Jheng Lajhengan “Reperreyan”

Orang Madura menyebutnya Jheng lajhengan (layang layangan). Saya belum pernah mendengar orang Barat menyebut mainan ini, Arabpun juga. Saya menduga tradisi main layangan ini, berasal dari Tiongkok. Konon dari zaman kerajaan hingga sekarang, tradisi main layang-layang masih diminati, dan sangat menghibur.

Layang-layang banyak bentuknya. Bentuk menentukan nama. Di tempat Saya (Kampung Kopang Desa Karang Gayam), ada nama layangan len bulenan (seperti bulan), lar olaran (seperti ular), ko’ juko’an (seperti ikan) dan lain-lain.

Ada yang layangan yang tidak mengikuti pakem “bentuk menentukan nama”. Orang-orang di tempat Saya menyebutnya “re perreyan”, entah kenapa kok dinamakan demikian, saya juga kesulitan mencari padanan bahasa Indonesianya. Kalau dari segi arti, re perreyan itu dari asal kata “perre”, artinya kena. Mendapat tambahan “re” dan “yan”, maka berarti “saling mengena”. Mungkin karena layangan yang bentuknya seperti ini sering dibuat lomba saling memutus benangnya, makanya dinamakan layangan reperreyan.

Secara filosofis, layangan re perreyan ini menarik dikaji. Dari proses membuatnya, kurang lebih sama dengan layangan lainnya, harus menyeimbangkan bengbeng (sayap) kanan dan kiri, dan tidak tidak terlalu kaku, maupun terlalu lemas. Sedangkan kerdung (penyangga tengah) harus sesuai panjang dan pendek sayapnya. Ini penting karena akan menentukan terbangnya anteng atau lomuk dalam bahasa Madura. Layangan yang sesuai takaran panjang-pendek sayap dan penyangga tengahnya cendrung anteng di angkasa, walaupun angin patang kacender (angin kencang). Filosofi ini, berkesesuaian dengan filosofi manusia, jika seimbang lahir-batinnya, tidak kaku dan tidak lemah, apapun posisi yang diembannya, ia tetap istiqamah.

Istiqamah sangat penting bagi seseorang, terlebih yang menjadi pemimpin, karena keistiqamahan menentukan seberapa lama bertahan melaksanakan posisinya. Ibarat layangan yang kurang seimbang, terlalu kaku, maupun terlalu lemah sayap dan penyangga tengahnya, walaupun tetap nangkring di angkasa terlihat rajeh gulih (banyak gerak), dan biasanya tidak tahan lama dengan angin malam, ia akan turun karena angin malam cendrung sepoi dan melemah.

Dari filosofi layangan, bisa menakar posisi seseorang, terlebih pemimpin. Karena setiap dari kita adalah pemimpin, dan tiap-tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya, maka mulailah dari diri kita masing-masing (ibda’ binafsika), itulah yang terpenting dari sekian beberapa yang penting.

***Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun)

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini