GERAKAN BERSEMI BERBASIS ECO GREEN

Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan)

Krisis global telah melanda dunia kita. Hampir seluruh bidang kehidupan, seperti bidang Kesehatan, teknologi, ekonomi, politik, kualitas lingkungan dan hubungan sosial. Bahkan krisis juga melanda dimensi-dimensi intelektual, moral dan spiritual. Krisis global ini, nampaknya menyeret dampak ke semua negara, tak terkecuali Indonesia meski pada skala yang berbeda-beda.

Sejak tahun 2019 hingga saat ini terjadi krisis global dalam bidang kesehatan, menyebar covid-19. Akibatnya, lebih dari 16,6 juta kematian di dunia akibat covid-19. Peperangan negara Rusia dengan Ukraina yang sedang berlangsung saat ini, merupakan akibat persoalan geo-politik yang cukup berdampak pada tatanan ekonomi, sosial dan kualitas lingkungan. Dalam hal kematian akibat peperangan, tentu ada sumbangsih bidang teknologi yang dihasilkan dari tangan intelektual dan para politisi yang haus kekuasaan dan kekerasan, misalnya mengeluarkan dana militer kira-kira 425 miliar dolar. Bahkan negara miskin sekalipun lebih mementingkan bisnis pembelian senjata dan kapal perang ketimbangan Pendidikan dan Kesehatan, padahal kurang lebih terdapat 15 juta penduduk dunia setiap tahun meninggal karena kelaparan, 500 juta orang kekuarangan gizi, dan 35% kekurangan air minum bersih. (Gadis Arivia: 2004, 26)

Kecendrungan di atas, makin diperparah dengan ancaman besar yang bisa menghancurkan bumi. Ancaman tersebut berwujud pemanasan global. Panas Bumi pada 2014 sudah naik sekitar 0.850 c terhitung sejak 1850, penyebabnya antara lain dipicu oleh pemakaian besar-besaran energi fosil, seperti batubara dan minyak bumi. Sumber energi tersebut melepas karbon dioksida (CO2) dan emisi gas lain dalam jumlah besar yang kemudian tertahan di lapisan atmosfer, akhirnya endapan tersebut memerangkap panas dari cahaya Matahari, sehingga akhirnya suhu bumi meningkat dan mengakibatkan perubahan iklim.

Dampak perubahan iklim telah dirasakan, antara lain; kenaikan permukaan air laut, musim yang tidak teratur dan tidak dapat diprediksi dengan tepat, dan makin banyaknya peristiwa ekstrem seperti banjir dan kekeringan dimana-mana. Dari banjir dan kekeringan akan melahirkan masalah turunan antara lain; kerusakan pertanian, penyakit menular, hilangnya harta dan jiwa, kekurangan ketersediaan air bersih, dan kemiskinan.

Mempertimbangkan sebab dan akibat perubahan iklim, pada Konfrensi Tingkat Tinggi PBB di Perancis tahun 2015, menetapkan rekomendasi bagi negara-negara di dunia untuk berupaya memerangi kerusakan lingkungan. Salah satu rekomendasinya adalah mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan mengalihkannya ke sumber energi terbarukan. Upaya ini, telah menjadi misi khusus bersama hampir semua pemimpin negara maju dalam menghadapi perubahan iklim, meskipun ada orang yang tidak percaya dengan ancaman perubahan iklim.

Untuk wilayah Bangkalan, pencemaran lingkungan masih sering terlihat di sekitar perairan Madura. Temuan Mahasiswa Universitas Turnojoyo Madura (UTM) yang bekerjasama dengan dengan tim peneliti UTM tahun 2022, menemukan sampah domestik, seperti botol, sachet, kresek, jarring, tali pancing yang dibuang di wilayah perairan Kawasan Sukolilo Timur dan Barat. Sedangkan diwilayah perkotaan, sejak 2019 hingga saat ini persoalan sampah tetap menjadi masalah utama. Hal ini bisa dipastikan melalui media online sepanjang tahun 2019 hingga 2021 menyorot timbunan sampah di sekitar perkotaan. Belum lagi, daerah perkotaan yang mulai sering banjir, diduga disebabkan pembangunan area perumahan tidak mempertimbangkan tata ruang berbasis kelestarian lingkungan.

Selain problem pencemaran lingkungan yang terjadi di pesisir laut dan perkotaan, problem pertanian tidak kalah mirisnya. Mayoritas petani Kabupaten Bangkalan masih menggunakan pupuk non organik yang berefek pada pengerasan tanah di persawahan dan berpengaruh pada kualitas hasil panen. Terlihat juga, Petani sering memakai pestisida kimia yang membahayakan Kesehatan dalam jangka Panjang. Sedangkan di pesantren tidak lepas juga dari persoalan lingkungan. Pesantren dalam perharinya, menghasilkan sampah yang cukup banyak. Untuk saat ini, jalan keluar untuk mengurangi timbunan sampah di pesantren, dengan cara di timbun di area tak jauh dari pesantren, setelah kering lalu dibakar. Tentu hal tersebut akan menyebabkan polusi udara yang mengganggu kesehatan pernafasan warga sekitar pesantren.

Rupanya dibidang literasi, masih sulit ditemukan tulisan dalam bentuk artikel jurnal maupun buku yang mengulas tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Tentu juga, belum ada riset yang menghubungkan pentingnya kelestarian lingkungan dan eco green. Dari fakta ini, dapat dianggap bahwa orang Madura (khususnya orang Bangkalan) masih belum sadar pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan dampak kerusakan lingkungan terhadap ekonomi, kesehatan, pertanian berkelanjutan, dan ekosistem laut, mestinya mereka harus sadar bahwa menjaga kelestarian lingkungan beserta penanggulangan dampak kerusakan lingkungan akibat dari aktivitas yang dilakukannya akan memberikan konstribusi pada terjadinya output yang berkelanjutan secara lingkungan, menjadikan proses produksi menjadi lebih ramah lingkungan, menanggulangi masalah-masalah yang menggerogoti ekonomi biru hijau, dan menghasilkan pekerjaan yang layak, produktif, aman, adil, adanya perlindungan sosial dan lain-lain.

Untuk itu, penting sekali menumbuhkan kesadaran wawasan lingkungan dan eco green kepada masyarakat, utamanya kepada para pemuda sebagai generasi penerus. Para pemuda perlu disadarkan tentang pentingnya wawasan lingkungan dan eco green ini. Pemuda harus menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan, dikarenakan generasi muda memiliki tingkat idealisme dan kepedulian sosial yang tinggi. Dalam hal ini, pemuda yang berada di lingkungan pesantren perlu diperhatikan berkenaan dengan permasalahan yang berkaitan dengan penyadaran pentingnya wawasan lingkungan dan eco green agar nantinya pesantren dapat menjadi agensi penting dalam kontek masyarakat Madura yang cendrung agamis. Sehingga nantinya mewujud  sebuah Gerakan BERSEMI; Bersama Sembuhkan Bumi.

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini