Burdah Keliling, Adakah Efeknya?

Oleh: Muniri, S.HI, M.HI

Sebenarnya, tradisi membaca burdah keliling sambil membawa obor bukan tradisi baru, jauh sebelum adanya Covid-19, sudah pernah dilakukan. Tujuannya sama, untuk menolak balak berupa pagebluk, penyakit menular, dan macam-macam penyakit menular lainnya.

Perihal efektif tidaknya membaca burdah keliling untuk menangkal penyakit menular tersebut, tentu sulit dibuktikan secara keilmuan medis, hanya saja semua kalangan bahkan kalangan medis sekalipun sepakat bahwa rasa bahagia dapat meningkatkan daya imun tubuh yang dapat menangkal penyakit datang, bahkan mempercepat sembuhnya penyakit yang sedang diderita seseorang.

Rasa bahagia memunculkan semangat hidup. Orang yang mempunyai semangat hidup, sudah tentu mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, selama tindakan-tindakannya terukur dengan baik, maka lebih banyak menarik energi positif daripada yang negatif.

Rasa bahagia berhubungan dengan keselarasan antara rasa hati dan pikiran. Rasa hati sendiri memancarkan getaran kaitannya dengan jantung, sedangkan pikiran memancarkan getaran kaitannya dengan otak. Keselarasan keduanya, memancarkan getaran keluar tubuh layaknya gelombang elektromagnetik, dan sangat positif dan terasa luar biasa.

Kaitan ulasan tentang rasa bahagia dengan tradisi burdah keliling setidaknya bertemu pada level kesamaan frekuensi yang dicitrakan dalam bait-bait burdah yang berisi ungkapan cinta dan kebahagiaan pada junjungan Nabi Muhammad SAW. Seorang yang diyakini menjadi rahmatan lil ‘alamin. Sosok teladan penuh kasih, dan diyakini bisa memberikan syafa’at (pertolongan) kepada ummatnya.

Jika mengacu pada teori getaran gelombang elektromagnetik di atas, tentu bacaan shalawat sebagaimana dalam burdah juga dapat memancarkan gelombang elektromagnetik positif, yang berguna untuk menetralisir dan menangkal energi negatif. Termasuk menetralisir dan menangkal Covid-19 yang diduga mengandung virus yang berbahaya bagi manusia.

Asumsi di atas, dikuatkan juga oleh teorinya David R. Hawkins (Psikiater, dokter, dan guru spiritual). Ia pernah melakukan penelitian tentang energi yang dipancarkan manusia. Hasil penelitiannya, menyimpulkan bahwa gelombang elektromagnetik yang dipancarkan manusia sangat berhubungan dengan kapasitas kesadaran. Untuk menandai perbedaan kapasitas energi dikelompokkan menjadi dua; yaitu kategori Force dan Power. Force berdaya memaksa, sementara Power cendrung berdaya menggerakkan. Urutannya, sebagai tabel di bawah ini:

Pada tabel di atas, orang yang mencapai energi tertinggi orang yang mencapai level “pencerahan”, energinya mencapai antara 700-1000, emosinya tak terlukiskan, kondisinya berada dalam kesadaran murni. Demikian seterusnya hingga ke level berani yang masuk kategori “power/menggerakkan”. Sedangkan dari rasa bangga hingga rasa malu energinya berkisar hanya 20-175 yang energinya masuk kategori “force/memaksa”.

Ternyata rasa cinta levelnya menempati rangking 4 tertinggi. Mungkin saja berdasarkan kategori David R. Hawkins, tradisi burdah keliling yang didalamnhya berisi lantunan bait-bait cinta kepada Nabi Muhammad SAW menjadi energi yang sangat dahsat untuk menetralisir virus Covid-19.

Namun demikian, mengikuti saran dokter agar tetap berhati-hati merupakan ikhtiar wajib diikuti oleh kita dalam menghadapi Covid-19, karena bagaimanapun teori-teori di atas, tetap hanya sebatas teori, karena belum adanya bukti tentang efektifitas dalam menentralisir dan menangkal Covid-19. Wallahu a’lam bi Al-shawaab  

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini