Tong Saritong: Sebuah Tradisi Ritual Menabur Uang

Oleh: Muniri Faqod, S.HI, MH.I

Keramat Kiyai Hasbullah

Di desa Klampis Barat Kabupaten Bangkalan, tepatnya di kampung Palteker, ada tradisi ritual yang diwariskan turun-temurun, yang dilakukan di sebuah petilasan, hingga kini tradisi ritual tersebut masih dilestarikan. Petilasan ini tidak dibangun mewah agar tidak terlalu dipuja-puja berlebihan, hanya di batasi bambu yang masing-masing sisi, kurang lebih tingginya 81 cm.

Petilasan ini, merupakan peninggalan sesepuh setempat, yang dipercaya mempunyai karomah yang luar biasa, Kiyai Hasbullah namanya, diperkirakan hidup di abad 18 Masehi, sekitar tahun 1800-an.

Berdasarkan pengakuan juru kunci petilasan ini, yang merupakan cucu dari suami-istri yang ngemong Kiyai Hasbullah sejak kecil, bahwa Kiyai Hasbullah anak keturunan Buju’ Sambilangan yang berada di desa Sambilangan, desa yang terletak di bagian Barat kabupaten Bangkalan, dekat Mercusuar yang letaknya di pinggir pantai. Nama asli Buju’ Sambilangan sendiri adalah KH. Abdul Karim yang sambungannya dengan Syaikh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Orang tua asli Kiyai Hasbullah sendiri berasal dari salah satu desa di Kecamatan Kwanyar (tepatnya di desa apa belum ada data akurat), daerah pesisir selatan Kabupaten Bangkalan. Konon, ia hilang sejak kecil dan ditemukan oleh sepasang suami-istri di desa Klampis Barat, dan diangkat menjadi anaknya. Beberapa tahun, setelah agak dewasa, ada orang yang sedang mencari anaknya yang hilang, setelah Hasbullah kecil ditunjukkan, ternyata benar itu anaknya, namun Kyai Hasbullah tidak mau ikut pulang, ia memilih tinggal di Klampis.

Sewaktu kecil, Kiyai Hasbullah tidak suka memakai pakaian, tidak suka tidur malam, dan pernah menghilang dari rumah yang didiaminya, datang lagi stelah ia dewasa.

Konon, belum ada masyarakat sekitar melihatnya buang air besar. Hal yang masyarakat sekitar merasa takjub kepada Kiyai Hasbullah dikarenakan do’anya istijabah. Kemampuan inilah, yang membuat masyarakat sekitar menganggapnya sebagai seorang wali. Namun, hingga kini, belum diketahui dimana makamnya, ada yang berpendapat ia nyēlom ke dimensi lain.

Tong Saritong dan Tuah Kepala Kambing

Menurut juru kunci petilasan ini, hanya berisi kepala kambing yang di tanam tepat di petilasan tempat ritual. Tempat ritual tersebut, oleh masyarakat sekitar diberi nama “Tong Saritong”, sebuah tradisi ritual yang dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai hajat tertentu. Biasanya dilakukan hari Jum’at Legi. Yang melakukan ritual kebanyakn orang yang sudah mendapatkan rezeki, atau orang yang cita-citanya tercapai. Ada juga, karena sembuh dan ada yang ingin sembuh dari sakitnya.

Wawancara penulis dengan beberapa orang yang pernah melakukan ritual Tong Saritong ini, merasa puas karena hajatnya terkabul. Mereka menganggap petilasan ini sebagai wasilah untuk meminta kepada Allah, agar hajatnya dikabulkan.

Suatu ketika ada orang yang terkena kasus, yang hampir masuk penjara, karena kasus membuang minyak ke laut, semalaman ini tidak tidur, lantas ia teringat dengan tempat ritual Tong Saritong, dan akhirnya ia berniat; “kalau terbebas dari kasus ini, saya akan melakukan ritual Tong Saritong”. Tiba-tiba besoknya, ia terbebas dari kasus tersebut. Konon hal aneh yang terjadi, alat bukti sebagai penguat tuduhan berpindah tempat tanpa diketahui siapa yang memindah.

Ada juga orang yang tidak juga berangkat kerja pelayaran, setelah melakukan ritual Tong Saritong, tak lama dari itu, ada panggilan dan akhirnya berangkat kerja. Demikian juga dengan orang sakit, yang sudah lima kali dilakukan operasi, akhirnya suaminya berniat, jika nanti istri saya sembuh, saya akan melakukan Tong Saritong, dan akhirnya sembuh.

Tempat ritual ini terbuka untuk umum, walaupun tempat ritual nylempit di pelosok kampung, dengan catatan tidak nakal, maksudnya kalau sudah sukses dengan hajatnya harus melakukan ritual Tong Saritong.

Ada kejadian orang yang mau bisnis dan sudah niat mau melakukan ritual Tong Saritong, ternyata setelah sukses tidak melakukan ritual, akhirnya ia bangkrut, berganti usaha ternyata bangkrut juga. Orang sakitpun, yang sudah sembuh kalau sewaktu sakit punya niat ritual Tong Saritong, kalau tidak melakukan ritual, bisa sakit lagi.

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini