Aksi yang Sesungguhnya

Di sekitar tetangganya, ada komunitas pendatang, yang pendapatan kesehariannya dari menjadi kuli bangunan, dan membecak. Rata-rata anak-anaknya hanya lulusan SD, dan sengaja tidak dilajutkan ke jenjang studi selanjutnya, karena masalah biaya sekolah.

Sebut saja Ibu hebat ini bernama “Tukiyem”. Dia masih keturunan darah biru, cuman dalam kesehariannya beliau melebur, dan tak merasa ingin dihormati seperti layaknya orang berdarah biru.

Singkat cerita, Ibu Tukiyem ini membuka les gratis di rumahnya, dan mengajar mengaji juga, tanpa dipungut bayaran. Setelah anak-anak tetangganya yang mengikuti les dan mengaji di rumahnya telah lulus SD, Ibu Tukiyem berkata kepada orang tua anak-anak tersebut. Harapannya, agar sekolahnya dilanjutkan ke jenjang studi berikutnya. Namun, hampir semua dari mereka, tidak mau, karena merasa tidak kuat bayar biaya iuran studi.

Lantas Ibu Tukiyem, meyakinkan mereka, “bahwa orang yang sedang mencari ilmu, pasti ada rezekinya sendiri”. Setelah menyampaikan dakwah begitu, selanjutnya Ibu Tukiyem mempengaruhi mereka, agar berdagang walaupun hanya kecil-kecilan, akhirnya disepakati jualan jajan pasar, dari penjualan itu, Ibu Tukiyem tidak minta bagian, hanya biasanya minta satu, untuk dimakan di tempat mereka berkumpul dan ngerumpi gaya Ibu-ibu.

Sambil lalu, mendaftarkan anak-anaknya masuk SMP, mereka semangat berjualan dagangan pasar di sekitar kampung, dan tempat-tempat keramaian yang memungkinkan orang-orang membeli dagangannya. Tahun berganti tahun, bulan berganti bulan, dan hari berganti hari, dari berjualan jajanan pasar ternyata bisa menyekolahkan anak-anaknya, hingga lulus SMU.

Menurut Saya, yang dilakukan oleh Ibu Tukiyem, merupakan sebuah aksi nyata untuk melakukan perubahan bersama, dengan cara berbaur dan merasakan langsung suka-dukanya mendampingi orang tua-orang tua yang merasa tidak percaya diri melanjutkan anaknya ke sekoalah hingga lulus SMU.

Yang dilakukan Ibu Tukiyem, saya rasa melampaui aksi jalanan, maupun aksi yang berbasis penelitian. Ia telah melakukan sesuatu sebagaimana yang dikatakan oleh Lao Tzu; “Doing nothing is better than being busy doing nothing” (tidak melakukan apa-apa lebih baik daripada sibuk tidak melakukan apapun). Tidak merasa melakukan apapun, namun telah menjadi pemicu perubahan bagi orang tua-orang tua yang berefek pada kelancaran studi anak-anak mereka.

Beliau tidak hanya menjadikan berdagang sebagai menopang ekonomi mereka, melainkan menjadikan berdagang sebagai gaya hidup. Inilah yang menurut saya kata kunci dalam melakukan aksi, yang dirubah adalah mindset orang, yang awalnya merasa tak berdaya, hingga merasa berdaya. Yang demikian inilah menurut saya yang terpenting dalam melakukan aksi nyata mengawal sebuah perubahan fundamental dari satuan-satuan mata rantai kehidupan yang terlihat lemah.

Cerita Ibu Tukiyem ini sangat menarik sekali, khususnya bagi pembaca yang dulunya mempunyai orang tua yang kurang mapan secara ekonomi, tapi tetap bersikukuh agar bisa mengenyam pendidikan yang layak. Cerita Ibu Tukiyem meyakinkan para orang tua agar putra putrinya bisa melanjutkan sekolah setinggi-tingginya.

Walaupun sebenarnya, pendidikan yang tinggi belum tentu menentukan tinggi juga pendapatan ekonominya kelak, karena untuk yang satu ini, berhubungan dengan mindset seseorang. Namun demikian, dalam hal pentingnya pendidikan masih perlu diberikan keyakinan kepada orang tua-orang tua, khususnya di pedesaan, biarkan mereka tetap berkeyakinan, bahwa dengan sekolah bisa merubah nasib kehidupan anak-anaknya kelak, minimal mereka memahami suatu hal, bahwa “banyak jalan menuju Roma”.

Alfatihah kepada orang tua dan saudara/i kita yang telah membiayai studi kita.

**Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun)

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini