Falsafah Madura: Ngadek Sogek Parjugeh dan Rampak Naong Bringin Korong

Menarik sekali membaca artikel yang berjudul “Norok Oreng” yang ditulis Iksan K. Sahri. Tulisan yang berasal dari pengalaman langsung tentang tanggapan (sebagian) orang Madura pada pekerjaannya. Ulasan tulisannya, bisa disimpulkan bahwa orang Madura akan merasa bangga jika berdikari (punya kemandirian hidup), kalau hanya norok oreng (ikut orang) walaupun gajinya besar belum patut dibanggakan.

Menakar kebanggaan yang tidak berdasarkan jumlah uang yang dimiliki, menunjukkan bahwa orang Madura dalam menentukan sesuatu layak dibanggakan, tidak bermotif (kebutuhan) tunggal. Bagi orang Madura, yang layak dibanggakan adalah orang yang mampu berdiri tegak dan gagah untuk bisa memenangi kehidupan. Gambaran ideal ini, seperti dalam pengertian falsafah hidup “ngadek sogek parjugeh”. Secara bahasa, ngadek berarti berdiri, sogek berarti gagah, dan parjugeh mempunyai arti pantas dibanggakan/dihormati.

Pengertian falsafah hidup ngadek sogek parjugeh mengarah pada idealitas personifikasi Raja. Kurang lebih seperti gambaran sosok dalam penggalan lirik Kidung Wahyu Kolosebo; “Sumebyar ing sukmo madu sarining perwito. Maneko warno prodo mbangun projo sampurno. Sengkolo tido mukso kolobendu nyoto sirno. Tyasing roso merdiko.” Menjadi orang yang ngadek sogek parjugeh menurut kidung ini, maksudnya menjadi sosok yang dibanggakan, cerdas dan mandiri, ajeg/istiqamah, dan merdeka jiwa-raganya.

Sosok yang patut dibanggakan kalau mengacu pada falsafah hidup ini, maka orang yang bekerja norok oreng memang tidak termasuk sebagai orang yang patut dibanggakan walaupun gajinya besar. Gaji yang besar, tentu dengan uang yang banyak hanya memenuhi kebutuhan fisiologis (physilogical needs) saja. Menurut Abraham Maslow, kebutuhan fisiologis adalah salah satu dari lima kebutuhan paling bawah yang dipertimbangkan oleh seseorang. Kebutuhan ini, meliputi penghasilan, terpenuhinya sandang, pangan, papan, dan tubuh dan pikiran yang sehat (istirahat, seks, kesegaran jasmani, udara, air, hiburan, rekreasi dan sebagainya).

Empat kebutuhan lainnya, yang tak kalah penting adalah kebutuhan akan rasa aman (safety needs), antara lain; memperoleh perlindungan, perasaan bebas dari ketakutan, kecemasan dan kekacauan. Ada juga kebutuhan akan dimiliki dan dicintai (social needs), seperti menjalin keakraban dengan orang lain, dan kebutuhan sebagai bagian dari kelompok tertentu. Kebutuhan yang keempat adalah kebutuhan untuk dihargai (esteem needs), antara lain; kebutuhan agar diakui, status, kedudukan, memiliki kekuasaan sosial, apresiasi orang lain pada dirinya atas keberhasilannya. Nah, norok oreng berdasarkan perspektif esteem need memang tidak masuk dalam kebanggaan sekalipun gajinya besar, khususnya dalam hal kekuasaan sosial yang mandiri (tidak atas perintah).

Kebutuhan yang kelima, adalah kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization) yang sesuai koridor kebenaran, kejujuran, keindahan, dan kebaikan yang berlaku di tengah masyarakatnya. Citra diri orang yang sudah terpenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya, kurang lebih gambarannya seperti dalam Kidung Wahyu Kolosebo berikut ini; “Ampuh sepuh wutuh, tan keno iso paneluh. Gagah bungah sumringah, ndadar ing wayah-wayah. Satriyo toto sembodo, wirotomo katon sewu kartiko. Kataman wahyu kolosebo.” Maksudnya adalah orang yang sudah teruji secara sosial, dan selalu membahagiakan orang sekelilingnya, suka menolong (watak satria/hadirnya menjadi kebahagiaan orang lain), serta ucapan dan tindakannya selalu mengandung kebenaran.

Gambaran terpenuhinya kebutuhan aktualisasi diri di atas, juga bisa ditemukan dalam falsafah hidup orang Madura, yaitu “Rampak Naong Bringin Korong”. Secara harfiah, arti rampak naong adalah rindang dan teduh. Sedangkan arti “bringin Korong” adalah pohon Beringin yang dipagari. Orang dalam kiasan falsafah ini, layaknya pohon beringin yang rindang yang selalu memberikan keteduhan, keamananan, kebahagiaan, dan kesejahteraan bagi orang yang berada di bawah naungannya.

Berdasarkan uraian tentang dua falsafah hidup orang Madura dan dihubungkan dengan teori kebutuhan. Maka, bekerja dengan norok oreng belum patut dibanggakan karena hanya memenuhi kebutuhan fisiologis saja. Bagi orang Madura, yang bisa dibanggakan adalah orang yang sudah memenuhi lima kebutuhan sebagaimana dalam teori kebutuhan Maslow. Wallahu a’lamu bi Al-Shawaab

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini