Batas Ideologisasi adalah Kemanusiaan

Enam belas tahun yang lalu (tahun 2004), dalam pelatihan history of Thoughts di SATUNAMA Sleman Yogyakarta. Seorang moderator sesi acara mengawali diskusi dengan memberikan secarik kertas. Selanjutnya, mengajukan pertanyaan kepada peserta, tentang ‘apa itu ideologi’? peserta diminta menjawab dengan kalimat singkat, jawaban diminta ditulis di kertas yang telah diberikan.

Ada satu peserta yang jawabannya menyedot perhatian semua orang yang ada dalam ruangan pelatihan. Ia menjawab; “ideologi adalah darah”. Menurutnya, sebuah ideologi selalu meneteskan darah bagi penganut dan penentangnya. Iapun mengulas tentang sejarah peradaban dunia, banyak darah mengalir untuk mempertahankan sebuah pemikiran yang dianggap mewakili kebenaran universal, yang oleh penganutnya diyakini akan memberikan kebaikan secara universal, tidak peduli latar belakang kebangsaan, agama, dan apalagi kelas ekonominya.

Definisi yang disampaikan oleh peserta pelatihan di atas, terfokus pada sejarah kelam keberadaan ideologi saat dijadikan penyanggah kepentingan politik penganutnya di luar kepentingan asasiah sebuah ideologi itu sendiri, yakni perwujudan yang lebih murni, ideal dari nilai-nilai kognitif dan moral khusus yang sudah ada dalam masyarakat.

Louis Althusser (Marxian) memberikan definisi; ideologi merupakan “sistem” (yang memiliki logika dan tuntutan disiplin tersendiri) representasi (gambar, mitos, gagasan atau konsep) yang memiliki keberadaan dan peran sejarah di dalam masyarakat tertentu. Pengertian ini, bisa dipahami apapun yang yang menjadi simbol imajiner dan berdaya menggerakkan seseorang atau kelompok untuk melakukan transformasi hidup pengikutnya sesuai dengan prinsip-prinsip khusus, menekankan konsistensi, dan ketelitian dalam penerapan prinsip, serta tidak henti-hentinya bersikap kritis kepada yang menyalahi keduanya.

Selalu Ada Kepentingan Bersama dalam Ideologi, Tapi?

Cakupan nilai-nilai universal yang disumblimasi dalam sebuah ideologi diarahkan pada sebuah upaya mewujudkan kebaikan bersama. Oleh karena lahir dari proses sublimasi, maka ideologi satu dengan lainnya sering bertautan, hanya saja saat menentukan model perjuangan dan kesilapan penganutnya yang seringkali mengalami benturan.

Mengenai kesilapan penganut ideologi yang berpotensi mengalami benturan, tergambarkan dengan baik dalam film X-Men: Days of Future Past. Dalam film ini, ada pemeran tokoh utama, Charles Xavier yang selalu berpandangan universal. Ia selalu memikirkan tentang keberlangsungan kehidupan bersama dalam kedamaian, walaupun lebih memperhatikan Mutan (manusia ajaib) daripada manusia. Sebaliknya, Erik Lensherr (Magneto), selalu mengutamakan sesama Mutan, dan tak segan membunuh manusia yang bersikap semena-mena pada Mutan.

Ada juga Mystique (Raven) yang menempatkan cara pandangnya di luar sekaligus di dalam cara pandang Charles dan Erik.  Mystique bisa dikatakan sintesa dari cara pandang keduanya. Ia membela Mutan sekaligus membenci kebengisan Erik yang tak pernah puas membunuh manusia yang jahat. Mystique masih mengikuti cara pandang Charles; “hanya karena seseorang kehilangan arah, bukan berarti tersesat selamanya”, tapi ia belum mampu memberikan jalan lebih baik sebagaimana Charles lakukan, ia masih memilih jalan Erik untuk menyelesaikan persoalan.

Di luar Mutan, ada Dr. Bolivar Trask orang jenius dari kalangan manusia. Ia sangat ambisius dengan robot Sentinel yang diprogram untuk memburu dan menangkap atau membunuh para Mutan. Ia menggelorakan perang dengan manusia, dimulai mengambil sampel darah dari Mystique untuk dijadikan pelengkap robot Sentinelnya. Tujuan dari semua itu, hanya untuk mengurangi korban manusia dalam setiap peperangan, dan keuntungan finasial dari hasil temuannya.

Trask tak ubahnya Erik sama-sama punya cara pandang totaliter, sebuah cara pandang yang menganggap keberadaan manusia tidak penting, jika tidak melakukan perannya untuk mendukung pencapaian kepentingannya. Cara pandang seperti ini sangat berbahaya. Praktek pencapaiannya sangat represif dan penuh kekerasan, tidak hanya kepada manusia di luar lingkaran kelompoknya, melainkan juga manusia yang berada dalam lingkaran kepentingannya.

Batas Ideologisasi adalah Kemanusiaan

Sekurang-kurangnya ada tiga fungsi ideologi, antara lain;

  • Mengaktualisasikan kembali akta pendirian kelompok dengan model, dan dengan representasi diri.
  • Memperkuat motivasi tindakan dengan membuat percaya bahwa orang berada dalam kotak dengan makna terdalam dari keberadaan.
  • Memberi legitimasi tindakan dan mendasari sikap kritis terhadap tatanan yang ada dengan acuan pada tujuan terakhir.

Fungsi-fungsi ideologi ini, jika dikemas dalam satu pengertian, maka yang dimaksud ideologi adalah motivasi bagi praktis sosial yang memberikan pembenaran dan mendorong suatu tindakan. Dengan demikian, suatu ideologi mendorong untuk menunjukkan bahwa kelompok sosial yang diyakininya mempunyai alasan untuk ada.

Sifat ideologi yang doktriner dalam memberikan pembenaran dan pemantapan diri, seringkali membutuhkan slogan, aturan, dan rumusan-rumusan yang menjadi pembeda dengan penganut ideologi satu dengan penganut ideologi lainnya. Hal itu sah-sah saja, selama ideologi tidak mengalami distorsi dengan membelokkan maksud yang benar, dan menyembunyikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan penguasa.

Ideologi yang masih menjaga kemurnian ajaran, layak dijadikan acuan untuk menyusun standart nilai, lebih lanjut dijadikan acuan memutus perkara. Dan biasanya, ideologi yang demikian minim penolakan dan berlangsung lama menjadi pegangan setiap orang. Wallahu a’lam bi Al-Shawaab

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini