Pembacaan tentang kiprah Blater selama ini, lebih banyak didominasi pembacaan kiprah negatifnya. Ulasan dalam tulisan di bawah ini, lebih banyak menampilkan sisi positif kiprah Blater. Berbicara kiprah Blater tentu menjadi kajian yang menarik tentang studi kebudayaan Madura. Rasa-rasanya, membicarakan studi kebudayaan Madura kurang afdhal jika tidak membahas kiprah Blater di Madura.
Sebagai sebuah lokus studi kebudayaan, seolah-olah Pulau Madura tak ada habisnya untuk dikaji oleh para peneliti luar dan dalam. Ketandusan geografisnya ternyata tak selaras dengan keramahan penduduknya dan keragaman pandangan hidupnya. Masyarakat Madura berdasarkan buku ini ternyata menyimpan falsafah hidup yang amat luas.
Menariknya, buku yang ada ditangan Anda adalah sebuah karya plus perenungan panjang dari seorang penulis yang gerah dengan adanya sebuah penilaian negatif terhadap salah satu kelompok di Madura, yaitu Blater. Buku ini seolah hendak mematahkan sudut pandang mainstream tentang Blater sebagai orang kuat lokal yang lekat dengan tindak kriminal sebagaimana dalam kajian-kajian sebelumnya. Hasil kajian tersebut bisa ditemukan dalam Kosim (2007), Rozaki (2009), dan maupun Sila (2019).
Di tangan seorang penulis muda, Blater dan falsafah hidupnya yang luhur diangkat menjadi sebuah karya ilmiah yang didukung berbagai data sejarah dan pemaknaan filosofis yang amat mendalam. Sehingga ketika membaca buku ini, seakan-akan pembaca diajak berinteraksi langsung dengan Blater. Maka tak heran dengan membaca buku ini, anda diajak merenung, membaca dan mengenal-ulang Blater yang selama ini kerapkali dianggap sama dengan Bhăjingan.
Buku ini mengangkat tentang kehidupan Blater, sebuah komunitas kuno nan lokal di Madura dan di luar Madura menjadi sebuah karya tulis yang sangat ilmiah nan filosofis berdasarkan pendekatan Studi Post-Kolonial. Dengan pendekatan tersebut, tidak heran bila Anda akan menemukan banyak sekali falsafah hidup Kaum Blater yang ternyata amat luhur dan syarat dengan cara pandang yang sederhana namun luas maknanya. Karya ini mengajak anda kaget, heran, kagum akan kehidupan internal seorang Blater baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.
Namun demikian, Penulisnya mengakui bahwa cukup banyak Blater yang dulunya Bhăjingan, setelah mereka insyaf justru mereka dipercaya oleh masyarakat menjadi kennenga rembhăghăn (tempat berembuk) setiap permasalahan yang dialami masyarakat. Tak jarang Blatér senantiasa membantu masyarakat yang terkena musibah kemalingan, menjadi mediator konflik sosial yang mempertaruhkan harga diri dan nyawanya, dan sering ngompangin (menanggung) hutang orang jatuh tempo yang mengalami ancaman disita rumah dan mau dipenjarakan.
Baca juga: Blater Mengeramatkan Sosok Ibu
Dalam sepak terjangnya itu, Blater menjadikan nilai-nilai lokal yang dijadikan rujukan bangunan karakteristiknya. Misalnya, Blatér sangat mengedepankan sikap jeg jeg (istiqamah) dalam memegang prinsip dan amat sangat ‘ajhăghă téngka (menjaga etika) dalam pergaulan sosial. Tentu hal tersebut sangat berbeda dengan Bhăjingan yang nyaris tidak mempunyai landasan norma dalam pergaulannya.

Membaca buku ini, Pembaca seolah-olah hidup bersama mereka, minum dari air sumur mereka, makan dari padi yang ditanam dari hasil keringat mereka. Melalui buku ini, seolah-olah Pembaca diajak berubah menjadi seorang Blater. Sebab buku ini tidak sekedar membantah penilaian negatif tentang Blater, namun mengajak kita mendalami siapa Blater, apa dan darimana Blater, serta bagaimana Blater.
Baca juga: Ke-Blater-an
Kajian dalam buku ini, membuka ruang diskusi bagi pembaca, termasuk bagi kalangan peneliti dan akademisi. Harapannya, hasil kajian terus dilanjutkan dengan kajian berikutnya sekitar studi ini. Kehadiran dan peran para Blater seperti dijelaskan oleh Penulis tentu sangat berarti dalam upaya mengungkan hal-hal penting tentang ke-maduraan yang belum terungkap atau bahkan sengaja tidak diungkapkan, seperti kesastraan, kesenian, teknologi, dan falsafahnya. Karena itulah, kajian dalam buku ini layak dilanjutkan pada penelitian berikutnya.
NB: Tulisan ini, merupakan kata pengantar dalam buku ‘Blater; Falsafah, Perilaku dan Interaksi Sosial karya Muniri Faqod

