Cara Menghadapi Fitnah Akhir Zaman

Di akhir zaman, berbagai macam cobaan fitnah menimpa umat manusia, khususnya umat Islam. Ibnu Arobi mendifinisikan fitnah sebagai berikut:

الفِتْنَةُ الإِخْتِبَارُ، وَالفِتْنَةُ المِحْنَةُ، وَالفِتْنَةُ المَالُ، وَالفِتْنَةُ الأَوْلاَدُ، وَالفِتْنَةُ الكُفْرُ، وَالفِتْنَةُ اخْتِلاَفُ النَّاسِ بِالآرَاءِ

“Fitnah bermakna ujian, fitnah bermakna cobaan, fitnah bermakna harta, fitnah bermakna anak-anak, fitnah bermakna kekafiran, fitnah bermakna perselisihan pendapat di antara manusia.” (Linasul Arab, Ibnu Mandzur al-Ifriqi, 13/317).

Pada akhir zaman, fitnah terbanyak akan meliputi perselisihan ulama dengan ulama, ulama dengan umaro’, dan umaro’ dengan umaro’. Bilamana ulama berselisih dengan ulama, hal ini masih bisa diharapkan penyelesaiannya karena perselisihan antar ulama bersumber dari dan berakhir dengan ilmu. Yang paling ditakutkan adalah perselisihan antara ulama dan umaro’. Sebab keduanya memiliki sudut pandang yang berbeda. Sehingga kalaupun perselisihan dapat dihentikan, pola penyelesaiannya memakan waktu lama.

Berikut beberapa tips menghadapi fitnah akhir zaman, diantaranya:

1. At-Talaqqi

Yaitu belajar dengan seorang syaikh yang ‘alim, sholeh dan mempunyai sanad ilmu yang jelas, dari guru ke guru, dari ‘alim ke ‘alim, dari syaikh ke syaikh, sampai kepada sumbernya ilmu yaitu Sayyiduna Muhammad صلى الله عليه وسلم.

At-Talaqqi ini tidak boleh didapatkan melalui media-media seperti radio, televisi, internet, media online, dan lain sebagainya. Akan tetapi, At-Talaqqi diperoleh dengan cara kita muwajahah dan musyafahah langsung di depan guru kita. Yang mana bila didapatkan suatu permasalahan agama maka guru kita menjadi tempat kembali untuk bertanya.

Lihatlah bagaimana orang-orang pada zaman dahulu tidak ada yang menggunakan teknologi yang namanya handphone atau smartphone, tetapi menghasilkan banyak ulama besar. Sebagai contoh, Al-Habib Abdullah bin Umar As-Syatiri yang mempunyai 13 ribu murid di zamannya dan semuanya menjadi seorang Mufti.

2. At-Taraqqi

Yaitu peningkatan kualitas diri di hadapan Allah dengan berbagai macam bentuk ketaatan seperti sholat, zikir, tilawah, dan amalan ibadah lainnya. Semakin hari akan semakin meningkat dan semakin baik, bukan sebaliknya yang semakin menurun.

Bagi mereka yang saat ini belum mendapatkan seorang guru atau syeikh yang dapat membimbingnya maka dianjurkan untuk memperbanyak membaca sholawat kepada Sayyidina صلى الله عليه وسلم.

Sholawat kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم merupakan guru bagi orang-orang yang belum mempunyai guru di dalam kehidupannya. Di saat yang bersamaan ia pun mesti berusaha untuk mencari guru bagi dirinya.

Ketahuilah bahwa menimba ilmu agama itu bukan melalui media seperti siaran radio, televisi, atau media online. Boleh kita mengikuti dan menimba ilmu melalui media-media itu asalkan kita mampu menjaga diri dengan benar sehingga tidak terjerumus di dalam faham-faham di luar Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Pastikan media tersebut jelas bersumber dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Namun, perlu diperhatikan belajar ilmu agama melalui media seperti ini bukanlah merupakan bentuk At-Talaqqi. Sifatnya hanya sebagai penambahan saja.

3. At-Tawaqqi

Yaitu menjaga atau penjagaan diri dari berbagai bentuk kemungkaran atau kemaksiatan. Penjagaan diri ini hanya boleh dilakukan apabila sudah melewati At-Talaqqi atau sudah berguru. Kita tidak dapat menjaga diri dan meningkatkan ibadah kalau tidak ada guru.

Dengan tidak mempunyai guru akan memudahkan terkena badai fitnah akhir zaman kerana ia tidak mempunyai panutan atau pegangan di dalam hidupnya yang dapat menuntunnya ke jalan Allah.

Untuk itulah sebagai seorang Muslim perlu untuk mempunyai kekuatan dan hubungan dengan orang-orang soleh yakni para guru dan masyaikh yang jelas sanadnya.

Lalu, bagaimana cara mewujudkan ke-3 tips diatas?

a. Menghidupkan sistem pendidikan terpadu (integrated systems) ke-murobbi-an ke dalam pengajaran dan pendidikan.

Dalam bahasa kita disebut dengan istilah ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso. Dalam hal ini tujuan mencari ilmu tidak boleh lepas dari pengajaran dan suri tauladan guru kepada murid. Murid tidak sekedar menerima ilmu, berlatih berpikir analitis, melainkan juga wajib bermuwajjah dalam dzikir bersama guru. Murid tidak sekedar pintar, tapi juga bisa memecahkan masalah dan berkarya produktif-kreatif. Pendek kata, Iman, Ilmu dan Amal[iyah] satu paket. Tidak boleh dipisah. Dimana sistem ini bisa ditemukan? Hanya di Pesantren.

b. Berhati-hati dengan salah ngaji, salah guru.

Saat ini banyak generasi millenium mengalami hal ini. Satu sisi kita bersyukur banyak generasi millenium tumbuh kesadaran bertauhid. Namun, pada sisi lain, kita juga banyak melihat fenomena Generasi Millenium yang lebih khusyuk duduk talaqqi kepada masyaikh artis hijrah, mengambil sanad ilmu kepada muallaf yang kemarin sore masuk Islam, belajar tafsir kepada politikus krisis dukungan, serta menciumi tangan para motivator rindu order sebagai guru besar dalam belajar ilmu-ilmu keislaman.

Pertanyaannya, apakah sistem pesantren dapat dipercaya, Gus?

Jawabnya, lihat sendiri bukti sejarah! Tokoh-tokoh bangsa zaman revolusi adalah hasil pendidikan pesantren. Beliau-beliau punya karakter, berwawasan internasional (tidak syu’ubiyah/chauvinism, tidak land lock), penuh humor-edukatif (tidak petentang-petenteng merasa benar sendiri dan kaku dalam menghadapi situasi kontradiktif).

***Penulis: Salman Alfarisy (Tang Kancah)

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini