Belajar dari Kartini Memaknai Perempuan

Sebagai pahlawan nasional, RA. Kartini merupakan sosok yang layak dijadikan soko guru bagi kaumnya. “Perempuan”. Ia penerobos kegelapan. Ia jadikan hasil bacaannya sebagai lentera menapaki onak dan duri feodalisme di zamannya.

Sebagai anak dari aristokrat Jawa, iapun tak luput dari mekanisme budaya “pingit”. Layaknya Elizabeth de Burgh istri dari Robert The Bruce (pahlawan Skotlandia) yang juga mengalami pingitan. Namun, dari kamar pingitan itulah ia mengerti adat feodal, poligami dan kawin paksa.

Kamar pingitan membentuknya menjadi penulis sekelas wartawan. Ia merefleksikan kondisi diri dan kaumnya yang menjerit lirih di balik tembok budaya patriarkhi. Dari kamar itulah, muncul pemikiran revolusioner, feminisme dan nasionalisme religius.

Peran dinamis RA Kartini, terlihat dari perjuangannya dalam mengangkat harkat martabat perempuan. Melawan adat, kekolotan, kebodohan dan keterbelakangan. Intelektualitasnya menghujam dengan ide-ide dan harapan yang cemerlang mengenai masa depan kaumnya. Iapun berdiri kokoh tidak hanya sebagai manusia, melainkan sebagai sebuah ide perjuangan.

Baginya, perempuan perlu pendidikan, agar saat menjadi kaum Ibu lebih berdaya. Melalui pendidikan, kemandirian kaum perempuan akan terwujud tanpa dan oleh bayang-bayang budaya patriarkhi.

Ia bukan hanya teoritikus melainkan juga praktisi. Membantu para pengrajin ukir dan batik di Jepara untuk meningkatkan kualitas karya dan hidupnya. Membimbing mereka dengan memberikan modal kerja, serta memikirkan pemasaran produksinya. Usaha pemasarannya ia lakukan dengan mencari pelanggan dan mengikut sertakan pada pameran di negeri Belanda. Luar biasa!

Sebagai santri KH. Sholeh Darat, ia sangat kritis terhadap praktek-praktek keagamaan masyarakat yang masih bercampur dengan adat kebiasaan. Ia juga kritis terhadap pemikiran dan praktek kegamaan teman-temannya yang menganut agama yang berbeda.

Peran dinamis RA Kartini ini, layak diteruskan oleh perempuan Indonesia saat ini hingga masa akan datang. Perjuangan RA Kartini masih belum disebut berhasil, karena hingga saat ini budaya patriarkhi masih kuat menghujam dalam benak laki-laki, pun juga perempuan mengiayakan budaya ini.

Butir-butir Pemikiran Kartini

RA Kartini perempuan yang sangat religius. Setiap tulisannya selalu diawali dengan Bismillah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar. Tulisannya selalu berhubungan dengan kesetaraan gender.

Dari tulisannya, terasa kegigihannya. Ia seringkali menghubungkan pemikiran keagamaan dengan penciptaan manusia yang mendasari ide-ide kesetaraan gender. Khususnya keadilan peran dalam rumah tangga.

Menurutnya, pemikiran agama harus bersifat universal. Agama mengajarkan kebaikan, membawa berkah, tanpa membedakan warna kulit, sex, status sosial, ras maupun bangsa. Sebagai garis bawah yang tegas, ia berpendapat mestinya aktualisasi agama penuh kasih sayang.

Terkait dengan pemikiran keagamaan tentang Tuhan. Ia mempunyai sahabat pena penganut Yahudi. Ia mempunyai pandangan yang sama tentang Keesaan Tuhan. Ia menekankan pada sifat Maha Kasih Sayang Tuhan, untuk menekankan betapa pentingnya gagasan tentang kasih sayang tersebut.

RA Kartini juga mengkritik model pembelajaran Al-Qur’an dengan memakai Bahasa Arab, padahal umumnya orang-orang tidak tahu Bahasa Arab. Iapun memesan khusus kepada gurunya untuk dituliskan sebuah kitab tafsir Al-Qur’an dengan makna jawa.

Dalam hal pemikiran tentang nilai-nilai kebaikan dan moral/akhlak, rupanya ia tidak terjebak pada penilaian lahiriyah. Menurutnya, nilai-nilai kebaikan terletak pada hakekat nilai itu sendiri secara intrinsik. Terlihat betul pada pemahamannya tentang puasa dan anjuran mengurangi tidur agar mendapat kebaikan dunia dan akhirat, RA Kartini memahaminya bahwa tujuan hidup itu bukan makan dan tidur.

Demikianlah pemikiran RA Kartini dan perjuangannya. Tidak hanya menyadarkan kaumnya, melainkan juga dapat menyadarkan kaum laki-laki atas haknya dalam relasi sosial, budaya dan politiknya. Agar selalu ingat dengan hak-hak perempuan, ingatlah Ibumu!!! Demikian kata seniorku dulu. Wallahu a’lam bi al-Shawaab

***(MF)

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini