Memahami Diri; Menuju Fitrah Kemanusiaan

Manusia mempunyai tiga unsur utama, antara lain jasad, jiwa, dan ruh. Manusia dianggap sempurna, jika tiga unsur utama ini menjadi satu kesatuan yang utuh. Jasad manusia tanpa ruh dan jiwa dianggap mati.

Demikian halnya jiwa dan jasad tanpa adanya ruh takkan ada kehidupan. Namun, manusia dengan ruh dan jasad tanpa adanya jiwa di dalamnya, manusia masih bisa dianggap hidup, walaupun kenyataannya dianggap hilang ingatan atau gila.

Ruh adalah bagian suci yang memberi kehidupan pada manusia. Ruh ditiupkan langsung oleh Allah ke dalam rahim seorang ibu pada janin yang dikandungnya. Ia akan tetap berada dalam jasad manusia sampai tibanya kematian.

Sedangkan jiwa berbeda dengan ruh. Dia bisa keluar masuk tubuh manusia tanpa mendatangkan kematian pada manusia. Keduanya menjadi satu kesatuan dalam tubuh manusia. Jika ruh bersifat suci dalam keabadiannya, sedangkan jiwa dibentuk oleh pengalaman hidup yang dijalani manusianya.

Jiwa bisa menjadi kuat dan sehat jika dilatih dan dirawat dengan baik. Namun, ia juga bisa menjadi rusak, sakit dan lemah jika tidak dirawat dengan baik. Tentu bisa berakibat fatal pada kondisi jasadnya. Kondisi jiwa sangat berhubungan erat dengan sejauh mana pola pikirannya. Dengan pola pikirnya, jiwa bisa mencapai derajat yang tinggi dan mulia. Jiwa bisa juga jatuh ke derajat yang amat hina, lemah dan tidak berdaya.

Tiga unsur utama manusia ini, adalah jiwa yang merupakan lokus kedirian manusia yang perlu dijaga dan dirawat agar tetap bersih dan kuat hingga kematian menjemput. Jiwa merupakan efek esensi ruh, yang memancar kepada jasad dan menghidupkannya lalu menjadikannya alat untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu. Hingga keduanya, menyempurnakan diri dan mengenal Tuhannya.

Oleh karena itulah, jiwa perlu dikenali dan pahami sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis Nabi; “man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu (Barang siapa yang memahami dirinya, sungguh ia telah memahami Tuhannya). Dengan memahami diri sebagai hamba, berarti seseorang telah menemukan tujuan penciptaan dirinya, lalu melaksanakan hal yang terbaik dengan menebarkan rahmah bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Hadis di atas sangat korelatif dengan pemahaman kalimat tauhid la Ilaha illa Ana. Kalimat tauhid ini sebagaimana paparan di atas, dipahami sebagai penjelasan bahwa “Ana” (saya) inilah yang menjadi lokus kesadaran, sebuah kesadaran yang bermuara pada “diri”. Sedangkan hadis “man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu”, mengandung pemahaman bahwa memahami diri, menjadi pintu masuk memahami Allah. Artinya, memahami tujuan penciptaan diri yaitu menjadi khalifah di bumi dengan menebarkan rahmah bagi semesta alam.

Oleh karena jiwa dibentuk oleh pengalaman hidup, maka sangat wajar bila ulama Sufi memberikan pengertian bahwa jiwa adalah sumber segala keburukan dan dosa, sebab jiwa adalah sumber syahwat dalam meraih kesenangan. Sebagaimana dalam sebuah hadis: “Kullu mauludin yuladu‘alal fithrah, fa abawaihi Yahaiwidani aw yunas‐shirani aw yumajjisani (setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan suci, dan tergantung pada bapaknya, apakah dia mau dijadikan yahudi, nasrani, atau majusi).” Memang hadis ini, secara bahasa tidak secara langsung menjelaskan tentang pengertian Ruh dan Jiwa, tapi kalau dikaji secara mendalam ternyata ada korelasinya.

Dalam hadis tersebut, ada kalimat kullu mauludin yuladu ‘alal fithrah. Arti kalimat ini, semua yang dilahirkan dalam keadaan suci. Tentu ada tanda tanya, di sisi manakah kefitrahan manusia? Ternyata kesucian manusia adalah dari sisi ruhnya. Sementara di sisi jiwanya, berlaku kalimat lanjutan dalam hadis tersebut, yakni “Fa abawaihi Yuhaiwidani aw yunas‐shirani aw yumajjisani.” Pada kalimat ini berhubungan dengan proses pembentukan jiwa yang terkait pula dengan pola pikirnya. Sedangkan pola pikir dibentuk oleh pengalaman hidupnya. Jadi, masalalu seseorang sangat menentukan yang akan dilakukan sekarang dan masa depan.

Bersambung….

***Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan)

NB: Tulisan ini, diambil dari buku “Menemukan Jati Diri dengan Bertauhid” karya Muniri Faqod

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini