Dalam film serial action, “The Legend Of Condor Heroes”. Diceritakan Gou Jing muda ketika masih berguru pada “7 pendekar” di lembah Mongol kesaktiannya biasa-biasa saja.
Perubahan terjadi pada dirinya, ketika berguru kepada orang sakti, yang bernama “Hong Qi-Hong” (Si Pengemis Utara). Ditambah lagi, mendapat ilmu tambahan dari Kakak angkatnya yaitu Zho Bo Tong (Si Bocah Tua Nakal). Walaupun kesaktiannya melebihi guru-gurunya “7 pendekar”, Gou Jing tetap hormat dan menyayangi mereka.
Ada beberapa orang sakti, yang satu generasi dengan gurunya, Wang Zhongyang (Dewa Pusat), Ouyang Feng (Si Racun Barat) dan Huang Yao Shi (Si Sesat Timur), Kaisar Selatan (Duang Zhixing). Mereka semua bersaing menjadi yang terhebat, gemar berkelahi sekedar beradu kesaktian.
Dari sekian dari mereka, yang jahat adalah Ouyang Feng, ukuran dikatakan jahat karena dia berusaha membunuh lawan ketika bertarung, sementara yang lain hanya sekedar menaklukkan lawan saja.
Orang-orang sakti ini, mempunyai basic kesaktian berbeda yang menjadi ciri jurus khasnya, Wang Zhongyang mempunyai jurus andalan “Totok Satu Jari/Jari Matahari (Ying Yang Zhi) dan Ilmu Barisan Tujuh Bintang Utara”. Huang Yao Shi jurus andalannya “Sentilan Jari, Pedang Pi Kong dan Seruling”. Hong Qi-Hong mempunyai jurus “18 Pukulan Penakluk Naga dan 36 Ilmu Tongkat Pemukul Anjing”. Ouyang Feng ilmu andalannya adalah Ilmu Kodok (Ha Ma Gong), Duan Zhixing ilmu andalannya sama dengan gurunya yaitu Wang Zhongyang.
Mereka semua tangguh dalam bertarung, tentu dengan disiplin kesaktian yang dimiliki. Kekalahan dalam pertarungan, hanya karena kalah siasat dan kalah licik, serta sudah barang tentu kurang beruntung.
Ternyata keberuntungan bergantung pada momentum. Momentum kadang bisa diprediksikan dengan cara memahami sebuah pola, namun ada keberuntungan tak bisa diprediksikan, entah karena kelemahan otak kita dalam memahami pola, atau mungkin “keberuntungan” memang wilayah Tuhan, wallahu a’lamu bil Shawab.
Alhasil, entah momentum bisa diprediksikan maupun tidak, yang penting kita harus bersikap dinamis dalam hidup, dan perlu mempunyai ciri khas keilmuan, sebagaimana orang-orang sakti yang disebutkan di atas.
Dalam film The Legend Of Condor Heroes ini, “Goujing” mewakili tampilan orang baik, tapi blo’on dan polos. Berbeda dengan saudaranya, yaitu Yang Kang yang pintar, tapi sombong dan licik.
Sebenarnya mereka berdua bukan saudara asli, hanya saja Ayah Goujing dan Yang Kang berikrar menjadi saudara angkat, sesama pejuang dimasanya.
Keblo’onan Goujing ternyata membawa berkah tersendiri, dicintai seorang perempuan (Young Er) putri dari Pendekar ternama Huang Yao Shi (Si Sesat Timur), dan membantunya merayu Hong Qi-Hong agar bersedia mengangkat Gou Jing sebagai murid.
Awalnya, Hong Qi-Hong menolak, tapi kelemahannya diketahui oleh Young Er, dia dipancing dengan makanan enak, singkat cerita Gou Jing diangkat menjadi muridnya dengan disogo’ makanan enak.
Gou Jing lama banget nyantolnya, belajar jurus pertama susah menguasainya. Tapi, ia tidak gampang menyerah, siang dan malam hanya belajar dan belajar, pada akhirnya dikuasailah beberapa jurus, setelah itu ditinggal pergi oleh Gurunya.
Untuk masalah attitude, Gou Jing luar biasa sekali. Selalu tekun belajar, menghargai orang lain, hormat, dan sayang kepada guru-gurunya. Attitude yang dimiliki inilah, suatu hari mengantarkan langkahnya ke beberapa keberuntungan-keberuntungan yang menyertai hidupnya.
Pendekar-pendekar ternama kalangan putih bersedia menurunkan ilmunya. Hong Qi-Hong sendiri, Zho Bo Tong, dan Duang Zhixing (Kaisar Selatan). Hanya satu yang tidak begitu suka dengannya, Huang Yao shi Ayah mertuanya sendiri. Ketidak sukaannya karena Gou Jing memegang pakem hitam-putih dalam hal kebenaran, dan itu bertentangan dengan cara pandang Huang Yao Shi yang sudah keluar dari pakem hitam-putih untuk masalah kebenaran.
Namun, dari prilaku Gou Jing, bisa diambil sebuah pelajaran, bahwa orang yang selalu menebarkan kebaikan, pasti bertemu dengan kebaikan-kebaikan dari orang lain. Dan Gou Jing, selalu mendapatkan kebaikan dari pendekar-pendekar ternama dari aliran putih.
Sementara Yang Kang, yang selalu menebar kebencian, mendapatkan Guru yang serupa dengannya, yakni pendekar dari aliran hitam. Dia pernah menjadi murid Perempuan Iblis dan juga Ouyang Feng (Si Racun Barat).
Dari film ini, ada penjelasan tentang kerja alam semesta yang sepertinya mengikuti hukum tarik-menarik (Law of Attraction). Orang baik bertemu dengan orang baik, orang jahat bertemu dengan orang jahat. Tapi, walaupun hukum tarik-menarik bekerja menentukan apa yang terjadi, kita harus ingat bahwa ada hukum yang lebih tinggi yaitu “Hukum Ketidakpastian”.
Film lanjutan dari ‘The Legend Of Condor Heroes’ yang berjudul ‘Return of The Condor Heroes’ lebih menggambarkan tentang masa depan seseorang yang tidak pasti. Di film ini, kita bisa mempelajari tentang “Hukum Ketidakpastian”.
Dipenghujung hidupnya Yang Kang bertobat, dan menemani istrinya yang sudah melahirkan seorang anak. Anak tersebut diberi nama Yo Ko (Yang Guo), dikemudian hari Yo Ko menjadi Pendekar ternama, lebih sakti dari Guo Jing (Kwe Ceng) pamannya, bahkan sepadan dengan kesaktian Huang Yao Shi (Si sesat timur) yang pernah mengarahkan kemampuannya.
Yo Ko kecil sangat nakal sekali, tapi Kwee Ceng tetap menyayanginya. Agar tidak mengikuti jejak Ayahnya, dia di mondokkan di perguruan, tapi ternyata dia sering menjadi korban bully salah satu kakak seniornya, hingga suatu ketika ia harus pergi. Dan singkat cerita Yo Ko bertemu dengan Siauw Liong Lie (Gadis Naga Kecil), atau biasa dipanggil Bibi Lung, ia mengajari Yo Ko, dan dikemudian hari menjadi kekasihnya.
Yo Ko kecil, sebelum dimondokkan pernah bertemu dengan salah satu Pendekar ternama, dan mengangkatnya menjadi anak, diajari jurus katak andalannya, dia adalah Ouyang Feng (Si Racun Barat) yang sedang hilang ingatan. Yo Ko tidak tau kalau dialah yang membunuh Ayahnya.
Saat Yo Ko dewasa, ia kembali menemui Pamannya, dia tidak disukai oleh putri Pamannya (Guo Fu). Singkat cerita Guo Fu marah kepada Yo Ko, karena dia merasa cintanya dipermainkan, ketika dalam keadaan lengah, tangan Yo Ko ditebas, yang mengakibatkan tangannya terputus.
Dalam keadaan terluka Yo Ko kabur, dan ditolong oleh Burung Rajawali Sakti, atas dampingannya dia berhasil meningkatkan tenaga dalamnya, dan menjadi Pendekar yang diperhitungkan dalam dunia persilatan, lebih-lebih oleh musuh bebuyutannya yakni “Hakim Roda Emas” (Jinlun Fawang).
Ada beberapa pelajaran di film serial action “Return of The Condor Heroes” ini, hubungannya dengan “hukum ketidakpastian”, antara lain:
- Yo Ko menjadi murid sekaligus anak angkat Ouyang Feng, pembunuh Ayahnya.
- Pertemuannya dengan Siauw Liong Lie, yang menjadikannya murid, hingga akhirnya muncul rasa cinta, dan menjadi sepasang kekasih yang ditentang oleh masyarakat banyak, termasuk pamannya sendiri. Hanya satu orang yang mendukungnya, yaitu Huang Yao Shi, itu karena Yo Ko sesuai dengan cara pandangnya, bertindak keluar dari pakem hitam-putih tentang kebenaran.
- Hilangnya salah satu lengan Yo Ko, justru menjadi penghantar baginya menjadi Pendekar Sakti pilih tanding.
Dua film ini menjadi gambaran dua hukum kehidupan, mengamini hukum tarik-menarik di satu sisi dan mengamini hukum ketidakpastian di sisi lain. Hukum tarik-menarik berada dalam wilayah “usaha manusia” yang mutlak dianugerahi “free will“. Sementara hukum ketidak pastian, merupakan wilayah “Yang Maha Kuasa”. Keduanya tidak berhadap-hadapan, melainkan saling melengkapi. Akan lebih luar biasa efeknya, jika keduanya dipadukan, tentu akan lebih luar biasa. Wallahu a’lamu bil Shawaab

