Pikiran manusia menampilkan beberapa hal penting, yang membedakan antara manusia satu dan lainnya. Waidi Akbar menyebutnya sebagai dunia internal pikiran. Di dalamnya, ada bagian‐bagian yang saling berkonstribusi dan menghasilkan sebuah tindakan yang pada akhirnya menentukan nasib seseorang. Bagian‐bagian tersebut antara lain;
Pengalaman Personal dan Nilai‐nilai yang diyakini
Setiap orang pasti mempunyai pengalaman positif dan negatif. Pengalaman-pengalam tersebut tidak akan pernah hilang dari ingatan. Bisa saja lupa. Tapi lupa bukan berarti hilang, melainkan tertumpuk dengan pengalaman‐pengalaman yang lain. Yang terlupakan itu, sewaktu‐waktu akan terpantik keluar, jika ada pengalaman yang mirip.
Pengalaman ‘setelah’ yang mirip dengan kejadian sebelumnya, disebut sebagai pengalaman baru seseorang. Nantinya yang bersangkutan akan berusaha mendialogkan dengan pengalaman‐pengalaman sebelumnya.
Hasil dialog antara pengalaman yang lama dengan yang baru akan ditentukan mana lebih dominan, yang positif atau yang negatif. Selanjutnya, yang positif dianggap berharga dan penting. Sedangkan yang negatif dianggap tidak berharga dan tidak penting.
Sejauh perjalanan hidupnya, yang dianggap berharga dan penting, diterima sebagai nilai‐nilai perlu dianut dalam lingkungannya, baik keluarga, sekolah dan masyarakat.
Seperangkat nilai‐nilai ini, masuk ke pikiran bawah sadarnya, dan memfilter otomatis informasi baru yang datang. Jika ternyata dianggap tidak berharga dan penting, maka akan ditangguhkan, atau bahkan ditolaknya. Kerja pikiran bawah sadar yang otomatis ini, selanjutnya menjadi mindset.
Mindset
Mindset merupakan cara otak dan akal menerima, memproses, menganalisa, mempersepsi, dan membuat kesimpulan terhadap informasi yang masuk melalui panca indera. Mindset dibentuk dari beberapa bahan, antara lain;
(1) Informasi‐informasi yang dimasukkan ke dalam pikiran seseorang, baik disadari maupun tidak disadari;
(2) Injeksi pemahaman dari figur otoritas. Figur otoritas adalah seseorang yang dikagumi dan dipilih oleh seseorang untuk dijadikan referensi dalam menjalani hidupnya, bisa dari kalangan keluarganya atau seseorang yang mempunyai kelebihan tertentu yang dianggap pantas dijadikan panutan;
(3) Pengulangan Tindakan. Tindakan yang dilakukan berulang‐ulang akan menjadi mindset. Semua tindakan yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Dari kebiasaannya, mindset seseorang terbentuk.
(4) Pengaruh lingkunga, baik keluarga, sekolah dan masyarakat. Pengaruh tiga lingkungan ini, kalau dipersentase keluarga 60%, sekolah 20%, dan masyarakat 20%;.
(5) Hipnoterapi. Sebuah teknik penyembuhan gangguan psikologis maupun psikomatis. Hipnoterapi diyakini bisa mengubah perilaku seseorang yang dianggap negatif menjadi positif. Terlebih dahulu, hipnoterapis mencari dan menemukan ide dasarnya. Jika ide dasar tersebut dirasa berdampak negatif pada prilaku dan sakit fisik Klien, maka hipnoterapis akan menghapusnya atau mengubahnya.
Tingkat Kecerdasan
Setiap orang mempunyai kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ). IQ berhubungan dengan kemampuan menganalisa yang logis dan rasional. Sedangkan EQ mencakup dua dimensi kemampuan emosional yang mengarah ke dalam dan keluar. Kemampuan emosional yang mengarah ke dalam, berhubungan dengan kesadaran diri, penerimaan diri, hormat diri, penguasaan diri.
Sedangkan yang mengarah luar, berhubungan dengan kemampuan memahami orang, menerima orang, mempercayai orang, dan mempengaruhi orang.
Adapun SQ, berhubungan dengan kemampuan yang berkaitan erat dengan keadaan jiwa, batin dan rohani seseorang. Orang yang kecerdasan spiritualnya tinggi, orang tersebut mampu memaknai kehidupan dengan penuh kebijaksanaan.
Idealnya, semua orang mempunyai tiga kecerdasan ini, hanya saja kualitas dan porsinya berbeda‐beda. Ada orang yang lebih menonjol IQ‐nya, tapi EQ dan SQ‐ nya rendah, ada yang EQ‐nya menonjol tapi IQ dan SQ‐nya rendah, ada juga yang SQ‐nya menonjol, tapi IQ dan EQ‐nya rendah, sulit ditemukan walaupun pasti ada orang yang kecerdasannya sama‐sama menonjol.
Mesin Kecerdasan
Ada 5 mesin kecerdasan yang secara alamiah dipunyai semua orang, antara lain; sensing, thinking, intuiting, feeling, dan insting. Orang tipe sensing, biasanya orangnya rajin. Cara berpikirnya berpijak pada fakta yang aktual, faktual, detail serta menyukai hal‐hal yang sifatnya praktis, dan pengingat masa lalu yang baik.
Jika mesin kecerdasannya thinking. Orang tersebut lebih mengutamakan pikiran, logis, (lebih tertarik pada sesuatu yang masuk akal), dan adil‐objektif. Orang dengan kecendrungan orang seperti ini biasanya pandai.
Sedangkan orang dengan mesin kecerdasan Intuiting, biasanya kreatif, imajinatif, inspiratif, berorentasi ke masa depan dan suka memberikan peluang alternatif.
Kalau yang menonjol mesin kecerdasan feeling. Ia penyuka keharmonisan, suka menjadi pemimpin, mendahulukan orang lain, dan pandai berempati.
Sedangkan mesin kecerdasan yang terakhir, yaitu Insting. Orang tersebut tidak suka menunda‐nunda, prinsipnya lebih cepat lebih baik, mengolah informasi menggunakan naluri, menyukai pekerjaan‐pekerjaan sosial, mudah beradaptasi, serba bisa tapi biasanya polos.
Tipe Kemampuan Belajar
Setiap orang harus tahu cara belajarnya sendiri. Ada yang senang belajar sendiri, ada yang suka belajar kelompok, ada yang suka belajar dengan melihat, mendengarkan, dan praktek langsung.
Orang yang lebih suka dan optimal menyerap informasi dengan membaca dan melihat berarti ia manusia visual. Ada juga manusia auditori, maksudnya daya serapnya melalui apa yang didengar. Sedangkan manusia kinestetik, ia akan sangat senang dan cepat mengerti bila informasi yang diterima dengan dicontohkan, atau praktek langsung.
Bagian‐bagian internal pikiran yang dijelaskan di atas, sangat penting untuk dipahami oleh seseorang. Dengan memahami internal pikiran dari sejumlah kemampuan yang telah diberikan, seseorang dapat memahami dirinya. Konon ada penjelasan dalam sebuah hadits Nabi; “barang siapa mengenal dirinya maka pasti memahami kehendak Tuhan atas dirinya”. Wallahu a’lam bi Al-shawaab
***Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan)
NB: Tulisan ini mengambil dari Buku dengan judul “Menemukan Jatid Diri dengan Bertauhid) karya Muniri Faqod.

