“Qul al-Haq Walau Kana Murran (Katakanlah kebenaran walaupun itu pahit)”
Barangkali hadits di atas, bisa dijadikan dasar keharusan seseorang menyampaikan kebenaran walaupun pada akhirnya akan banyak orang merasa tersinggung dan marah.
Namun, tidak menyampaikan kebenaran bukan berarti salah, mungkin hanya naif saja. Kebenaran punya cara sendiri untuk diungkap. Menyembunyikan kebenaran ibarat orang sedang menyembunyikan buah duren, walaupun diperami dibalik tumpukan kain, saat buah duren masak, baunya akan mencari celah untuk menubruk lubang hidung. Bau buah duren akan segera tercium, terkecuali bagi orang yang sedang influenza.
Saat buah duren sudah masak, penyukanya tak mungkin membiarkan menganggur, buah duren akan disantap dengan lahap, terkecuali penyuka buah duren yang sedang mengidap asam urat akut.
Kebenaran, kurang lebih sama dengan buah duren saat munculnya. Kebenaran, cendrung menjadi hidangan dalam obrolan, mulai dari skala warung kopi hingga skala elit yang ditayangkan di TV One, terkecuali orang yang jengah dengan topik obrolan.
Mengobrolkan kebenaran sebaiknya dengan santai, karena obrolan yang santai akan ada nuansa kritik otokritik, alias bukan kritik saja. Obrolan yang hanya kritik saja, maka hanya menunjukkan dan membandingkan kesalahan orang lain, biasanya mempertanyakan sinkron tidaknya antara prinsip perjuangan dengan prakteknya, sedangkan otokritik merupakan upaya menemukan kesalahan diri sendiri, yang berkaitan dengan sinkron tidaknya antara prinsip perjuangan dengan prakteknya.
Memadukan kritik dan otokritik hanya efektif dalam obrolan santai, yang terlibat di dalamnya bersama-sama mencari dan menemukan kebenaran berdasarkan fakta-fakta sekitar perjuangan dan prakteknya, serta menjadikan kesalahan-kesalahan yang ada sebelumnya dijadikan pembelajaran agar tidak terjadi pengulangan di masa depan.
Mendebatkan Kebenaran
Mendebatkan kebenaran boleh-boleh saja, hanya saja perdebatan sering tidak menghasilkan jalan keluar dari persoalan, kalaupun bisa menyelesaikan persoalan, seringkali menyisakan amarah dan dendam kesumat.
Orang yang sedang berdebat, terkadang sering melupakan fitrah perbedaan bahwa setiap orang mempunyai pikiran yang berbeda. Setiap orang mempunyai pola pikir yang berbeda-beda dalam menerima, memproses, menganalisa, mempersepsi, dan membuat kesimpulan terhadap informasi yang diterimanya.
Coba bayangkan mulai sejak kecil, disadari atau tidak seseorang terus-terusan meng-input informasi-informasi ke dalam pikirannya, hingga menjadi pengalaman pribadinya. Informasi-informasi ini, lambat laun mengintervensi pilihan-pilihan dalam hidupnya, seperti menetapkan figur otoritas, selanjutnya apa saja yang dari figur otoritas dijadikan referensi dalam menjalani hidupnya. Nyaris pola pikir seseorang tidak mandiri, pola pikirnya cendrung hasil dari mimetik belaka.
Saat beranjak dewasa, hasil mimetik mengarahkan seseorang pada tindakan-tindakan yang dilakukan berulang. Orang dewasa merasa, sikapnya dalam hidup merupakan ijtihad mandiri, padahal sebenarnya dari akumulasi informasi-informasi yang ter-input sejak dilahirkan, bahkan ada yang berpendapat informasi yang ter-input sejak umur 0 tahun (sejak dalam kandungan). Yang demikian ini, adalah sunnattullah, semua manusia sama prosesnya, bahkan pada orang yang dianggap Nabi sekalipun.
Alhasil, dengan menelusuri jejak-jejak pikiran, akan membuat kita sadar bahwa yang sedang diperdebatkan sebenarnya bukanlah kebenaran itu sendiri melainkan, tentang ego seseorang yang sedang menggandrungi sesuatu, yang ia merasa nyaman dengan apa yang dibelanya itu. Hingga akhirnya, terjadilah komunikasi antar ego dan menemukan kesepakatan untuk kenyaman bersama.
Tahapan terakhir ini, tidak lantas semua orang akan satu suara, walaupun dengan jargon untuk kenyamanan bersama. Pasti ada beberapa orang yang tidak setuju, dan membentuk kelompok kecil, lantas menggugat kenyamanan bersama. Jika selanjutnya, kelompok ini banyak pengikutnya, hingga menjadi kelompok besar, bukan berarti kelompoknya mewakili kebenaran hakiki, sama sekali tidak demikian. Kelompok beserta ajaran yang dibawanya jika mampu bertahan lama dengan jumlah pengikut yang banyak pula, itu disebabkan karena memenuhi standart shalihun likulli zaman wa makanin (Baik untuk segala waktu dan tempat).
Walaupun demikian, saat kita berdebat, sebenarnya kita tidak sedang mendebatkan kebenaran, tapi sedang mendebatkan kenyamanan pikir, yang kita bangun sejak dalam buaian hingga menjelang masuknya kita ke dalam liang kubur. Dan tentu tidak menutup kemungkinan, konsep kenyamanan bersama akan mengalami pergeseran dan takaran pada sisi eksistensinya, namun tidak dalam sisi esensinya. Wallahu a’lam bi al-Shawaab

