Emoticon (Tidak) Semena-mena

Ada perbedaan tentang istilah ‘emoticon’ dan ‘emoji’. Emoticon merupakan tulisan tipografi untuk merepresentasikan ekspresi wajah, senyum, menangis, tertawa, sedih, marah, dan semacamnya.

Pengguna emoticon, biasa menggunakannya dalam lingkup pertukaran pesan yang berbasis teks. Artinya ada rangkaian pesan teks yang menentukan kebermaknaan emoticon. Misalnya: 🙂 😀 🙁

Berbeda dengan emoticon. Emoji seringkali berbentuk gambar yang tidak hanya merepresentasikan ekspresi wajah, terkadang makanan, buah-buahan dan sebagainya.

Kalau emoticon khusus untuk menggambarkan emosi berbasis teks dasar, kalau emoji lebih pada barisan karakter yang dipakai dalam sistem operasi Unicode.

Dilihat dari pengertiannya, antara emoticon dan emoji mana yang lebih berpeluang hanya sekedar dianggap teks tanpa makna penyerta, tentu emoji. Kalau emoticon, lebih dekat disebut wacana dengan makna penyerta.

Misalnya, Ketika Anda chtatingan dengan perempuan dalam suasana keakraban yang dalam, tiba-tiba perempuan itu mengirim gambar emoticon dengan tanda ‘love’ di mulutnya, tentu ada makna menggelanyut yang sangat ideologis bukan? Walaupun perempuan itu menyangkal dengan berbuih kata, bahwa tidak ada hubungan antara emoticon yang terkirim dengan ‘perasaanya’.

Menurut Ferdinand De Sausure pakar linguistik menggambarkan makna kata itu bersifat struktural. Kebermaknaan ditentukan oleh rangkaian struktur atau sistem Bahasa.

Analoginya, sistem Bahasa ibarat papan catur. Semua bidak catur, eksistensi maupun kegunaannya sangat bergantung dengan papan catur. Misalnya, bidak ‘Kuda’ hilang, lantas pemain catur menggantinya dengan kerikil, maka kerikil setelah dimasukkan dalam papan catur akan bermakna dan berfungsi sebagai bidak ‘Kuda’.

Namun, aliran linguistik struktural semacam penjelasan di atas mendapat sanggahan karena dianggap terlalu positifistik membaca teks. Menurut penyanggahnya, seringkali teks tidak selaras dengan konteks. Hubungan keduanya seringkali arbitrer (semena-mena).

Fenomena arbitrer dalam wacana, seperti orang mengirim emoticon sedih karena kamu terkena musibah, tapi sebenarnya dia bersyukur sambil senyam-senyum. Atau seperti perempuan yang sedang ‘mengacangimu’, ia mengirim gambar emoticon dengan tanda ‘love’ di mulutnya, lantas kamu mengira dia mencintaimu, padahal dia sedang penelitian ‘efek mengirim emoticon pada lain jenis’…hehe

Alhasil, jika kamu orangnya gampang terpantik, kamu akan mengartikan kiriman emoticon dengan tanda ‘love’ adalah ekspresi cinta dari Si Pengirim, padahal bukan. Asem banget! kan?…haha

Setelah membaca artikel ini, diharapkan kepada pembaca yang mendapatkan krimiman emoticon dengan tanda ‘love’ di mulutnya, jangan percaya ya…

Kamu boleh percaya, jika kamu sudah melakukan verifikasi langsung kepada Si Pengirim. Kalau ketemuan, tatap matanya, jika tatapan matanya tidak konsisten sebenarnya dia telah ‘berbohong’. Kalau matanya berkedip dalam tempo sesingkat-singkatnya, itu berarti dia ‘kelilipan’…haha

*** Penulis: Fanajidu

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini