Komunitas sosial yang mapan seringkali memiliki pandangan hidup, yang berasal dari hasil refleksi kesejarahan eksistensinya. Tidak terkecuali komunitas Blatēr, yang menjadikan pandangan hidupnya mutlak sebagai pegangan, pedoman, arahan, petunjuk dan sebagai prinsip berpikir-bertindak dalam interaksi sosialnya. Meskipun rumusan pandangan hidup terdapat paradok di dalamnya, tapi bagaimanapun itu merupakan hasil pergulatan eksistensial dari segala pengalaman dan pemaknaan atas hidup komunitas Blatēr sendiri. Justru dari paradoksalitas itu, menjadi penanda bahwa prinsip seseorang/komunitas dengan oranglain/komunitas lain cendrung berbeda, karena didasarkan pada karakter, sifat dan pengalaman hidup yang berbeda pula.
Sebagai prinsip berpikir dan bertindak keberadaan pandangan hidup mempunyai nilai penting bagi seseorang/komunitas untuk meraih kebajikan dalam hidup. Berdasarkan asalnya, pandangan hidup dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu; 1) pandangan hidup yang berasal dari kitab suci, dan dianggap mutlak kebenarannya bagi yang mengimani. 2) pandangan hidup yang berupa ideologi, yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang berlaku dalam satu negara. 3) pandangan hidup yang berasal dari renungan subjektif. Bagi komunitas Blatēr memiliki pandangan hidup dan prinsip merupakan unsur penting untuk memperjelas keinginan, cita-cita, dan juga arah hidup dalam dunia keblatēran. Wataknya yang agamis, loyalitasnya pada negara, dan tipikal gaya hidupnya yang eksentrik menjadikan pandangan hidup Blatēr dinuansai oleh semuanya[1].
Kecendrungan Blatēr yang teguh memegang prinsip, senantiasa diterapkan pada dirinya sendiri dan orang lain. Saat dirinya merasa bersalah karena sala téngka (berbuat salah) pada orang lain, siapapun orangnya iaakan berusaha meminta maaf. Tapi jika orang lain yang sala téngka, dan orang lain tersebut mengakui kesalahan dan meminta maaf, maka pasti dimaafkan terkecuali kesalahan yang berkenaan dengan aléngka syahedet atau aléngkapagher[2]. Saking teguhnya Blatēr memegang prinsip, ia tidak mudah berubah haluan hanya karena iming-iming materi. Apa yang menjadi kesepakatan dengan orang lain selalu dirujukkan kepada prinsip-prinsip sebagaimana dalam pandangan hidupnya. Hasil kesepakatan tersebut akan terus dipegang apapun resikonya, bahkan nyawa taruhannya.
Pembelaan pada prinsip dan kesepakatan yang dihasilkan dalam interaksi sosial, menjadi penentu integritas Blatēr sebagai orang yang konsisten/istiqamah (baca; jeg jeg) walaupun dalam keadaan yang sulit melakukannya. Sekurang-kurangnya, ada lima prinsip yang dipegang oleh komunitas Blatēr, sebagai berikut; 1) Ketauhidan, 2) Hormat kepada Embho’ (Ibu), 3) Hormat kepada Ghuru (Guru), 4) Ajhegeh Téngka (menjaga etika), 5) Ajhegeh Harga Diri[3]. Lima prinsip ini, sangat mungkin bertambah seiring dengan adanya hasil observasi dan penelitian lanjutan. Paling tidak beberapa prinsip komunitas Blatēr yang disebutkan di atas, menjadi pengantar bagi para peneliti dalam menemukan prinsip-prinsip yang belum tercover.
Interaksi sosial merupakan hubungan timbal balik yang dinamis antara seseorang dengan orang lain, antara seseorang dengan sekelompok orang, dan antara sekelompok orang dengan sekelompok manusia lainnya[4]. Interaksi yang terjadi menyebabkan saling mempengaruhi satu sama lain dengan tujuan terjadi penyesuaian diri. Ada dua syarat terjadinya interaksi sosial, ada kontak sosial sebagai cara berinteraksi sosial, dan komunikasi sebagai proses penyampaian dan penerimaan pesan (ide/gagasan) dari satu pihak kepada pihaklain[5]. Semakin baik komunikasi yang dilakukan akan mempermudah penyampaian dan penerimaan ide/gagasan, yang berefek pada cepatnya pengaruh dan penyesuaian diri. Maka dari itulah, komunikasi menjadi penentu kualitas interaksi sosial, baik yang verbal maupun nonverbal[6].
Adapun pengaruh dan penyesuaian diri yang diterima oleh seseorang dalam interaksi sosialnya, dengan beberapa faktor, yaitu; Pertama, Imitasi. Merupakan dorongan untuk meniru prilaku figur otoritas di lingkungan keluarga, misalnya orang tua, saudara, dan kerabatnya yang sering berinteraksi dalam sehari-hari. Imitasi ini, menjadi pembenaran bahwa manusia sebagai anak lingkungan, dan lingkungan paling kecil adalah keluarga[7]. Dalam kontek orang menjadi Blatēr sangat mungkin dikarenakan seringkali melihat prilaku dan mendengar pembicaraan sekitar konsep keblatēran dari orang-orang di lingkaran keluarga dan kerabatnya.
Kedua, Sugesti. Pemberian pengaruh kepada dirinya dan orang lain tentang suatu pendapat yang diterima secara sadar maupun tidak sadar tanpa reserve atau tanpa kritik, lebih cendrung karena alasan psikis[8]. Misalnya, karena kepercayaan diri yang amat tinggi sehingga merasa tidak butuh pendapat orang lain, dan hanya percaya pendapatnya yang paling benar. Sedangkan yang datang dari diri lain, karena terlalu memfigurkan seseorang hingga pada derajat memiliki otoritas kebenaran. Sebab lainnya, bisa dikarenakan terlalu fanatik pada komunitas yang menaunginya dan menjadikan keputusan komunitas dianggap benar, baik dan harus diikuti.
Ketiga, Identifikasi. Merupakan tindakan lanjutan dari proses sugesti dan imitasi yang berpengaruh kuat pada diri seseorang[9]. Walaupun sama-sama tindakan ‘meniru’, tapi berbeda dalam prosesnya. Kalau imitasi merupakan tindakan ‘meniru’ tingkah laku, penampilan, atau sikap seseorang secara berlebihan melalui lingkaran kecil keluarga, maka identifikasi terjadi di luar lingkungan keluarga atas dorongan kecendrungan seseorang untuk ‘menjadi sama’ dengan sang Idola karena kedudukan sosialnya. Tidak penting sang idola tersebut dikenal langsung maupun tidak langsung. Biasanya, sang Idola merupakan figur otoritas dalam dunia yang digelutinya. Misalnya, seorang yang baru terjun dalam dunia Blatēr akan cendrung mengidolakan figure Blatēr yang secara kualitas jauh di atasnya. Ia akan berusaha mengedintifikasi dirinya dengan Blatēr yang dimaksud.
Keempat, Simpati[10]. Rasa simpati merupakan proses kejiwaan individual yang mengalami ketertarikan kepada seseorang/kelompok orang karena sikap, penampilan, wibawa, atau perbuatannya. Perasaan tertarik ini, sangat berpengaruh penting pada seseorang dalam proses penyesuaian diri. Biasanya, hanya keinginan memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dikarenakan pihak lain tersebut mempunyai kelebihan atau kemampuan tertentu yang patut dicontoh. Adapun bentuknya dibagi dua; simpatik searah dan simpatik timbal balik[11]. Misalnya, rasa simpati yang dialami oleh bajhingan kepada Blatēr tanpa sepengetahuannya, karena kharisma yang miliki Blatēr ditengah masyarakat. Simpati yang seperti ini, disebut simpatik searah. Sedangkan simpatik timbal balik, adalah rasa simpati yang kedua belah pihak sama-sama tahu. Biasanya, akan menghasilkan hubungan kerjasama yang baik dan saling menguntungkan.
Lima faktor interaksi sosial ini, akan dialami langsung oleh Blatēr dalam momentum remoh[12]. Komunitas Blatēr menjadikan remoh sebagai media melakukan kontak sosial dan komunikasi, sebuah ajang bertemu dengan Blatēr lainnya. Proses imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati antara Blatēr satu dengan lainnya diharapkan maksimal. Tapi, hasilnya tergantung reaksi masing-masing Blatēr. Kemampuan berintegrasi yang dimiliki menjadi penentu utama menjadikan ajang remoh sebagai momentum bagi Blatēr untuk ngokor abhe’ (mengukur diri), untuk mengetahui seberapa tinggi pengakuan orang lain (sesama Blatēr) kepada dirinya. Selain itu, sebagai ajang Blatēr lain menilai dirinya. Seberapa baik dalam menjalin interaksinya dengan sesama Blatēr, sikap terbukanya kepada sesama Blatēr, sikap partisipatifnya dalam bekerja sama, sikap pedulinya terhadap masalah semasa Blatēr, dan kemampuannya dalam menjaga hubungan persahabatan sesama Blatēr.
Kemampuan integrasi Blatēr dalam momentum remoh merupakan upaya penyesuaian diri bertujuan menjalin hubungan baik dengan sejawatnya, dalam rangka mempertahankan eksistensinya atau survivalnya dalam dunia keblatēran. Selain itu, sebagai konformitas yang berarti penyesuaian diri dengan standart nilai atau prinsip-prinsip keblatēran. Usaha konformitas ini, menyiratkan keharusan dan komitmen menghindarkan diri dari penyimpangan prilaku yang bersebrangan dengan prinsip-prinsip keblatēran. Kesuksesan Blatēr dalam melakukan penyesuaian diri berpengaruh pada eksistensinya di lingkaran Blatēr untuk mendulang ekspektasi sosial setaraf dengan kiprah keblatēran. Tentu dalam perjalanan, pasti menghadapi ketegangan yang datang dari internal dan eksternal. Dari eksternal bisa berupa konflik dengan orang lain. Sedangkan dari internal, bisa berupa frustasi yang dapat menyebabkan mentalnya goyah. Agar Blatēr terbebas dari ketegangan yang dialami, maka ke-ajeg-annya menjadi taruhan dalam mengatasi kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Dalam menguji ke-ajeg-an, biasanya Blatēr tidak langsung abak grabak (langsung pukul) saat mau menyelesaikan masalah dengan orang lain. Tapi cendrung mekker lanjheng (dipikir secara matang) siapa yang menjadi lawannya. Kalau sekiranya satu lawan satu dihitung bisa menang, pertimbangan selanjutnya adalah kekuatan di baliknya, bisa orang tuanya, saudaranya, dan lebelenah (kerabatnya) dari orang yang menjadi target. Setelah dihitung seimbang, yang bersangkutan melanjutkan pamit (minta idzin) pada tetua yang dihormati dan mempunyai pengaruh di lingkaran keluarga atau tetua kampung/desa . Biasanya, tetua akan memberikan satu saran, yaitu mekker lanjheng. Saran dari tetua cukup memberikan pengaruh signifikan, tapi seringkali kalau berhubungan dengan harga diri yang sangat prinsipil seperti kasus aléngka syahedet, saran ini cendrung tidak diikuti. Karena tujuan yang bersangkutan bukan mendapatkan ijin, melainkan hanya bersifat pemberitahuan.
Lima prinsip Blatēr, ketauhidan, hormat kepada Embho’ (Ibu), hormat kepada ghuru (Guru), ajhegeh téngka (menjaga etika), dan ajhegeh harga diri menjadi bagian modal interaksi sosial komunitas Blatēr dalam momentum remoh. Bagi Blatēr pemula, informasi sekitar dunia keblatēran yang didapatkan dari figur di lingkungan keluarganya, akan dicocokkan secara langsung dengan prilaku Blatēr dalam remoh tersebut. Pada tahap selanjutnya, pengalaman interaksi langsung dengan komunitas Blatēr akan disugestikan kepada dirinya tanpa reserve. Lambat laun, seiring niat menjadi Blatēr akan melakukan identifikasi dirinya dengan karakteristik seorang Blatēr, dengan mengakomodir prinsip-prinsip hidup Blatēr hingga berpengaruh pada prilaku dan gaya bicaranya. Selama interaksi dalam remoh ke remoh lainnya. Blatēr pemula akan mulai memilah dan memilih figur Blatērrajah yang mana hendak dijadikan panutan dan dijadikan parembaghan (tempat suaka dan meminta saran).
[1] Muniri, Titik Temu Pandangan Hidup Kalangan Blatĕr dan Pemikiran Murjiah. Pendidikan dan Keislaman. Jurnal Al-Fikrah. Vol. 1 No. (2021).
[2] Bagi kalangan Blatēr, pengertian dari alengka syahedet atau alengka pagher yaitu mengganggu kekasih orang atau mengambil istri orang.
[3] Prinsip Blatér ini merupakan hipotesa Penulis, hasil rangkuman dari beberbagai literatur dan sudah dikonfirmasi secara terpisah kepada beberapa Blatér dengan inisial SA, AH, dan NS. Ketiganya merepresentasikan sebagai orang yang tahu tentang dunia Blatér, dan memberikan afirmasi terhadap hasil hipotesa ini. Sebenarnya Penulis mengajukan prinsip yang ke enam; “Jhe’ loppah asadeka”, tapi menurut mereka prinsip ini tidak termasuk, tapi bagian dari ajhegeh téngka.
[4] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), 55
[5] Kontak sosial ada dua bentuk; primer dan sekunder. Kontak sosial primer adalah hubungan yang terjadi antara seseorang dengan orang lain yang dilakukan secara langsung dalam satu tempat dan waktu yang sama. Sedangkan kontak sosial sekunder merupakan sebaliknya, bisa melalui telpon, surat, radio, televisi dan media komunikasi tidak langsung lainnya. Ibid, 59-60
[6] Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan simbol-simbol atau kata-kata yang digunakan secara oral atau lisan maupun tulisan. Sedangkan komunikasi nonverbal adalah pertukaran pesan dengan tidak menggunakan kata-kata melainkan dengan nada suara, gerakan tubuh dan lain-lain. Lihat dalam M. Budyatna dan Leila MG, Teori Komunikasi Antar Pribadi, (Jakarta: Kencana, 2011), 110
[7] Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, (Semarang: Rineka Cipta, 2007), 52
[8] Ibid, 53
[9] Ibid, 57
[10] Lihat https://id.wikipedia.org/wiki/Simpati, mengutip dari Tear, J; Michalska, KJ (2010). “Neurodevelopmental changes in the circuits underlying empathy and sympathy from childhood to adulthood”. Developmental Science. 13 (6): 886–899.
[11] Abu Ahmadi, Psikologi Sosial,… 58
[12] Remoh dibedakan antara remoh warga biasa dan remoh Blatēr. Jika yang melakukan orang biasa, hanya sekedar perkumpulan orang yang saling memberikan sumbangan dalam hajatan keluarga, seperti pesta pesta perkawinan dan sejenisnya. Sedangkan remoh Blatēr, khusus perkumpulan para jago, atau orang yang hendak mendayung identitas keblatēran walaupun belum pernah terlibat dalam peristiwa carok. Lihat dalam Abdur Rozaki, Islam, Oligarki Politik, dan Perlawanan Sosial, (Yogyakarta: SUKA Press, 2016), 91
**Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan)

