Etika Ca’ Kanca’an

Tidak sedikit orang yang ca’ kanca’an (menjalin pertemanan) berakhir dengan pertengkaran. Padahal sudah terjalin sangat lama, sudah komitmen setaretanan (persaudaraan) dan susah senang sudah dilalui bersama. Secara akal sehat tak mungkin terpisahkan, nyatanya berakhir juga. Hal ini lumrah terjadi, sama lumrahnya dengan pertemanan yang bertahan hingga tua dan ajal menjemput. Karena hal ini biasa terjadi, maka dalam menyikapinya, cukup biasa-biasa (sabiyasah) saja.

Sikap sabiyasah sangat diperlukan dalam ca’ kanca’an. Agar bisa bijaksana saat beda pandangan. Yang perlu disadari, bahwa seakrab-akrabnya teman, isi otak dan hatinya tetap berbeda. Mungkin saja ada kepentingan yang sama, tapi pasti ada kepentingan berbeda yang sifatnya personal. Maka, perlu terbuka satu sama lain untuk menangkal kesalah pahaman yang berujung perpecahan.

Ada satu kelakar seorang teman yang bisa dijadikan penangkal kesalah pahaman dalam ca’kanca’an, yaitu dengan mengamalkan petuah penyanyi Broery Marantika “jangan ada dusta di antara kita”. Kalau dilihat dari fenomena pertengkaran yang sering terjadi, kebanyakan disebabkan karena kebohongan yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Petuah ini, diharapkan tidak hanya menangkal rusaknya hubungan ca’ kanca’an saja, melainkan juga dalam hubungan bisnis, organisasi, pernikahan dan lain-lain.

Selain harus jujur dalam ca’kanca’an, ada juga yang tak kalah penting, yaitu jhe’ terro de’ reng bini’ settong (Jangan menyukai perempuan yang sama). Dalam film yang berjudul Troy, dikisahkan bahwa peperangan antara kerajaan Troy dan Sparta terjadi karena pangeran Troy yang bernama Paris membawa Helen (Ratu Sparta) secara diam-diam ke Troy. Helen sendiri istri dari Menelaus (Raja Sparta). Kemudian Menelaus, menyuruh saudaranya yang bernama Raja Agamemnon untuk membawa Helen kembali, dan terjadilah peperangan yang mengorbankan banyak nyawa prajurit, dan gugurnya Hector (kakak dari pangeran Paris). Di Madura sendiri, urusan menjadi besar kalau urusan yang satu ini. Agar ca’ kanca’an ingin awet, sebaiknya jangan memperebutkan perempuan yang sama. Reng bini’ bennya’ (perempuan jumlahnya banyak) jangan korbankan ca’ kanca’an untuk urusan perempuan.

Jhe’ nga’ odheng Jhebeh (Jangan seperti udeng jawa). Udeng Jawa atau lebih dikenal blangkon ada bendulnya. Kalau dipakai, maka bendulnya ada di belakang. Ca’ kanca’an tidak boleh hanya tampak baik di depan teman, tapi di belakngan menjelek-jelekkan temannya, tampakkan satu wajah di depan maupun di belakang teman.

Yang terakhir, tang kancah benni tang kebuleh (temanku bukan abdiku). Teman kita mempunyai privasi. Privasi teman perlu dihargai layaknya manusia pada umumnya, jangan hanya karena ada ketergantungan dalam hubungan ca’ kanca’an, kita boleh mengatur semua tentang hidupnya. Jika ada orang yang menyepelekan privasi temannya, dapat dipastikan orang ini hanya ingin didengar ceritanya saja dan tidak akan memperdulikan ceritamu.

Bagaimana sikapmu, pada teman yang seperti itu? Ijtihadlah sendiri…wkwkwkwk

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini