Beternak Ayam; Membuat Pakan Sendiri yang Ramah Lingkungan

Peternakan ayam pedaging bagi sebagian orang dianggap sebagai salah satu usaha yang menggiurkan dari segi pendapatan, tak ayal banyak yang kemudian yang membangun usaha ini. Dalam perjalanannya banyak yang dapat bertahan namun juga tidak sedikit yang akhirnya harus gulung tikar. Alasannya beragam, ada yang tidak bisa memutar keuangannya, usaha dirasa tidak menguntungkan dan alasan bau dan hama yang menggangu masyarakat.

Banyaknya masalah dalam usaha peternakan rupanya tidak membuat mosleh menghindari usaha tersebut. ia adalah seorang Kepala Desa di Alaskokon yang pada tahun 2018 memilih untuk merintis usaha peternakan ayam pedaging di desanya. Ia membangun usaha tersebut lantaran melihat usaha beberapa kerabatnya di berbagai kota besar mulai berjatuhan, mulai usaha meublel, jual beli besi tua dan jasa bongkar bangunan.

Mosleh saat ini memiliki kandang berukuran 110×12 Meter. Kandang 2 lantai tersebut memiliki masing masing lantaii berkapasitas 15.000 ekor dengan jumlah keseluruuhannya berkapasitas 30.000 ekor ia menurturkan awalnya usaha ini berangkat dari keinginan membuat usaha yang dapat menunjang perkonomian dan juga dapat diwariskan kepada keluarga” ujarnya saat kami wawancarai.

Untuk merintis usaha tersebut Mosleh harus mengucurkan dana awal Rp. 1.200.000,000 (satu miliar dua ratus juta rupiah) dana sebesar itu digunakan mosleh untuk membangun kandang dan membeli seluruh kebutuahan yang ada di dalam peternakannya seperti instalasi air dan instalasi listrik juga penghangat dan pendingin ruangan.

Mosleh juga mengungkapkan ia memulai peternaknnya dengan mandiri selama beberapa periode. Ia menegaskan akan terus menjalankan peternakannya dengan sumberdaya yang ia miliki. Namun proses itu hanya berjalan dalam beberapa waktu saja dengan berbagai kendala yang ia alami mulai dari sulitnya membeli bibit dan kehabisan stok pakan di distributor.

Proses tersebut akhirnya mempengaruhi keteguhan yang dari awal di deklarasikan oleh mosleh. Ia mulai berfikir Kembali dan mengevaluasi efektititas dari usaha yang di jalani. Mosleh bimbang dan harus membuat keputusan yang cepat dan tepat agar keugian yang ia alami tidak merembet dan membuat usahanya gulung tikar.

Pada akhirnya ia memilih menjadi menjalin kemitraan dengan PT Ciomas Adisatwa. Beragabungnya Mosleh kedalam keamitraan tersebut lantaran tidak ingin lagi kerepotan mencari bibit, pakan vitamin dan juga saat hendak menjual ayam ayamnya tersebut. ia menganggap dengan meenjalin kemitraan jalan usahanya lebih stabil dan dapat menghasilkan laba lebih banyak lagi. Menjadi mitra menurutnya siklus bisnisnya akan lebih stabil dari hulu hingga hilir.

Dalam menjalankan bisnisnya tersebut mosleh harus mengeluarkan dana operasional yang tidak bisa dibilang sedikit.ia harus membayar pembelian bibit, pakan, vitamin dan obat-obatan serta tenaga kerja yang ia rekrut untuk mengelola ternaknya. Rincian biaya yang harus di keluarkan bisa di lihat dari tabel berikut ini:

Total pengeluaran

NoItemHargaKebutuhanTotal
1.DOC/Bibit ayam6.500/unit30.000 ekor195.000.000
2.Pakan9.000/kg85.000 kg765.000.000
3.Listrik– Kwh– Kwh9.000.000
4Tenaga kerja3.800/orang4 Orang19.000
5.Sekam2000/sak1.600 sak3.000.000
TOTAL991.000.000

Total pendapatan

NoItemHargaBobotTotal
1.Penjualan ayam19.000 /Kg55.000 Kg10.405.000.000
TOTAL1.045.000.000

Dari tabel diatas dapat kemudian bisa disimpulkan bahwa pengeluaran biaya terbesar terletak pada pembelian pakan yang prosentasenya mencapai 70% dari total pengeluaran yang ada. Dan juga dengan hasil yang didapatkan tidak sebanding dengan modal yang di keluarkan untuk menjalankan usaha tersebut. rumus yang digunakan dalam menghitung keuntungan tersebut tergambar dalam rumus sebagai berikut.

Dan dari keseluruhan keuntungan yang kita dapatkan adalah 5,16% dari total omzet yang dihasilkan dalam peternakan tersebut angka ini. Angka ini adalah laba bersih setelah modal semua dibayarkan untuk menutupi pembelian dan pembayaran tenaga kerja yang ada.

Kondisi yang terjadi di peternakan tersebut sesuai dengan hasil riset dalam jurnal peternakan Indonesia yang menjelaskan entitas dengan pembelian terbesar dalam usaha peternakan ayam adalah pada pembelian pakan yang angkanya bisa mencapai 70% dari total biaya operasional. Bukan angka yang kecil tentunya pengeluaran yang menempati angka kedua adalah pembelin bibit angkanya 20% dari total operasional.

Selain dari jurnal, angka 70 % juga diamini oleh dinas peternakan kabupaten bangkalan melalui kepala bagian pakan dan inovasi peternakan yang menyatakan biaya pembelian pakan menempati urutan pertama dalam biaya operasional peternakan.

dinas peternakan saat menyampaikan beberapa cara yang dapat diterapkan agar bisa menghemat pembelian pakan diantaranya adalah dengan menerapkan

sistem sel mixing. Sistem selfmixing merupakan proses pencampuran pakan pabrikan dengan bahan bahan seperti jagung dan dedeg yang harganya lebih murah. Yang kedua adalah full selfmixing, yaitu pakan seluruhnya diracik secara penuh oleh pengelola kendang tersebut. baik selfmixing dan full selfmixing semuanya membutuhkan keahlian yang memadai, caranya bisa belajar langsung kepada peternak yang sudah menerapkan konsep ini atau mengikuti pelatihan tentang selfmixing atau full selfmixing

Kondisi yang berbeda terjadi di peternakan yang ada di Desa Kranggan Barat Kecamatan Tanah Merah. Di peternakan ini pemilik peternakan memiliki kemandirian untuk membuat pakan sendiri. Kemandirian yang dilakukan tersebut berangkat dari kesadarannya yang menganggap beternak dengan membeli pakan pabrikan tidak membuatnya memiliki keuntungan yang besar.

Pada akhirnya ia memutuskan untuk belajar kepada salah seorang peternak yang berasal dari Blitar bagaimana cara untuk membuat pakan sendiri yang bertujuan menghemat pengeluaran dan memperbesar omset yang dapat dihasilkan.

Kegigihan dan usaha Abdul Malik menemui hasil positif, setelah beberapa waktu berlatih akhirnya ia mampu membuat pakan ternaknya sendiri. Dari upayanya tersebut ia bisa mengehemat biaya pembelian pakan yang awalnya 9.500/kg menjadi Rp 6.500/kg atau bisa menghemat Rp. 3.000 Rupiah perkilogramnya. Angka tersebut mungkin bagi sebagian orang sangat kecil tapi jika di akumulasikan dengan jumlah kebutuhan pakan dalam satu periode saja, angka tersebut sangatlah besar.

Jika kita ingin membandingkan antara peternakan yang menggunakan pakan pabrikan dengan pakan yang meracik sendiri mari kita bandingkan dari sisi pendapatan dan pengeluaran yang ada dalam peternakan tersebut dalam satu periode banyak selisih biaya yang dihasilkan karena banyak biaya yang bisa di minimalisir. Jika di hitung dari pengeluaran dan penghasilan yang di dapatkan sebelum dan sesudah menggunakan pakan sendiri akan bisa disimpulkan berapa banyak yang bisa di hemat dan berapa selisih pernghasilan yang akan di dapatkan.

Estimasi pengeluaran dan pendapatan peternakan dengan pakan pabrikan akan dirinci dalam tabel berikut:

Table 1
  Pengeluaran Pakan  9.500 × 3.900 Kg  37.050.000
Pendapatan Penjualan  28.000 × 1.680 Kg  47.040.000
Laba Rp: 9.990.000
  Tabel 2
  Pengeluaran Pakan  6 .500 × 3.900 Kg  25.350.000
Pendapatan Penjualan  28.000 × 1.680 Kg  47.040.000
Laba 21.690.000

Keterangan : tabel 1 peternakan dengan pakan pabrikan, tabel 2 peternakan dengan pakan racikan sendiriq

jika ingin melihat dengan detail perbedaan keuntungan yang di dapatkan dari dua model peternakan yang pernah digunakan di desa kranggan ini kita bisa menggunakan rumus sebagai berikut:

Dari hasil penghitungan dengan rumus tersebut bisa di lihat perbedaan laba yang di hasilkan antara sebelum menggunakan pakan sendiri dengan setelah menggunakan pakan hasil racikan sendiri. Pada pakan pabrikan hasil laba dalam sebulan prosenrase labanya 21.23%. sedangkan pada peternakan dengan pakan racikan sendiri prosentasenya dapat mencapai 46.10%

Peteranakan dengan menggunakan pakan hasil racikan sendiri memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan peternaka yang mengandalkan pakan dari pabrik. Selain menghemat pengeluaran dan meningkatkan laba, peternakan dengan sistem peracikan pakan sendiri dapat membuat masa produktif ayam lebih lama. Jjka menggunakan pakan jadi pabrikan ayam akan memasuki masa afkir jika sudah berumur 1.5 tahun. Sedangkan pada ayam dengan pakan racikan sendiri masa afkirnya sampai berumur 2 tahun, atau 6 bulan lebih lama dari ayam dengan pakan pabrikan.

Sisi yang lain juga pakan racikan sendiri menghasilkan kotoran yang baunya lebih minim. Hal ini menjadi poin penting karena banyak peternakan dianggap mengganggu masyarakat karena baunya yang menganggu udara di lingkungan masyarakat. Dengan minimnya bau maka memperkecil potensi gangguan lainnya yang di hasilkan.

Dengan peternakan model seperti itu juga kotoran yang dihasilkan dapat difungsikan sebagai pupuk organik untuk pertanian. Berbeda dengan peternakan yang menggunakan pakan parbrikan. Penggunaan pakan hasil racikan sendiri membuat kotoran dapat menjadi penyubur bagi lahan dan tanah untuk pertanian dan perkebunan. Dengan kata lain. Peternakan menggunakan pakan racikan sendiri memilki dua sisi. Satu sisi ayam lebih sehat dan masa produkifnya lebhih Panjang dari ayam dengan pakan pabrikan, sisi lainnya kotoran yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan dalam sektor pertanian.

Maka jelas sudah perbedaan yang terdapat pada dua model peternakan tersebut baik dari segi ekonomi juga dampaknya terhadap lingkungan.

*** Tim Peneliti Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini