Saat perjalanan menuju Kabupaten Jember, salah satu sahabat Saya pernah bertemu dengan seorang Pengusaha. Pengusaha ini bercerita tentang konsep “Panggilan Jiwa” kepada sahabat Saya. Ia dulunya, tidak mempercayai konsep tersebut, hingga suatu ketika ia menemukan fakta yang aneh pada Ayahnya.
Ayah dari Pengusaha ini, sehari-hari bekerja sebagai Tukang Becak. Pekerjaan tersebut tetap dilakoni walaupun anaknya sudah menjadi orang kaya. Dilihat sudah sangat tua, Si Pengusaha meminta Sang Ayah berhenti menarik Becak. Menghargai anaknya, Sang Ayah berhenti walaupun dengan berat hati.
Kira-kira seminggu berlalu, Sang Ayah jatuh sakit dan tidak diketahui apa penyebab sakitnya. Si Pengusaha mendapatkan lintasan di benaknya, sepertinya Sang Ayah mempunyai keinginan yang tertahan.
Saat semua telah tertidur. Si Pengusaha masuk ke kamar Sang Ayah. Kebetulan Sang Ayah belum tertidur. Ia duduk di sampingnya, dan menanyakan dengan halus;
“Ayah mau apa?”
“Saya ingin menarik Becak lagi Nak”
“Apakah Ayah mau cari uang tambahan?”
“Tidak Nak, uang darimu sudah lebih dari cukup bagi Ayah, Saya hanya suka sekali menarik Becak”
Si Pengusaha tidak langsung menanggapi keinginan Ayahnya. Setelah beberapa menit, akhirnya dengan berat hati, Si Pengusaha tersebut memperbolehkan Ayahnya untuk kembali menarik Becak, anehnya mendengar kata-kata anaknya yang memperbolehkan menarik Becak lagi, Sang Ayah sumringah dan besoknya berangsur-angsur sehat. Dua hari kemudian, Sang Ayah kembali ke jalan dengan Becak bututnya. Dari kejadian ini, Si Pengusaha akhirnya percaya bahwa konsep panggilan jiwa dalam hidup nyata adanya.
Mendengar cerita ini, Saya merasakan kekaguman yang luar biasa pada Ayah dari Pengusaha ini. Menurut Saya inilah penerapan sikap “Ihsan” dalam menjalani hidup, menjadi Tukang Becak bukan karena butuh uang, atau bukan untuk membantu orang, melainkan karena “SUKA”. Si Ayah bukan sedang “bekerja”, melainkan “berkontribusi” pada sesamanya. Wallahu a’lam bi Alshawaab

