PILKADES

Desi. Ia perempuan pertama yang menggelorakan kesetaraan gender di desanya. Geloranya berasal dari pengalaman yang menyakitkan karena dihianati mantan suaminya.

Lelaki yang diyakini akan memberikan kebahagiaan hingga kematian menjemput, ternyata bermain mata dengan mantan kekasih yang sebelumnya putus. Tapi entah, cinta lama mereka bersemi Kembali.

Hasil telusuran Desi. Perempuan itu menyapa melalui inbok Facebook mantan suami, sekedar mengucap “selamat atas pernikahannya”. Kemudian dijawab normatif tanpa tendensi untuk kembali.

Setelah usia pernikahan mencapai 1,5 tahun. Pernikahan Desi mulai ada pertengkaran kecil. Bermula dari mantan suami yang menurut Desi telah ‘abai’ kepada dirinya.

Hari demi hari, pertengkaran semakin inten. Suami semakin tidak betah di rumah. Pada puncaknya, Desi iseng membuka-buka HP dan Laptop mantan suaminya. Desi terkaget-kaget. Darahnya mendidih. Kepalanya terasa berat dan sepertinya perlu diledakkan dengan marah-marah.

Suaminya telah mengalami ‘cinta lama bersemi kembali’. Desi menghimpun kekuatan untuk menegur dan memarahi mantan suaminya. Alhasil, ia menyangkal dan merasa tidak ada masalah.

Sikap apatis mantan suami, memaksa Desi berani pulang ke rumah orang tuanya, selama 2 bulan. Dan selama 2 bulan, sama sekali tidak ada kabar dari suaminya. Rupanya, Desi tidak diharapkan kembali.

Dorongan orang tua untuk kembali ke rumah suami, terpaksa Desi turuti. Mendapati rumah yang menjadi tujuan tidak ada orang, iapun bergegas mengemas barang-barangnya dan kembali pulang ke rumah ortunya.

Setelah menceritakan duduk perkaranya kepada ortunya, menghasilkan keputusan agar Desi melakukan gugat cerai. Singkat cerita, Desi sudah menyandang status ‘janda’.

Desi perempuan tangguh. Sebagai aktifis perempuan zaman menjadi mahasiswa tak membuat ia sembunyi karena gagal dalam membina keluarga.

Desi semakin bersemangat dan bergegas mengelorakan ‘kesetaraan gender’. Ia ingin perempuan tidak mengalami hal serupa seperti yang dialaminya. Paling tidak, perempuan jangan bodoh mau diinjak-injak laki-laki hanya karena takut menjadi gunjingan masyarakat.

Dalam satu kajian, saat Desi menjadi pembicara. Ia berkata; “Menjadi perempuan harus sadar peran sebagai istri, tapi bukan berarti mempersilahkan diri menjadi ‘babu’. Laki-laki harus tau itu! Bahwa sadar peran, juga harus diamini laki-laki. Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab atas perannya itu!”

Desi terlihat kuat, tapi sebenarnya rapuh. Saat merasa rapuh, ia meminta wejangan kepada gurunya. Gurunya mengirimkan kalimat penguat jiwa yang senantiasa dijadikan PIL KUAT KAK DESI (Pilkades).

Simak kalimatnya;

Kamu perempuan kuat yang pernah Aku miliki. Aku terkesima.

Jangan pernah menyempitkan pilihan, hanya satu pilihan.

Kamu banyak pilihan, kadang kita lalai dengan usaha dalam memilih. Yang mestinya harus melibatkan petunjuk Tuhanmu.

Kamu boleh mengeluh, itu hal yang wajar.

Mengeluh kalau pada diri, itu berarti pengakuan bahwa kamu lemah. Itu bukan masalah.

Keluhan yang disampaikan ke orang lain terus menerus itu yang masalah, bahkan bahaya. Karena bermakna, Tuhan tidak sayang kamu.

Tegaskan pada dirimu; “TUHAN MENYAYANGIMU”.

*** Penulis: Fanajidu

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini