Tujuan saya menulis buku tentang falsafah, perilaku dan interaksi sosial kalangan Blater, demi untuk membedakannya dengan istilah ‘Bajhingan’.
Sebutan Blater itu, sudah terlanjur menjadi sebutan prestisius sosial, kurang lebih sama dengan sebutan Kyai. Orang yang disebut sebagai sosok Blater akan merasa bangga.
Nah, karena sudah menjadi sebutan prestisius sosial, maka perlu sekali sebutan Blater dibersihkan dari anasir negatif yang sengaja dilekatkan.
Perlu juga dipahami, perbedaan sebutan Blater sebagai ‘sifat’ dan ‘sosok’. Jika hanya sebatas sifat, maka hanya berupa letupan falsafah, perilaku, dan interaksi sosial yang muncul dari seseorang yang berusaha menerapkan sifat Blater.
Berbeda jika sudah menjadi ‘sosok’, maka falsafah, perilaku, dan interaksi sosial Blater sudah benar-benar integral dalam diri seseorang, baik dalam ucap dan lakunya.
Sedikitnya ada tiga istilah yang digunakan tidak sesuai porsinya. Tiga istilah tersebut, adalah Bajing, Bhajingan, dan Blater.
Istilah awal memang ‘Bajing’. Sebutan Bajing secara historis berkorelasi dengan aktifitas malam pada zaman kolonial. Kelompok Bajing ini kerapkali membuat tidak nyaman Kompeni dan Priyayi yang menjadi kaki tangan Kompeni. Sangat mungkin karena ketidak nyamanan itu, lalu mereka membangun wacana yang ujungnya memberikan steriotipe negatif pada Bajing, lambat laun sebutan Bajing ditambah suffix “an”, menjadi “Bajingan”.
Untuk penggunaan istilah Bajing, masih lumrah dipakai di Sampang bagian Timur hingga Sumenep. Adapun pengertiannya, kurang lebih sama dengan pengertian istilah Blater. Sedangkan istilah Bajingan, sampai saat ini masih dipakai di kalangan Madura Bondowoso. Untuk istilah Bajingan, bisa dibaca dalam disertasi Moh. Syaieful Bahar. Ada Bajingan Mera dan Bajingannah Kyai.
Bajingan Mera menurut saya sebagaimana dipakai di Bondowoso dan sekitarnya, adalah istilah yang sama dengan pengertian Bajingan dalam istilah Madura. Kalau Bajingannah Kyai lebih mendekati karakteristiknya dengan istilah Bajing atau Blater di Madura.
Nah, karena istilah Bajingan kalau ditarik ke perkotaan sangat lekat dengan kriminalitas dsb, muncullah istilah Blater, yang diusung dari Madura Barat, yakni Bangkalan. Istilah Blater akrab ditelinga orang Bangkalan dan Sampang bagian barat. Sampang agak ke timur lebih akrab dengan sebutan Bajing.
Kosakata Blater sebenarnya berasal dari bahasa Jawa kuno. Untuk daerah wonosalam Jombang katanya masih menyebut orang humble dan royal dengan sebutan Blater. Kalau kosakata Blater dalam kamus Madura-Indonesia artinya orang pemberani. Setelah dipake oleh orang Madura, kosakata Blater diberi pengertian sebagai orang humble, royal dan pemberani.

