SEJARAH BLATER
Madura merupakan sebuah pulau yang terletak di sebelah Timur Laut Jawa Timur. Luas pulau Madura, kurang lebih 5.168 KM2 ( lebih kecil dari pulau bali). Sedangkan jumlah penduduk mendekati jumlah 4 juta jiwa. Bila diperhatikan, bentuk pulau Madura seolah olah seperti perut sapi yang membentang terbagi menjadi empat kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.
Di samping itu, penamaan pulau Madura, di berikan oleh kaum Brahmana yang berasal dari India pada abat millenium pertama yang pernah singgah untuk mengajarkan agama Hindu. Saking indahnya pulau ini, lantas diberi nama pulau Madura, berasal dari bahasa Sangsakerta, yang berarti permai, indah, molek, cantik, jelita, manis, dan ramah tamah.
Selain itu, perlu diketahui bahwa etnis Madura merupakan etnis terbesar ketiga sesudah Sunda dan Jawa. Namun, dari pada etnik lainnya, hanya masyarakat Madura yang sering mengalami generalisasi dan digambarkan peyoratif sejak masa kolonial hingga saat ini. Oleh Kolonialis Belanda, orang Madura yang laki-laki digambarkan berperawakan yang kekar, berotot tapi tidak lebih besar dari orang Jawa, muka lebih lebar cenderung beringas dan kasar. Sedangkan, perempuan Madura digambarkan sangat terbelakang, kaku, gemuk, jelek, dan cepat tua. Tentu gambaran tersebut berbau peyoratif dan diskriminatif. Namun ada juga yang memberikan penilaian positif, misalnya orang Madura yang pemberani, gagah, petualang, jujur, tulus, setia dan lain sebagainya.
Sejak zaman Singosari hingga Majapahit, sudah ada konsep strata sosial, tidak terkecuali masyarakat Madura. Posisi teratas, ada kalangan Bupati dan Santana atau sanak keluarga (gusti). Di urutan kedua yaitu kaum Bangsawan yang menjalankan roda pemerintahan (mantri), serta pelayan sang Bupati (abdi) yang menduduki posisi paling bawah.
Memasuki era kekuasaan Kolonial Belanda, terjadi pergeseran strata sosial secara umum di Nusantara, termasuk strata sosial masyarakat Madura. Sebutan “gusti” yang semula berada di titik paling puncak, duduk sejajar dengan kaum penjajah. Kelompok abdi dihilangkan, konsekuensinya posisi para mantri dan pejabat birokrat sebagai aparat yang menjalankan roda pemerintahan tidak lagi dijabat oleh kalangan bangsawan, melainkan posisi tersebut bisa diakses oleh masyarakat yang mengenyam pendidikan modern dan memiliki kemampuan dan kecakapan bekerja. Kemudian dari sini muncul lapisan baru yaitu parjaji (priyayi).
Memasuki era pendudukan Jepang hingga Indonesia merdeka, rumusan strata sosialnya semakin komplek, yang terbagi dalam empat klasifikasi. Lapisan pertama, Pangraja (pembesar), lapisan kedua Pegawai, lapisan ketiga oreng andi’ (orang kaya), dan lapisan keempat oreng kene’ (rakyat kecil).
Dari beberapa lapisan sosial masyarakat tersebut, menandai strata sosial makin terbuka. Artinya, siapa saja dan dari lapisan sosial manapun, kualitas personal menjadi penentu strata sosialnya. Lapisan oreng kene’ merangsek menjadi orang yang diperhitungkan dalam masyarakat. Orang unggul yang berasal dari lapisan oreng kene’ muncul dengan sebutan “Blater”. Kalangan Blater menjadi kekuatan baru yang merepresentasikan taring rakyat kecil. Selain disebabkan kualitas personalnya, sosok Blater muncul dilatarbelakangi oleh kesadaran oreng kene’ dalam mengatasi kebuntuan komunikasi atas permasalahan hidup.
Oreng kene’ butuh orang untuk dijadikan kennenga rembaghan (tempat berembuk) untuk urusan sosial-kemasyarakatan. Hadirnya sosok Blater sangat tepat. Tentu dengan seleksinya sangat ketat. Untuk menjadi sosok yang bisa dijadikan kennenga rembaghan, ia harus mempunyai keberanian, jijib (jeli), jeg jeg (istiqamah/konsisten), loyal dan banyak jaringannya.
PENGERTIAN BLATER DAN BAJINGAN
Menurut kamus Jawa – Indonesia, Blater diartikan orang yang ramah, mudah bergaul. Sedangkan menurut kamus Madura – Indonesia diartikan sebagai sosok yang ikut di acara remoh dan jagoan. Sebagaimana dijelaskan dibahasan sebelumnya, sebutan Blater disematkan kepada tokoh lokal Madura. Ia diusung oleh kalangan oreng kene’ (rakyat kecil), yang disejajarkan dengan Kyai dan Priyai dalam peranan sosial. Selain itu, Blater adalah sosok manusia lokal yang dituakan karna faktor wawasan dan pengalamannya yang luas. Maka tak heran, bilamana Blater menjadi salah satu media masyarakat kecil untuk menyampaikan masalah hidupnya, meminta pendapat, bahkan memohon pertolongan untuk suatu keperluan tertentu.
Adapun Bajingan, awalnya merupakan istilah yang muncul di tanah Jawa untuk menunjuk pada profesi seseorang Pengendara Sapi. Karena kedatangannya tidak menentu, kadang pagi hari, siang hari, bahkan tengah malam sehingga penumpang menunggu mulai pagi hingga malam hari. Dari rasa kesal orang-orang yang menunggu kedatangannya hingga keluar umpatan; “bajingan suwek tenan to tekane!”. Jadi sebenarnya, dahulu kata bajingan digunakan untuk mengumpat keterlambatan orang, tetapi sekarang digunakan untuk menunjuk orang yang hidupnya akrab dengan kriminalitas. Dalam buku karya Moh. Saeiful Bahar, terdapat dua tipologi Bajingan, Bajingannah Kyai dan Bajingan Mera. Bejingannah Kyai adalah Bajingan yang mempunyaui kedekatan dengan para Kyai dan sering membantu Kyai dalam hal perpolitikan, sedangkan Bajingan Mera cenderung menjauh dari Kyai bahkan memusuhi dan melawan Kyai.
KARAKTERISTIK DAN PRINSIP – PRINSIP BLATER
Sebagai mahasiswa yang menempa diri dan berproses di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) terlebih yang mengenyam pendidikan di kota Bangkalan. Tentu mempunyai keharusan untuk mengetahui dan melestarikan aset budaya yang telah menjadi local wisdom (kearifan local) dan ikon sosial, salah satunya; Blater.
Sesuai dengan pengertian Blater yang telah di paparkan diatas bahwa terdapat lima karakteristik agar seseorang mempunyai legitimasi sebagai sosok Blater antara lain; bengal (pemberani), jeg jeg (konsisten dan istiqomah), kennenga rembegen (tempat konsultasi), lambhe’ (dermawan), bennya’ kancana (banyak temannya). Selain itu, Blater mempunyai lima prinsip yang dijadikan pegangan dalam interaksi sosialnya, diantaranya; ketauhidan, menghormati embo’ (ibu), menghormati ghuru (guru), ajhege tengka (menjaga etika), ajhege harga diri (menjaga harga diri).
Dari karakteristik dan prinsip yang dimiliki kalangan Blater dapat disimpulkan bahwa Blater merupakan sosok paripurna yang memiliki sifat solidaritas sangat tinggi. Hal tersebut, biasanya dibuktikan dengan sikap dan perilaku sosialnya yang kentara dengan selogan”namba bhele” (menambah saudara) dan “odhi’ kor akoran” (hidup harmonis sesama saudara). Upaya ini yang kemudia menjadi salah satu ciri khas unik, yang senantiasa diterapkan dalam meningkatkan ikatan kekerabatan dalam mewujudkan keharmonisan hidup bersama.
RELASI BLATER DAN GERAKAN SOSIAL
Sebelum memasuki pokok bahasan di atas, perlu kiranya kita mengetahui tiga tipe individu, antara lain: 1) Ordinary people (manusia-manusia biasa). Manusia tipe ini merupakan manusia ke banyakan yang membentuk jejaring sosial dengan pengaruh yang sangat terbatas. 2) Exeptional actors. Yaitu tokoh tokoh dengan kapasitas luar biasa. Dengan kapasitas yang di miliki,mereka bisa berbuat apa aja,bisa mahami kebutuhan masyarakat di sekitarnya dan mempunyai ke arifan yang dalam. Seperti para filosuf yang pemikirannya mempengaruhi peradaban. 3) Holders of exetional positions. Manusia tipe seperti ini.berada di antara dua tipe manusia yang di sebutkan sebelumnya. Individu dengan tipe seperti ini, kualitas kebijaksanaan dan pengetahuan yang dimiliki tidak seperti exceptional actors, akan tetapi memiliki posisi yang penting di tengah-tengah masyarakat. Posisinya tidak diperoleh dengan legitimasi intelektual, tapi tiba tiba menjadi pemimpin karena dipercayai oleh masyarakat. Iapun menjadi sosok yang di cintai, di hormati dan orang-orang tunduk pasrah di hadapannya.
Hal ini selaras dengan eksistensi dan kiprah sosial kalangan Blater. Berawal dari kepercayaan masyarakat sekitar menjadikan semangat dan motivasi untuk terus membantu dan mengabdikan diri terhadap masyarakat yang membutuhkan, serta tidak segan untuk mengorbankan jiwa raga dan bahkan finansialnya demi kemaslahatan sosial kemasyarakatan.
Selain itu perangai sosok kaum Blater cenderung ditopang oleh kekuatan magis yang seolah-olah mengesankan sebagai individu dengan tipe holders of exetional positions. Ia bak hero (pahlawan) dengan anugerah kharisma yang diberikan Tuhan untuk menjadi problem solver yang dihadapi masyarakatnya. Itulah Blater.
***NB: Hasil racikan Badrus Sholeh dkk untuk disajikan sebagai salah satu materi PKD PMII Komisariat STIT Al-Ibrohimi Galis Bangkalan.

