Nama saya Muniri, lahir pada tanggal 17 Pebruari 1981 di Bangkalan, tepatnya di Kampung Kopang Desa Karang Gayam Kecamatan Blega. Saya lahir dari keluarga Petani, dari pasangan M. Khodri dan Rosidah, anak bungsu dari 9 bersaudara. Setelah lulus dari MI Nurul Ulum Kopang, Saya melanjutkan belajar di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Arrahmaniyah (RUA) Pramian Sreseh Sampang. Di pondok tersebut, Saya menyelesaikan studi saya di MTs dan MA Al-Mas’udiyah.
Setelah lulus dari MA Al-Mas’udiyah saya tidak langsung kuliah, tepatnya tahun 2001, saya menjalani tugas Pesantren, yakni mengajar di Pondok Pesantren Al-Ghazali yang terletak di Kampung Kolla Desa Paterongan Kecamatan Galis Kabupaten Bangkalan, di Pondok Pesantren tersebut saya mengajar MI dan MD (Madrasah Diniyah), MI masuk jam 07.00 – 11.00 wib, sedangkan MD masuk jam 13.30 – 16.30, dilanjutkan setelah magrib memberi pengajian kitab adab al-Mar’ah untuk para Ibu-ibu yang rumahnya sekitaran Pondok Pesantren.
Di tempat tugas ini, Saya menggantikan Munajaturrahman. Sebelum boyong, ia sering bolak balik ke tempat tugas. Rupanya, bukunya ketinggalan di laci lemari, berjudul “Peta Pemikiran Karl Marx”, penulisnya Andi Muawiyah Ramli (Sekarang Politisi PKB). Saya merasa tertarik, lantas buku tersebut Saya baca hingga hatam tanpa pamit ke orangnya.
Setelah melewati satu tahun masa tugas mengajar, saya masih kebingungan mau apa selanjutnya, menyadari kondisi ekonomi orang tua, membuat Saya tidak yakin melanjutkan kuliah. Rupanya, Saya sedikit terprovokasi buku peta pemikiran Karl marx, keinginan untuk menjadi mahasiswa aktifis begitu menggebu-gebu, lantas saya memberanikan diri untuk menyampaikan keinginan saya kepada orang tua, butuh 2 hari untuk mendapatkan idzin untuk melanjutkan kuliah.
Sebelum berangkat menuju IAIN Sunan Ampel Surabaya, Saya ke pondok pesantren dulu untuk tabarrukan ke makbarah pendiri Pondok. Saya berangkat bersama teman karib Saya, bernama Zahdi. Sesampainya di kampus, Saya menelpon Imam Syafi’i Hasyim (Saya memanggilnya Imam), teman pondok Saya yang duluan kuliah. Dua hari Saya menginap di kos-kosannya.
Ada pengalaman lucu selama dua hari itu, Saya dan Zahdi tidak lancar berbahasa Jawa, tapi kami paham kalau ada orang berbicara dengan bahasa Jawa. Sewaktu mau beli makan siang, kami bertiga Imam, Zahdi dan Saya bersama, Saya dan Zahdi sengaja agak mundur agar Imam memesan nasi duluan, nanti Saya akan tiru bahasa Jawanya. “Bu’ tumbas ma’em” kata Imam. Ibunya Tanya “ulami nopo?”, “telur penyet mawon, Bu”, jawab Imam. Saya memperhatikan betul kata-kata Imam, rencananya mau Saya tiru, ternyata begitu bagian Saya, lidah terasa kelu yang mau meniru Imam, saat Ibu penjual nasinya, tanya; “nopo, Mas?” Saya hanya mampu jawab memakai bahasa Indonesia; “sama Bu”. Dilalah teman Saya (Zahdi), saat gilirannya ternyata tidak menirukan Imam, justru meniru Saya, dengan hanya menambah satu kata: “sama juga, Bu”.
Saya sudah terdaftar di IAIN Sunan Ampel Surabaya (sekarang UINSA). Kalau tidak salah setengah bulan Saya menunggu pengumuman. Pilihan pertama Saya, Fakultas Syari’ah, pilihan kedua Fakultas Ushuluddin. Ternyata, Saya diterima di fakultas Syari’ah. Setelah aktif kuliah, Saya memilih aktif di organisasi Mahasiswa, dan pernah menjadi ketua PMII Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel. Memilih PMII sebagai tempat menempa sebenarnya atas arahan Senior Saya bernama Affan Efendi (teman pondok Saya), yang tidak mau menyapa Saya kalau tidak memilih menjadi anggota PMII.
Di PMII Fakultas Syari’ah, Saya mengenal senior-senior kondang, Cak Noval Abdi, Kak Bahar, Kak Amir, Kak Salman Alfarisi, Cak Muis, Kak Karim Probolinggo, Cak Anam Nganjuk, Cak Boby Irama (saat itu namanya terdengar akrab karena sering disebut Cak Bahar, belum ketemu karena sedang melanjutkan studi), Cak Ipul Arrisalah (aktifis Partai Golkar), dan lain-lainnya yang tidak bisa Saya sebutkan semuanya. Senior di fakultas lain, Saya mengenal Ada Pak Karl Herman Marx (Fak. Ushuluddin), Kak Ruslan (Fak. Adab), Cak Hadi (Dakwah), Cak Salam (Ushuluddin), Cak Agus (Adab), Cak Imin (Adab), Cak Ali Musthofa (Tarbiyah), dan Cak Habib (Dakwah) dan lain-lain.
Dengan Cak Ipul, Saya mendapatkan warisan pertanyaan lucu. Saat itu sekitar jam 09.00 wib, Saya, Imam, dan Cak Ipul nongkrong di Blok M. Cak Ipul memberikan pertanyaan ke kami berdua; “apa yang akan kamu lakukan, jika mendapatkan uang 1 milyar”. Imam menjawab; “Saya hanya akan mengambil 50%, sisanya akan Saya shadaqahkan”. Giliran Saya menjawab; “Saya akan memperbaiki rumah, membeli mobil, dan buka usaha, sisanya akan Saya shadaqahkan”. Cak Ipul tertawa mendengar jawaban kami berdua, lantas berkata; “ngono ae meddit!!”. Kok gitu, Cak? Tanya kami berdua hampir bersamaan. “Kalau Saya dapat uang 1 milyar, akan Saya shadaqahkan semuanya, Saya nggak akan ngambil sepeserpun”. Kok bisa, Cak? Tanya Saya. “Lah iyo, kan cuman menghayal, nanti kalau habis kan bisa menghayal lagi, ngono ae meddit!”… Kami tertawa bersama…hahaha.
Saat Saya masih S1, Saya mempunyai kesukaan belajar filsafat. Saat itu, Pak Karl Herman Marx salah satu dosen Fakultas Ushuluddin, menyuruh teman saya yang bernama Suwita, agar mencari beberapa mahasiswa Fakultas Syari’ah untuk diberi kursus pengantar filsafat. Kurang lebih 6x pertemuan, kursus berjalan agak lancar, selanjutnya mau pertemuan ke 7, mengalami bubar jalan, karena sudah masuk musim penghujan.
Sealanjutnya, membuat kelompok belajar bersama, yang Saya beri nama “Diaspora”. Kegiatan awal, disepakati kursus filsafat dengan mengundang Cak Muhaimin Samsudin (Cak Imin) sebagai narasumber. Dipilih tempat kegiatan di Garda Bangsa. Sekitar dua jam Cak Imin menjelaskan Filsafat Postmodern, kalau tidak salah Cak Imin membahas tentang proses terbentuknya pengetahuan ala Derrida, menurutnya didahului dengan difrensiasi, selanjutnya terjadilah stigmatisasi, darinya secara tidak langsung melahirkan subtansiasi. Karena prosesnya, seperti demikian, maka pengetahuan yang dianggap benar itu, adalah metafor. Rupanya, kata metafor ini jadi bahan guyonan, setiap ketemu dengan teman-teman yang ikut kursus filsafat dengan cak Imin, sering menyebut kata ‘metafor’…Ah itu metafor!”. Kegiatan kedua, yaitu membedah buku karya Abid Al-Jabiri yang berjudul “Formasi Nalar Arab”. Kegiatan hanya bertahan dua kali pertemuan, beberapa anggota memilih hengkang karena mencurigai kelompok belajar bersama ini didanai asing dan aseng…haha.
Di samping itu juga, Saya aktif di Organisasi Mahasiswa daerah (ORMADA) yaitu Ikatan Mahasiswa Bangkalan (IKAMABA) Surabaya. Menjadi salah satu pengurus di UKPI (Unit Kegiatan Pengembangan Intelektual). Tahun 2006-2007 saya menjadi Ketua III PC PMII Surabaya, bersamaan dengan itu saya harus bolak-balik Bangkalan – Surabaya karena diterima kerja sebagai pendamping Program Aksi Menanggulangi Dampak Kenaikan BBM (PAM-DKB) yang merupakan program Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
PAM DKB memberikan pengalaman tersendiri dalam melakukan pendampingan pada masyarakat terkait dengan kegiatan pengembangan ekonomi mulai dari kegiatan peternakan, UKM sampai pada pembangunan Infrastruktur Desa. Saat sebagai pendamping PAM-DKB saya menempati kantor LeKSDam (Lembaga Kajian Sosial dan Demokrasi), kebetulan ketuanya salah satu senior saya di IKAMABA (Ikatan Mahasiswa Bangkalan) Surabaya.
Tahun 2008, saya lulus kuliah S1 dan aktif di LeKSDam, aktif kurang lebih 1 tahun. Pada tahun yang sama, saya menjadi salah satu Dosen di STAI Al-Hamidiyah Bangkalan (hingga saat ini), merasa keilmuan saya kurang untuk bekal mengajar, pada tahun 2009 saya memilih melanjutkan studi Pasca Sarjana di IAIN Sunan Ampel Surabaya dan berhasil lulus tahun 2011 dengan nilai yang memuaskan.
Kegiatan kedosenan Saya, bersambut dengan kegiatan penelitian sebagai pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, tahun 2015 saya tergabung dalam FKDP (Forum Komunikasi Dosen Peneliti) sebagai kordinator cluster membawahi dosen Perguruan Tinggi Swasta se-Surabaya, Sidoarjo, dan Madura (SUSIMADU). Tergabung dalam FKDP ini, menambah kelimuan saya tentang bagaimana mengamati realitas untuk saya teliti dan petakan untuk dicarikan jalan keluar dari problem-probem yang ada di masyarakat.
Pada tahun 2012, saya dihubungi salah satu senior di PMII, ditawari untuk membentuk kepengurusan Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Kabupaten Bangkalan, dan saya sebagai ketuanya. Mendengar nama KIPP, saya teringat sewaktu masih mahasiswa S1 terlibat menjadi pemantau Pilpres tahun 2004, yang ditugaskan memantau di RS Asrama Haji Surabaya. Senior IKA UINSA yang aktif di KIPP waktu itu Cak Agus Rahman Hakim (Fakultas Adab). Di KIPP ini, Saya berinteraksi dengan mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Wijaya Kusuma (UWK), dan kampus-kampus di Surabaya lainnya.
Semua senior IKA UINSA dan teman-teman sejawat yang telah memberikan inspirasi dan tidak bisa Saya sebutkan satu persatu dalam tulisan ini, terima kasih Saya ucapakan atas semuanya. Mohon maaf jika dulu pernah punya salah.
Banyaknya inspirasi yang Saya dapatkan saat kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya, sedikit banyak mempengaruhi hidup Saya hingga detik ini. Namun, jauh sebelum itu, kedua orang tua Sayalah yang menjadi inspirator pertama dalam hidup saya, dari Ayah Saya, mendapatkan inspirasi untuk hal kejujuran dan keteguhan hati dalam menjalani hidup. Dengan hidup yang bertumpu dari bertani, ia tetap mengajarkan saya sebuah prinsip, dalam bahasa Madura; “Jhe’ ngelemis (jangan bersikap tak tau malu) ben jhe’ lamis” (dan jangan bersikap seperti pengemis). Sikap beliau inilah yang kemudian tertanam dalam benak saya dan menjadi inspirasi saya dalam menjalani amanah yang diberikan kepada saya.
Selain ayah, Ibu saya juga telah menginspirasi kehidupan saya, prinsip hidupnya hampir sama dengan Ayah saya, mengedepankan kejujuran, dan keteguhan hati menjalani hidup. Namun, ada kelebihan Ibu saya walaupun tidak tau baca-tulis, beliau mempunyai kemampuan menejerial yang baik, dan perencana masa depan yang baik pula, serta kemampuan memediasi orang yang sedang bertikai.
Demikian sebagian kesan Saya selama menempuh perkuliahan di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Ingin rasanya menceritakan kesan-kesan dengan semua senior dan teman sejawat, tapi apalah daya tulisan ini hanya dibatasi 1.500 kata. Semoga tulisan ini mewakili Saya, menjadi semacam pengingat bahwa Saya pernah menjadi bagian dari kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya tercinta.

