Kata “Fikir” dan “Kafir” dalam bahasa Arab, mempunyai susunan huruf inti yang sama. Ada huruf ك ، ف dan ر, hanya saja letak huruf ك dan ف-nya beda tempat, sehingga mempunyai makna berbeda. Kata kafir, ada yang mengartikan “orang yang menutupi nikmat Allah”. Sedangkan Fikir, diartikan “akal budi, ingatan, kata dalam hati, dan pendapat”.
Seperti bukan kebetulan, kenapa susunan huruf dua kata tersebut sama, apalagi dalam bunyi akhir keduanya sama, seolah mengisyaratkan “untuk diingat dan dipahami”.
Pada tataran operasionalnya, kata kafir menunjuk kepada orang yang dirasa menyimpang dari aturan mayoritas. Lantas distigma kafir. Sedangkan, kata fikir kategori kata benda abstrak, yang membutuhkan tambahan awalan dan akhiran kata untuk mendapatkan makna ajegnya. Dengan awalan, seperti “ber-fikir” bisa berarti “melakukan kegiatan mikir atau mengfungsikan otaknya”. Sedangkan akhiran, seperti “fikir-an”, bisa diartikan “hasil olahan otak”.
Entah mana dari dua kata tersebut yang keluar pertama kali. Tapi, kalau dilihat dari proses lahirnya bahasa, sepertinya fikir lebih dulu ada. Karena konon katanya, bahasa lahir dari hasil pemaknaan aktifitas fisik manusia, dan manusia sendiri cendrung ingin menunjukkan sesuatu yang dimiliki, dan untuk menggampangkan proses itu, manusia merasa perlu menamai terlebih dahulu apa yang manusia punya. Semisal, manusia punya tangan yang kreatif, dan ingin memberitahukan kepada manusia lainnya, bahwa ini adalah “tangan”. Kurang lebih, kata fikir kalau dilihat dari proses ini, bisa jadi arti asalnya adalah “kerja/aktifitas otak”.
Sedangkan penyematan kata kafir sendiri, jika berdasarkan dari arti, berasal dari bentuk perbuatan/tindakan seseorang yang menyimpang dari mayoritas. Perbuatan/tindakan sendiri muncul diawali dengan adanya perasaan dan pikiran. Dari alur ini, kata kafir muncul setelah kata fikir.
Kenapa orang kafir dikatakan kafir? Dan huruf intinya, sama dengan kata fikir?
Dugaan saya, penyematan kata kafir mencontek prinsip yang melatari kata pikir. Pikiran berkecendrungan mempertanyakan konsep sebelumnya yang dianggap mapan, dan sudah barang tentu pemberontak kemapanan. Untuk bisa sebaliknya, pikiran sewaktu-waktu perlu disujudkan ke hati. Itu penting, karena pikiran jika terlalu terus-terusan menabrak kemapanan bisa kebablasan pada nihilisme akut. Tapi sebaliknya, jangan terus-terusan myujudkan pikiran ke hati karena fungsi otak bisa tumpul. Makanya dalam al-Qur’an diberi garis tegas bahwa apapun mau dikeluarkan dari kita harus berasaskan pada “asas kemanfaatan”.
Ada juga yang mengartikan kata kafir: “orang yang menutupi nikmat Allah”. Kalau yang dimaksud nikmat Allah itu adalah “iman”, berarti orang yang disebut kafir adalah orang yang mengenyampingkan “keamanan”. Kata Iman berasal dari akar kata yang sama dengan kata aman, dilihat dari padanan ini, bisa dikatakan orang beriman adalah sekumpulan orang yang mencari aman, dan kondisi aman sendiri bisa terwujud dengan adanya keteraturan, dan keteraturan sendiri bisa terwujud, salah satunya bisa terwujud dengan pikiran yang disiplin.
Jadi sebenarnya, ketika orang menunjuk kita dengan kata kafir, itu berarti kita diminta berhenti berpikir, dan orang itu tengah mengajak kita agar lebih mengutamakan keteraturan, karena keteraturan melahirkan rasa aman. Itu sah sah saja, tapi lebih banyak mudharatnya kalau menjadi status quo, yang lebih dekat pada anti perubahan, dan anti kebaruan. Wallahu a’lam bi Al-shawaab

