Seringkali menyebut kosakata “kekuasaan” dalam kontek antropologis banyak varian pengertiannya. Kosakata kekuasaan menemukan momentumnya saat Michel Foucault membahas secara khusus dalam bukunya “Power/Knowledge”. Sebelum itu, sudah banyak pendahulunya yang mencoba mendefinisikan kekuasaan, tentu berdasarkan perspektif yang melatarbelakanginya. Secara geneologis, pemetaan konsepsi “kekuasaan” sebelum diajukan Michel Foucault, sebagai berikut:
1) Kekuasaan dalam Niccola Machiavelli, bahwa kekuasan hanya bisa dipertahankan dengan cara-cara kekerasan dan represif (intimidasi, teror, penyiksaan, dan tindakan yang menyebabkan sakit fisik).
2) Cara produksi, seperti kekuasaan dalam perspektif Karl Marx, yang memaknainya dominasi suatu kelas yang didasarkan pada penguasaan ekonomi, dan manipulasi ideologi.
3) Kekuasaan berarti dominasi dan hegemoni seperti yang dijelaskan oleh Antonio Gramsci, polanya bekerja secara integral antara aparatus koersif (Aparatus Negeri=pemerintah, tentara, polisi, pengadilan, dll) dan aparatus hegemonik (aparatus swasta=media, lembaga pendidikan, agama dsb).
4) Kekuasaan perspektif Foucault bersifat relasional, tidak sekali-kali melainkan bersifat terus menerus, layaknya penjara panopticon yang didesain oleh Jeremy Betham, pengawasan berkala, sedangkan yang diawasi “merasa” diawasi terus-menerus.
Dalam pandangan kekuasaan yang bersifat relasional, maka kehadiran tidak dihitung secara sederhana, seseorang yang hadir dihitung kapasitasnya, apa yang dibicarakan dan yang ditulisnya, hingga pada pilihan kosakata dalam pembicaraan maupun tulisan.
Mungkin, gaya pemaknaan Foucault tentang kekuasaan rentan terjebak dalam metafisika kecurigaan, namun kerentanan ini bisa diatasi dengan pentingnya sebuah “jeda”, melihat realitas tanpa langsung mengomentari, melainkan dengan melakukan observasi mendalam. Meminjam istilah dalam shalat, perlu “tuma’ninah” sebelum mengomentari.
Kelihaian bertuma’ninah seringkali dibarengi dengan keilmuan yang memadai dan ditopang kedalaman hati. Keduanya dapat mendisiplinkan kehendak yang acapkali terpantik dorongan insting untuk merespon langsung sesuatu yang menurutnya berlebihan. Tidak gampang membenarkan, dan tidak gampang menyalahkan itulah penentu seseorang dianggap “dewasa”.
Sudahkah Anda dewasa?
*** Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan)

