Salah ucap. Cris Rock menyebut kondisi Alopecia yang diidap Jada Pinkett. Ia menjadikan lelucon di panggung Academy Awards. Alopecia merupakan istilah medis untuk rambut rontok karena terkena penyakit autoimun.
Will Smith menanggapi ulah Cris Rock di atas panggung dianggap menyinggung istrinya. Sepersekian menit, suami dari Jada Pinkett naik panggung, dan plaaak! Satu tamparan agak keras melayang di pipi Cris Rock. Insiden ini, terjadi tanggal 27 Maret 2022. Seketika dunia mayapun berisik.
Reaksi dunia atas kekerasan yang dilakukan Will Smith, seolah memaksanya untuk menyalahkan diri sendiri. Dia berkata; “Kekerasan dalam bentuk apapun adalah racun dan bersifat menghancurkan. Perilaku Saya di Academy Awards tadi malam tidak dapat diterima dan dimaafkan.
Tentu dunia tidak tahu, apa sebenarnya yang mendorong Will Smith meminta maaf secara terbuka di akun twitter-nya. Mempertimbangkan karirkah? Diancam pihak Academy Award? Apa memang dia mempunyai hati yang seluas samudera? Atau demi menyelamatkan worldview agar tidak membenarkan kekerasan?
Asumsi yang terakhir, berkaitan dengan worldview. Seberapa pentingkah diselamatkan oleh seorang Will Smith agar kekerasan tidak menjadi legal, dan dianggap normal dilakukan di tengah publik?
Sebelum membahas lebih lanjut kekerasan yang dilakukan Will Smith, alangkah baiknya mengetahui pengertian worldview. Berikut penjelasan tentang pengertian worldview menurut Barat-Sekuler, Kristen, dan Islam.
Worldview menurut Barat-Sekuler
Menurut James H. Olthus, worldview adalah suatu kerangka berpikir, atau keyakinan-keyakinan mendasar tentang visi tentang dunia dan visi masa depan yang terintegrasi dalam pikiran seseorang kemudian dijadikan standar dalam menyikapi realitas saat berinteraksi di dalamnya (James W. Sire, 2009:18).
Immanuel Kant sebagai orang pertama yang menggunakan istilah worldview. Ia menjelaskan bahwa worldview adalah sebuah sistem keyakinan terstruktur dan mendasari pemikiran dan tindakan manusia (James W. Sire, 2009:23).
Tidak jauh dengan rumusan dua pengertian di atas. Willhelm Dilthey menjelaskan bahwa worldview adalah seperangkat kategori secara mental yang timbul dari pengalaman yang mendalam yang mempengaruhi cara memahami, merasa, merespon dalam tindakan mengkompromikan dunia serta realitas di dalamnya (James W. Sire, 2009:27).
Worldview menurut Teolog Kristen
Worldview menurut teolog Kristen, James Orr. Adalah suatu pandangan terluas dari pikiran yang mengusahakan untuk menangkap semua pandangan tersebut, dengan berdasarkan filsafat maupun teologi (James W. Sire, 2009:32).
Abraham Kuyper mempunyai istilah system hidup. Menurutnya, setiap worldview merujuk pada tiga pandangan fundamental tentang eksistensi manusia, yaitu; hubungan dengan Tuhan, manusia, dan dunia (James W. Sire, 2009:32).
Sedangkan Herman Dooyewerd lebih mendasar lagi pengertiannya. World view menurutnya tidak hanya sekedar ide atau proposisi ansich. Tapi merupakan orientasi keyakinan atau keagamaan yang terletak dalam hati atau sudah menjadi komitmen dari hari tersebut (James W. Sire, 2009:33).
World View menurut Teolog Islam
Sayyid Quthb mengajukan istilah dalam Bahasa Arab, tashawwur Islamy untuk disepadankan dengan istilah worldview. Menurutnya, tashawwur Islamy adalah hasil kesimpulan dari tafsiran komprehensif manusia tentang semua eksistensi (wujud), kemudian dijadikan dasar yang mendekatkannya pada pengetahuan hakekat dari hubungan hakekat ketuhanan, ibadah, kehidupan, dan hal lain yang terkait dengannya (Sayyid Quthb, 1983:5).
Syed Muhammad Naquib Al-Attas memaknai worldview Islam adalah visi mengenai realitas dan kebenaran yang muncul sebelum mata kesadaran kita mengungkap mengenai sebuah eksistensi. Untuk itu, visi sangat diperlukan secara totalitas karena merupakan eksistensi (wujud) dunia yang diproyeksikan oleh Islam (Syed Muhammad Naquib Al-Attas, 2001:32).
Perbedaan dan Persamaan Worldview Barat-Sekuler, Kristen, dan Islam
Dari pengertian tentang worldview dari Barat-Sekuler, Kristen dan Islam mempunyai kesimpulan yang sama bahwa setiap manusia pasti memiliki pijakan dalam “memandang” realitas yang ada di dunia.
Bedanya hanya dilandasannya saja. Rumusan Barat-Sekuler berbasis pada rasionalisme dan empirisme. Sedangkan Kristen dan Islam merujuk pada sesuatu yang diimani, melalui ajaran agamanya.
Worldview Barat-Sekuler, menurut James W. Sire merupakan hasil ekspresi filosofis. Ada beberapa pertanyaan mendasar dalam merumuskannya, sebagai berikut;
1. Apakah itu realitas yang primer? Apa yang sungguh-sungguh riil?
2. Apakah itu realitas eksternal (luar pikiran manusia) yang alami?
3. Apakah itu Manusia?
4. Apakah yang terjadi saat kematian manusia?
5. Mengapa ada kemungkinan untuk mengetahui segala sesuatu?
6. Bagaimana kita mengetahui apa yang benar dan apa yang salah?
7. Apa arti dari sejarah manusia?
8. Apakah itu komitmen personal dan inti orientasi hidup yang konsisten dengan world view?
Delapan pertanyaan ini bagi orang Barat yang berpandangan sekuler dimaknai sebagai elemen-elemen worldview (Downer Gove, 2009:22-23)
Elemen pengertian world view Kristen merujuk pada Tuhan, manusia, dosa, penebusan, dan tujuan akhir manusia. Hanya ada perbedaan titik fokus saja. Ada yang lebih kepada konsep inkarnasi Tuhan ke dalam Kristus, yang berkutat dalam implementasi pemahaman tentang Tuhan dari sisi imanensi dan transendensi (James W. Sire, 2009:35).
Abraham Kyuper misalnya, menjadikan element kedaulatan perintah Tuhan atas segala sesuatu. Sedangkan Herman Dooyeweerd menekankan pada ide-ide keagamaan Kriten yang berasal dari orientasi keyakinan dari hati (iman) (James W. Sire, 2009:33).
Elaborasi elemen worldview Islam menurut Sayyid Quthb dari wahyu Allah kepada Rasulullah yang permanen dan tidak boleh berubah sepanjang sejarah. Karakteristiknya meliputi sebagai berikut; (1) Rabbany, (2) Konsisten merujuk pada syari’at dari Wahyu Allah, (3) Mencakut aspek Tuhan, manusia, alam semesta, dan akhirat, (4) Seimbang dalam memahami nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaa, (5) integrasi hubungan antara Tuhan, manusia, alam semesta, dan akhirat, (6) Mengakui eksistensi hakekat Tuhan di balik realitas eksistensial, tidak hanya dengan akal saja, (7) Ketauhidan (Sayyid Quthb, 1983: 183).
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, kurang lebih sama dengan Sayyid Quthb. Hanya saja lebih sederhana, bahwa elemen worldview Islam adalah ketauhidan. Menjadikan ketauhidan bukan hanya sekedar pandangan kepada orientasi dunia fisik dan metafisik, melainkan juga kepada akhirat sebagai tujuan akhir (Syed Muhammad naquib Al-Attas, 2001:39-41).
Menimbang Kasus Will Smith dengan Worldview Madura
Satu dari sekian worldview Madura, adalah menjaga martabat diri, keluarga dan kerabat. Elemen worldview ini, berasal dari reflesi menjaga kekerabatan dan perkawanan sosial. Untuk menjaga itu, yang dikedepankan dalam menyelesaikan konflik adalah musyawarah, dan seringkali berakhir dengan perdamaian dan saling memaafkan satu sama lain, selama belum ada korban nyawa.
Lain lagi kalau konflik yang sudah ada korban nyawa, maka dari pihak pelaku sadar dan siap menerima balasan dari pihak korban. Demikian juga dengan kasus aléngka syahadat/aléngka paghăr, dalam waktu yang tidak lama seringkali pihak korban akan melakukan pembalasan, atau dalam waktu beberapa tahun kemudian, saat pihak keluarga korban siap membalasnya.
Perkelahian yang disengaja dengan niat melukai atau menghilangkan nyawa disebut carok. Walaupun sebenarnya, untuk kategori akhir-akhir ini, sudah bukan termasuk pengertian carok murni. Karena sebenarnya carok merupakan sikap ksatria, pertarungan satu lawan satu, dengan waktu dan tempat yang sudah ditentukan.
Carok dilakukan sebagai pembelaan atas harga diri yang berhubungan dengan nilai dasar dan hal-hal yang menjadi ukuran eksistensi diri yang harus dipertahankan agar tidak lagi direndahkan oleh orang lain.
Pembelaan terhadap harga diri orang Madura tergambarkan dalam peribahasa; “aotang péssé majer péssé, aotang nyabhă majer nyabhă” (jika berhutang uang harus bayar dengan uang, hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa). Peribahasa ini, mengajarkan keberanian menanggung resiko dari perbuatan yang telah dilakukan, dan keharusan membalas perbuatan yang selayaknya harus dibalas sesuai kadarnya.
Dalam peribahasa lainnya; “oréng laké’ maté acarok, oréng biné’ maté arémbi’ (laki-laki biasa mati karena carok, sebagaimana perempuan mati karena melahirkan). Peribahasa ini, mengajarkan keharusan pada seorang laki-laki agar mempunyai sikap ksatria sepanjang hidupnya, sebagaimana keharusan pada perempuan agar mempunyai keberanian dalam mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan anak-anaknya.
Ada juga peribahasa yang mengajarkan agar selalu berhati-hati dalam berbicara dan bersikap agar tidak menyinggung orang lain sehingga menyebabkan sakit hati, karena kalau sampai orang lain tersinggung dan sakit hati suatu saat ia akan melakukan pembalasan yang lebih kejam dari apa yang diperbuat. Seperti dalam peribahasa; “lokana dhăging bisa éjei’, lakona atéh tadhă’ tambana kajhăbhă ngéro’ dere” (lukanya daging masih bisa diobati/dijahit, tetapi jika hati yang terluka tidak ada obatnya kecuali minum darah).
Bagi orang Madura, prinsip hidup ajhăga harga diri merupakan pemenuhan kebutuhan dasar untuk mendapatkan penghargaan, seperti status sosial, kedudukan sosial dan kekuasaan sosial. Semua itu, menjadi penting untuk dipenuhi supaya mendapatkan pengakuan dan apresiasi sosial atas keberhasilannya. Semua capaian yang dimiliki, tidak boleh ada orang yang melecehkan karena berkaitan dengan malo (malu). Melecehkan harga diri sama dengan mengingkari kapasitas dirinya sehingga dia akan merasa tadhă’ ajhina (tidak dihargai).
Adapun yang menjadi alasan merasa malo (malu), jika berhubungan dengan harta, tahta, dan wanita. Dalam keadaan tidak kuasa menanggung malo, maka carok jalan terakhir yang dijadikan media pembelaan harga diri ketika sudah tidak kuat harga dirinya diinjak-injak oleh orang lain, sebagaimana dalam ungkapan; étémbhăng poté mata, lebbi baghus poté tolang (daripada hidup menanggung perasaan malu, lebih baik mati berkalang tanah).
Pengalaman Will Smith kalau ditelaah memakai worldview Madura, tergolong perlakuan strandr sebagai pembelaan terhadap istri yang dihina. Jadi tidak berlebihan. Hanya saja, dia melakukan kekerasan di depan umum. Diliput media, dan disiarkan se dunia.
Beruntung antara Cris Rock dan Will Smith memilih berdamai dengan mengakui kesalahan masing-masing. Keduanya berbesar hati, mengakui kalau sudah salah, ya salah.
Tindakan keduanya, kurang lebih sama dengan tindakan Blater, jika mengaku salah dan meminta maaf maka masalah apapun bisa dianggap selesai, terkecuali merebut atau mengganggu istri orang lain merupakan perbuatan yang tidak bisa dimaafkan. “tadhă’ sala sé tadhă’ saporana, kecuali settong, ngala’ binina oréng” (tidak ada kesalahan satupun yang tidak bisa dimaafkan, kecuali, kesalahan merebut isteri orang), meskipun pelakunya adalah dari kalangan kerabat sendiri.
Worldview Madura yang diterapkan kalangan Blater, sama dengan worldview semua elemen jawara lainnya di dunia bahwa ajhăga téngka (menjaga tingkah laku perbuatan) dan ta’ alonca’ ka paghărre oréng (tidak merusak rumah tangga orang) merupakan falsafah umum yang ada pada semua elemen-elemen jawa di luar Madura, bahkan dunia. Seperti di Italia pada kelompok Mafioso, Hong Kong pada Triad, dan sebagainya.
Falsafah-falsafah Madura di atas, terkandung makna “disiplin”. Kekuatan disiplin tidak hanya menjadi pondasi kharisma individu, melainkan juga tembok yang dapat menghindarkan diri dari kemerosotan kharisma individu. Maka ketika terdapat kasus menghina dan merebut isteri orang, langkah-langkah pendisiplinan merupakan strategi yang dipilih kaum Blatér.
Tentu, mereka tidak memperdulikan kebenaran proses-proses pendisiplinan. Bagi mereka target pencapaian pendisiplinan harus lebih diutamakan daripada proses tersebut. Will Smith dalam timbangan worldview Madura dapat dibenarkan, hanya saja situasi dan kondisi eksekusinya yang tidak tepat.
***Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan dan Penulis buku berjudul Blater; Falsafah, Perilaku, dan Interaksi Sosial)
NB: Ulasan tentang pengertian world view diambil dari tulisan Muhammad Taqiyuddin berjudul; Pengertian, Elemen, dan Karakter Worldview dalam Pandangan Barat-Sekuler, Kristen, dan Islam. Untuk Worldview Madura, bisa dibaca di buku Blater karya Muniri Faqod.

