalah satu-satunya cara untuk mengatasi wabah ini, di samping ada kelompok lain yang bepijak pada dasar teologis-jabariyah yang mengandalkan do’a. bukankah tidak sedikit urusan dunia dengan doapun bisa terurai dengan keyakinan bahwa Allah yang menjadikan sesuatu, termasuk Corona, dan sangat mudah menghilangkan.
Kecenderungan ini semestinya tidak perlu dibentur-benturkan. Pasalnya, Islam secara utuh bergerakdi tengah mempertimbangkan kekuatan do’a, sekaligus memperhatikan dasar-dasar ilmiah rasional, setidaknya berkaitan dengan hokum sebab akibat. Pembenturan yang berlebihan tidak akan memberikan solusi terbaik dalam kondisi Corona terus menyebar, apalagi bila isu-isu Corona ditunggangi oleh kepentingan dunia sesaat, dari pada kepentingan kemanusiaan.
Maka, Corona telah menjadi bagian dari musibah semua manusia, yang harus disikapi dengan cara-cara manusia. Tidak perlu berlebihan sebab manusia diberi akal —dengan keterbatasannya agar dibuat berpikir produktif untuk menghindar atau ikut terlibat menyembuhkan secara fisik mereka yang terjangkit Corona sebagaimana dilakukan para dokter. Dan jangan pula berlagak seperti Tuhan, yang berdalih dapat menyembuhkan dengan resep jitunya.
Begitulah, para agamawan –dari ustad, kiai, pastur, pendeta dan lain-lain—bagian untuk menggiring umat untuk turut serta membuka pintu langit agar kiranya Allah SWT menurunkan rahmatNya hingga lepas lebih cepat dari cobaan Corona. Agamawan harus membangun optimism umat dan memahamkan bahwa Corona bukan makhluk Abadi, yang Abadi hanyalah gusti Allah SWT. Kembali kepada Allah dengan berdo’a adalah salah satu alternative sebab kita sadar akal juga memiliki kelemahan.
Seimbang dengan Bersabar
Bersabar adalah kunci pamungkas menghadapi Corona. Teologi atas konsep sabar di tengah wabah dan cobaan banyak ditemukan dalam al-Qur’an melalui kisah para Nabi. Sebut saja misalnya, Nabi Ayyub As. Begitu besar cobaannya; mulai semua anaknya meninggal, kekayaan habis hingga istri dan keluarganya meninggalkan sebatangkara di tengah penyakit yang menggerogoti Beliau.
Al-hasil, Nabi Ayyub bisa melewati cobaan ini dengan penuh kesabaran dan keyakinan bahwa cobaan akan berlalu hingga pertolongan Allah hadir dengan memberikan isyarat kesembuhan agar Ayyub beranjak dari tempatnya untuk mandi dan minum air yang belum ada sebelumnya. Air adalah wasilah kesembuhan, dan Allah pemantik utama sembuhnya Ayyub.
Karennya, sabar adalah kunci. Jangan panic sebab panic akan membunuh akal sehat dan bertambah mudah terserang penyakit. Imam Mawardi dalam kitabnya Adab al-Dunyawa al-Din, 287 mengatakan yang artinya sebagai berikut:
“Jika orang melupakan diam dan tidak mau bersabar, niscaya kesusahan akan semakin meningkat. Yang terjadi kemudian, bisanya hanya berkeluh resah dan tak menemukan kesadaran batin”
Oleh karenanya, di tengah musibah menyebarnya virus Covid 19 (Corona) membumikan teologi sabar menjadi sangat penting. Semua harus bersabar mengambil perannya masing-masing. Dokter harus sabar memberikan pelayanan prima, pemerintah harus menjadi abdi Negara yang sunguh-sungguh dengan memberikan alternative kebijakan yang lebih cerdas, dan agamawan terus berdo’a membuka pintu langit agar Allah menurunkan pertolonganNya.
Lebih dari itu, masyarakat juga harus bersabar atau berusaha bersabar untuk tidak keluar rumah, untuk memperhatikan protocol kesehatan, dan menghindar kerumunan manusia (social distance/physical distance). Jika tidak memungkinkan, sebab kebutuhan mendesak, pastikan rasa aman dan memberikan keamanan sebagai kunci dengan memakai masker, hand sanitizer, dan lain-lain sesuai standar kesehatan.
Selebihnya, jangan bermain dengan isu Corona untuk mengail keuntungan jangka pendek yang tidak sesuai prosedur, apalagi bertentangan dengan agama. Jangan sebar informasi hoak kaitan Corona melalui medsos yang membuat panic dan takut publik. Lebih baik bangun optimisme agar kita bersama-sama keluar dari musibah Corona dengan penuh kegembiraan, sekaligus keimanan yang makin kuat.
Akhirnya, mari bangun kesabaran kelas tinggi dengan penuh keseimbangan, yakni seimbang menguatkan energy keimanan dengan perbanyak ibadah dan berdo’a kepada Allah SWT., dan seimbang meneguhkan fungsi pendekatan rasional ilmiah agar kiranya virus covid 19 segera berakhir melalui edukasi masyarakat hingga melakukan tindakan medis penanganan bagi yang berstatus ODP, PDP, dan suspect Corona. Semoga Allah terus memberikan pertolongan-Nya dan pada dokter diberi kekuatan melimpah. Aaamiiin

