Sepuluh Esensi Kebajikan

Orang Yunani Kuno menyebut empat kebajikan yang harus dilakukan oleh manusia, antara lain; Kebijaksanaan, Keadilan, Keberanian, dan Pengendalian Diri.

Kebijaksanaan (wisdom), adalah guru dari kebajikan. Dengannya, mengarahkan penilaian Kita pada semua hal mengandung kebaikan. Membuat keputusan yang baik untuk diri dan orang lain dalam takaran keseimbangan. Sebagaimana yang dikatakan Ricard Gula seorang pakar etika mengatakan; Kita tidak bisa melakukan yang benar kecuali pertama-tama kita melihat yang benar”.

Yang kedua, Keadilan. Keadilan berarti menghormati hak-hak semua orang. Pentingnya menghormati hak-hak semua orang didasari pada keinginan dasar, bahwa semua orang ingin diperlakukan sama sebagaimana orang memperlakukan orang lain.

Hal tersebut merupakan prinsip keadilan yang dapat ditemukan dalam budaya dan agama di seluruh dunia. Sekolah-sekolah dalam upaya menanamkan karakter, sering memusatkan pada keadilan dikarenakan mencakup begitu banyak kebajikan yang sifatnya interpersonal. Keadilan terikat erat dengan kejujuran, kesopanan, saling menghormati, tanggungjawab, dan toleransi.

Kebajikan ketiga, Keberanian. Dengan keberanian, memungkinkan Kita untuk melakukan apa yang benar dalam menghadapi kesulitan. James Stenson (pengamat Pendidikan) menjelaskan tentang keberanian adalah ketangguhan batin yang memungkinkan seseorang untuk mengatasi atau menahan kesulitan, kekalahan, ketidaknyamanan, dan rasa sakit. Dengan demikian, keberanian mencakup aspek keuletan, kesabaran, ketekunan, daya tahan, dan kepercayaan diri.

Akhir-akhir ini sering terjadi bunuh diri, baik di kalangan remaja maupun orang dewasa karena perihal asmara. Remaja putus dengan pacarnya, dan orang dewasa bertengkar dengan istrinya. Menurut Thomas Lickona (Psikolog State University of New York), salah satu alasan yang memungkinkan mereka bunuh diri karena mereka tidak siap untuk menghadapi kekecewaan yang tak terelakkan dalam hidup.

Belajar dari kejadian yang menimpa mereka, kita perlu mengajari anak-anak Kita dalam mengembangkan karakter tidak lagi melalui penderitaan, melainkan mengarahkan fokus anak pada keberhasilan-keberhasilan yang orang tuanya raih. Menyertakan juga, pemahaman bahwa kemunduran bisa membuat Kita kuat, jika Kita tidak menyerah dan mengasihi diri kita sendiri.

Kebajikan yang keempat, Pengendalian Diri. Menurut orang Yunani, pengendalian diri adalah kemampuan untuk mengatur diri Kita sendiri memungkinkan Kita untuk mengendalikan emosi Kita, mengatur keinginan sensual dan nafsu, mengejar kesenangan bahkan kesenangan yang dianggap lazim di zaman modern.

Kita perlu mempunyai kekuatan untuk melawan godaan-godaan tersebut. Dengan kekuatan tersebut, Kita bisa menunggu dan menunda kesenangan demi tujuan yang lebih tinggi dan mulia. Seperti pepatah lama tentang pentingnya pengendalian diri dalam kehidupan moral, yaitu Kita menguasai keinginan kita atau keinginan kita yang menguasai kita?.

Thomas Lickona dalam bukunya Character Matters ditambah enam kebajikan yang  tidak kalah urgensitasnya dengan empat kebajikan yang disebutkan di atas, antara lain; Cinta, Sikap Positif, Bekerja Keras, Integritas, Rasa Syukur, dan kerendahan hati.

Kebajikan Cinta lebih dari sekedar keadilan, melainkan memberikan lebih dari keadilan yang dibutuhkan. Cinta adalah keinginan untuk mengorbankan diri demi kepentingan yang lain. Cinta adalah empati, kasih sayang, kebaikan, kedermawanan, pelayanan, loyalitas, Patriotisme, dan pemberian maaf.

Sungguh Cinta, dapat memberikan dampak dari kedua belah pihak yang saling mencintai. Petuah “Kasihilah sesama, seperti Anda mengasihi diri Anda sendiri”. Saling mengasihi, memungkinkan Kita tak bisa berusaha untuk menggosipkan orang lain dan memperhatikan kesalahan mereka, mengingat betapa sensitifnya Kita, jika hal tersebut terjadi pada diri Kita.

Selanjutnya, Sikap Positif. Jika Anda memiliki sikap negatif dalam hidup, Anda akan menjadi beban bagi diri sendiri dan orang lain. Jika Anda memiliki sikap positif, Anda akan menjadi aset untuk diri sendiri dan orang lain.

Kekuatan karakter tentang harapan, antusiasme, fleksibilitas, dan rasa humor adalah bagian dari sikap positif. Kita semua, dengan tanpa pandang umur bahwa sikap Kita adalah suatu yang Kita pilih. Abraham Lincoln berkata; “Kebanyakan orang bahagia saat mereka mampu mengambil keputusan”. Senada dengan perkataan Martha Washington; “Saya telah belajar dari pengalaman bahwa sebagian besar kebahagiaan atau penderitaan Kita tergantung pada disposisi dan bukan pada keadaan Kita. Artinya, kita membawa benih-benih itu bersama kita, dalam benak kita, kemanapun kita pergi”.

Bekerja Keras merupakan kebajikan yang ke tujuh. Tidak ada yang dapat menggantikan bekerja di dalam kehidupan. John Wood berkata; “Saya menantang Anda untuk menunjukkan kepada Saya seseorang yang mencapai kebesaran pribadinya sendiri tanpa bekerja keras”. Itu karena bekerja keras mencakup inisiatif, ketekunan, penetapan tujuan, dan kecerdikan.

Kebajikan yang ke delapan, Integritas. Integritas berarti mengikuti prinsip moral yang setia pada kesadaran moral, menjaga kata-kata, dan berdiri pada apa yang kita percayai. Orang yang memiliki integritas mencakup “seluruhnya”, sehingga apa yang dikatakan dan lakukan dalam situasi yang berbeda tetap konsisten ketimbang saling bertentangan.

Integritas berbeda dengan kejujuran. Bukan menceritakan kebenaran pada orang lain, melainkan mencakup mengatakan yang sebenarnya pada diri sendiri (jujur pada diri sendiri). John billing berkata; “Bentuk penipuan yang paling membahayakan adalah menipu diri sendiri. Menipu diri sendiri memungkinkan kita untuk melakukan apapun yang kita inginkan, bahkan kejahatan besar dan mencari alasan untuk membenarkan tindakan Kita”. 

Yang ke Sembilan, Rasa Syukur. Syukur seperti cinta bukanlah perasaan, melainkan tindakan kehendak. Menurut Anne Husted Burleigh; “Kami memilih untuk bersyukur, sama seperti kami memilih untuk mencintai”. Syukur sering digambarkan sebagai rahasia dari hidup bahagia. Dengan bersyukur, mengingatkan Kita, bahwa Kita semua minum dari sumur yang tidak Kita gali. Hal ini, mendorong Kita untuk menghitung rahmat Tuhan kepada Kita setiap hari.

Yang terakhir, Kerendahan Hati. Setiap orang sangat penting mempunyai kerendahan hati, karena dianggap sebagai dasar dari moral kehidupan secara keseluruhan. Rendah hati diperlukan untuk memperoleh kebajikan lainnya karena membuat kita sadar atas ketidak sempurnaan kita dan membuat kita berusaha menjadi orang yang lebih baik.

Menurut David Isaacs; “Kerendahan hati adalah mengakui keduanya antara ketidakmampuan dan kemampuan kita, serta menekan kemampuan kita ke dalam pelayanan tanpa menarik perhatian atau mengharapkan tepuk tangan”. Senada dengan perkataan T.S. Elliot; “Setengah kerusakan yang dilakukan di dunia adalah karena orang ingin merasa penting”. Seorang Filsuf, Dietrich Von Hildebrand mengatakan; “Setiap kebajikan menjadi tidak berarti jika keangkuhan merayap di dalamnya dalam setiap kali kita merasa bangga akan kebaikan kita”.

Thomas Lickona menambahkan; “Bahwa tanpa kerendahan hati, Kita menyimpan semua cacat Kita, kebaikan akan tertutup oleh keangkuhan dan menyembunyikannya dari Kita sendiri”. Oleh karena itu, kerendahan hati yang memungkinkan Kita untuk mengambil tanggung jawab atas kesalahan dan kegagalan Kita bukan menyalahkan orang lain meminta maaf kepada mereka, dan berusaha untuk menebus kesalahan kesalahan yang dilakukan oleh Kita.

Melakukan sepuluh kebajikan dalam kehidupan ini jelas sulit. Hampir semua orang jarang memperhatikan sepuluh kebajikan ini, setidaknya dalam beberapa waktu. Namun, kebanyakan dari Kita juga memiliki kekuatan-kekuatan karakter ini, minimal pada beberapa hal Kita percaya bahwa hal ini akan membantu untuk berpikir mengenai kebajikan-kebajikan utama tersebut sebagai sebuah kontinum dan fokus pada kemajuan dalam mengamalkannya secara lebih konsisten. Lambat laun, satu kebajikan akan menarik kebajikan lainnya, karena kebajikan-kebajikan itu saling terkait.

Selamat melakukan kebajikan-kebajikan ini. Silakan mencoba!

***Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan)

NB: Tulisan diramu dari buku karya Thomas Lickona berjudul Character Matters, halaman 16-21.

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini