Proses interaksi Reng Cenah (etnis Cina) dengan Reng Medureh (etnis Madura) sudah terjadi berabad-abad lamanya. Akulturasi sangat nampak terlihat dari bentuk bangunan. Ada beberapa bentuk bangunan, seperti masjid yang berornamen Cina dan bangunan komplek pemakaman Islam yang juga mirip dengan ornamen pemakaman Cina.
Di Sumenep, kurang lebih ada tiga pusat komplek pemakaman Cina, antara lain di Kebunan, Lenteng dan Dungkek (yang terbesar dan termegah). Komplek Pemakaman Cina yang ada di Kabupaten Pamekasan, menurut informasi ada di daerah desa Buddagan Kecamatan Pademawu. Di kabupaten Sampang, ada di daerah Ketapang. Sedangkan di kabupaten Bangkalan ada di Keleyan Socah. Bukti-bukti selain makam, daerah yang ada orang Cina biasanya terdapat pusat perdagangan dan perniagaan yang penjualnya mayoritas orang Cina, biasa disebut “Pecinan”.
Adanya makam Cina dan pecinan di Madura, merupakan jejak yang tidak bisa dipungkiri bahwa sejak dulu orang lokal sudah berakulturasi dengan pendatang. Tidak hanya dengan etnis Cina saja, melainkan juga dengan etnis Arab, India (Gujarat), Eropa (Portugis, Belanda, Prancis dst.) dan lain-lain. Setelah cukup lama dan merasa nyaman dengan keramahan orang lokal, akhirnya para pendatang memutuskan menjadi satu dalam ikatan ke-nusantaraan.
Saking lamanya berinteraksi, pastinya ada cara berpikir mereka yang ter-nusantarakan, atau sebaliknya ada bagian cara berpikir orang lokal ter-Cinakan, ter-Arabkan, ter-Indiakan, bahkan ter-Eropakan. Saling pengaruh mempengaruhi satu sama lain merupakan hal yang biasa, yang penting masih menjadi manusia seutuhnya. Namun, yang perlu dicatat, pasti ada identitas in-group dan out-group yang sengaja dipelihara yang sifatnya transendental.
Identitas transendental biasanya dikewajantahkan dalam sebuah falsafah hidup, selanjutnya menjadi “etos”. Etos adalah sikap, kepribadian, karakter, serta keyakinan atas sesuatu yang menjadi ciri khas golongan sosial tertentu. Etnis Cina mempunyai etos yang berbeda dengan etnis lainnya, demikian juga etnis Madura. Namun, tak menutup kemungkinan mempunyai kesamaan etos, misalnya dalam etos kerja, orang Cina dan Madura sama-sama gigih dalam bekerja.
Deddy Corbuzier dalam video Youtube-nya, menjelaskan tentang etos kerja orang Cina, antara lain; 1) presentasi simpanan 50-60% dari penghasilan, 2) untung dikit tidak masalah yang penting kuantitas dan kerja keras, 3) membeli barang murah (karena memilih fokus ke masa depan, kecuali benar-benar utuh), 4) haram memiliki hutang, 5) harus investasi. Untuk etos yang kedua, orang Cina dalam berdagang mementingkan kuantitas, walaupun untungnya dikit tetap dikerjakan. Ini ada kesamaan dengan etos kerja orang Madura, yaitu kar-karkar colpek.
Kar-karkar colpek kalau diterjamahkah seperti seekor ayam yang mencakar-cakar tanah untuk mendapatkan makanan, meskipun sedikit tapi terus dilakukan penuh semangat dan keuletan sampai akhirnya kenyang. Falsafah ini, mengajarkan pentingnya kesabaran dalam berusaha, hidup hemat untuk mencapai sukses, namun tetap memelihara semangat dan optimisme.
Dilihat dari falsafah kar-karkar colpek, mestinya orang Madura bekerjanya ulet, kalau orang Madura tidak ulet berarti sudah tidak tau bujel (pusar)-nya. Keuletan orang Madura tidak memperdulikan jenis pekerjaannya. Ini bisa dibuktikan dari cerita-cerita orang Madura yang sukses diperantaun menjadi pengusaha besi tua, rata-rata dari mereka mengawali menjadi tukang bo’rombo’ (pemulung), tapi berkat kerja ulet bisa menjadi kaya raya.
Menguatkan etos kerja di atas, orang Madura mempunyai falsafah “sapa adagang bakal adaging. Arti harfiahnya “siapa rajin berdagang akan berdaging/sehat. Falsafat ini, memuat sebuah ajaran giat dan ulet dalam berusaha. Dari dua falsafah ini, secara garis besar ada kesamaan etos kerja orang Madura dan orang Cina. Dan bisa dijadikan pembenaran bahwa orang Madura lebih suka berdikari daripada norok oreng (bekerja ke orang/ikut orang). Mari begadang…eh berdagang. Wallahu a’lamu bi Al-shawaab

